Di langit Jalur Gaza, dengung pesawat nirawak Israel tak lagi sekadar latar bunyi yang lalu-lalang. Ia telah berubah menjadi judul harian kehidupan, menggantungkan warga di antara cemas dan waspada.
Warga Palestina menyebutnya “zanana”, dari bunyi tajam yang menembus sunyi, terutama pada malam hari ketika suara jalanan meredup dan dengung itu justru mengeras di atas rumah-rumah dan tenda pengungsian. Drone-drone itu nyaris berputar tanpa henti, di masa perang maupun jeda, menjalankan misi pengawasan dan pengumpulan data.
Namun, kehadirannya telah melampaui fungsi militer. Di kesadaran kolektif, “zanana” menjelma simbol kontrol dan mata yang tak pernah terpejam, penanda psikologis bahwa serangan bisa datang kapan saja. Bahkan tanpa ledakan, suaranya cukup untuk menahan warga dalam siaga berkepanjangan.
Hidup di Bawah Dengung
Di Kamp Shati, Gaza barat, Umm Khaled Miqdad (42) menunjuk ke langit. “Kami mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya pesawat. Tapi suaranya masuk ke setiap sudut rumah, membangunkan anak-anak,” katanya. Pada malam hari, dengung terasa lebih kejam.
“Semua sunyi, dan ia seperti berputar tepat di atas kepala kami. Bahkan setelah gencatan senjata, kami tak pernah merasa perang benar-benar usai. Zanana tak pernah pergi.”
Anak-anak, lanjutnya, kini mengaitkan bunyi itu dengan kematian. “Setiap dengung mengeras, mereka lari ke sudut tenda, bersembunyi, seolah bom akan jatuh saat itu juga.”
Di Kamp Nuseirat, Mahmoud Al-Shafai (31) mengaku telah “terbiasa” mendengarnya, namun tak pernah benar-benar tahan. “Ia bagian dari hari-hari kami, tapi terus menggerogoti saraf. Saya bekerja dari rumah, sering tak bisa fokus. Rasanya seperti ada mata yang terus mengawasi.” Ketika suara itu mendadak hilang, ketakutan justru berlipat. “Seolah ada sesuatu yang lebih besar akan terjadi.”
Dengung yang Mengalahkan Pelajaran
Guru Samar Abu Ouda (35), yang membuka pusat belajar sederhana dengan upaya pribadi, mengatakan dampaknya merambat hingga ruang kelas. “Kadang kami harus meninggikan suara saat mengajar karena dengung itu. Anak-anak bertanya, kenapa ia tak pernah berhenti?”
Ia mendapati banyak murid menggambar drone di buku mereka, bahkan pada tema yang tak berkaitan dengan perang. “Seorang anak menggambar rumah dengan pesawat besar di atasnya. Ketika saya tanya mengapa, ia menjawab: karena ia selalu di atas rumah kami.” Bagi Samar, gambar-gambar itu adalah cermin: drone bukan lagi peristiwa, melainkan latar tetap dalam imajinasi anak-anak.
Lebih dari Sekadar Bising
Laporan-laporan hak asasi dan pemantauan lapangan menunjukkan, suara drone yang terus-menerus menciptakan kecemasan permanen. Dengung yang tak terduga memaksa sistem saraf tetap siaga, memanggil kembali ingatan serangan lama meski tak ada eskalasi baru.
Pakar psikologi komunitas, Abdullah Al-Khatib, menilai dampaknya bukan hanya pada kemungkinan bom yang menyusul, melainkan pada bunyi itu sendiri sebagai tekanan mental. “Manusia membutuhkan jeda hening untuk memulihkan keseimbangan psikis. Di Gaza, keheningan itu nyaris tak ada,” ujarnya.
Ketika suara dikaitkan dengan pengalaman kehilangan, ia berubah menjadi pemicu trauma, cukup didengar untuk menghadirkan ulang adegan menyakitkan, terutama bagi anak-anak dan para penyintas.
Ia memperingatkan risiko jangka panjang: gangguan tidur kronis, kecemasan umum, hiperwaspada, hingga masalah perilaku pada anak. “Dengung drone bukan sekadar kebisingan. Ia pesan berulang yang menjaga masyarakat dalam ketegangan kolektif.”
Sumber: Palestinian Information Center










