Harian Le Temps (Swiss) melaporkan bahwa armada terbesar yang pernah diorganisasi untuk menembus blokade Gaza mulai berlayar pada Minggu (31/8) dari Barcelona. Armada ini digagas oleh para aktivis senior pro-Palestina, dengan tujuan membawa solidaritas internasional sekaligus menantang pengepungan Israel atas Jalur Gaza.
Dalam laporannya dari Madrid, jurnalis François Musseau menulis bahwa upaya menembus blokade Gaza selalu menjadi obsesi banyak pihak, termasuk Saif Abu Keshk, aktivis Palestina berkewarganegaraan Spanyol—yang kini berharap misi kali ini bisa berhasil.
Meski sejarah menunjukkan semua upaya sebelumnya gagal akibat intervensi Israel, sebanyak 40 kapal dijadwalkan berangkat dari Barcelona. Armada itu akan diperkuat kapal-kapal tambahan dari Tunisia dan sejumlah pelabuhan lain pada 4 September mendatang, sebelum bertemu di lepas pantai Gaza,kecuali bila dihalangi angkatan laut Israel.
“Ini akan menjadi misi solidaritas terbesar dalam sejarah,” kata Abu Keshk kepada Le Temps. Menurutnya, ratusan penumpang bakal ikut serta, termasuk aktivis lingkungan Greta Thunberg, aktris Susan Sarandon, serta sejumlah tokoh politik lokal seperti mantan Wali Kota Barcelona, Ada Colau.
Komitmen Global
Menurut laporan itu, peserta datang dari 44 negara—mulai dari Spanyol, Italia, Yunani, hingga Maroko. Panitia menyebut lebih dari 28 ribu orang mendaftarkan diri untuk ikut dalam armada yang dinamai “Ash-Shumud” (Keteguhan), sebuah istilah yang dipakai rakyat Palestina untuk menggambarkan ketahanan menghadapi penindasan.
“Seperti banyak orang lain, saya pernah ditangkap, disiksa, dan tak mendapat perlindungan dari kedutaan Spanyol. Kami mungkin belum berhasil masuk Gaza, tapi kami berhasil menyuarakan penderitaan rakyat dan menarik dukungan tanpa batas,” ujar Abu Keshk.
Ide armada ini lahir saat ia bertemu aktivis Brasil, Tiago Avila, di Mesir. Keduanya sebelumnya ikut berlayar dengan kapal Madeleine pada Juni lalu bersama Greta Thunberg dan aktivis lainnya. “Kami telah mengumpulkan dukungan luas, sehingga kali ini peluang membuka jalur kemanusiaan lebih besar,” kata Avila.
Barcelona dipilih sebagai titik awal bukan tanpa alasan: kota ini dikenal sebagai salah satu basis solidaritas Palestina terkuat di Eropa. Sebagian besar partai politik di Katalonia dikenal keras mengutuk Israel, sementara gerakan pro-Gaza di Spanyol kian masif setelah Perdana Menteri Pedro Sánchez secara resmi mengakui negara Palestina pada Mei 2024.
Akankah Berhasil?
Pertanyaan terbesar, menurut Le Temps, adalah apakah Armada Ash-Shumud mampu menembus blokade. Semua misi serupa dari Turki, Yunani, dan Swedia pada 2010–2015 gagal total. Bahkan, tiga upaya sejak awal tahun ini juga digagalkan Israel.
Namun, dengan skala yang jauh lebih besar, peluang kali ini dinilai lebih besar pula. “Dengan jumlah kapal dan penumpang yang begitu banyak, akan sulit bagi Israel untuk menaiki semuanya, kecuali mereka memutuskan untuk mengebom,” kata seorang pakar keamanan maritim yang enggan disebutkan namanya.
Meski mungkin tidak sampai ke Gaza, setiap armada solidaritas selalu sukses menyuarakan penderitaan rakyat Palestina yang terkepung darat, laut, dan udara. Kini, momentum semakin mendesak: pekan lalu, PBB untuk pertama kalinya secara resmi menyatakan famine (kelaparan massal) melanda Gaza—kasus pertama yang diumumkan di Timur Tengah.
Dalam pernyataan bersama, WHO, UNICEF, Program Pangan Dunia (WFP), dan FAO menegaskan bahwa lebih dari 500 ribu warga Gaza kini terjebak dalam kondisi kelaparan akut.
Sumber: Le Temps (Swiss)