Gaza akan kehabisan pasokan bahan bakar yang terbatas dalam waktu cepat dan serta stok bahan makanan pokok setelah Israel memblokir pintu masuk perbatasan dengan alasan perang dengan Iran.

Militer Israel menutup semua aksesk ke Gaza pada Sabtu (28/2/2026) setelah mengumumkan serangan udara terhadap Iran yang dilakukan bersama dengan Amerika Serikat. Otoritas Israel mengatakan, pintu masuk tersebut tidak dapat dioperasikan dengan aman selama perang dan belum mengatakan berapa lama akses penyeberangan tersebut akan ditutup.

Gaza sepenuhnya bergantung pada bahan bakar yang dibawa oleh truk dari Israel dan Mesir. Kekurangan pasokan baru akan membahayakan operasi rumah sakit dan mengancam layanan air dan sanitasi, kata para pejabat setempat. Sebagian besar warga Palestina di Gaza adalah pengungsi internal setelah agresi Israel selama dua tahun.

“Saya memperkirakan kami mungkin memiliki waktu bertahan beberapa hari,” kata Karuna Herrmann, direktur Kantor Layanan Proyek PBB (UNOPS) di Yerusalem, yang mengelola distribusi bahan bakar di Gaza.

Amjad Al-Shawa, seorang pemimpin bantuan Palestina di Gaza, yang bekerja dengan PBB dan LSM, memperkirakan pasokan bahan bakar dapat bertahan tiga atau empat hari. Adapun stok sayuran, tepung, dan kebutuhan pokok lainnya juga dapat segera habis jika penyeberangan tetap ditutup.

Badan militer Israel COGAT, yang mengontrol akses ke Gaza, mengeklaim Gaza telah mendapatkan cukup pasokan makanan untuk memenuhi kebutuhan penduduk sejak dimulainya gencatan senjata pada Oktober lalu.

“Persediaan yang ada diperkirakan cukup untuk jangka waktu yang lama,” kata COGAT, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Mereka menolak berkomentar tentang potensi kekurangan bahan bakar.

Gencatan senjata itu merupakan bagian dari rencana yang lebih luas yang didukung AS untuk mengakhiri perang. Gencatan senjata ini membuka kembali penyeberangan perbatasan Rafah dengan Mesir, meningkatkan aliran bantuan ke wilayah tersebut, dan rencana pembangunan kembali wilayah Gaza.

Hamada Abu Laila, seorang pengungsi Palestina di Gaza, mengatakan penutupan tersebut memicu ketakutan akan kembalinya kelaparan, yang melanda sebagian wilayah tersebut tahun lalu setelah Israel memblokir pengiriman bantuan selama 11 pekan.

“Mengapa ini menjadi kesalahan kami, di Gaza, dengan perang regional antara Israel, Iran, dan Amerika? Ini bukan kesalahan kami,” kata Abu Laila.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here