KOTA GAZA – Menjelang puncak musim panas, Jalur Gaza sedang menghadapi kiamat hidrologis. Dua juta jiwa warga kini berdiri di hadapan salah satu krisis keamanan air paling mematikan di kawasan. Masalahnya bukan sekadar kelangkaan, melainkan fakta bahwa air yang tersedia pun (jika beruntung bisa didapatkan) sudah terpapar polusi berat yang tidak layak bagi metabolisme manusia.
Data dari UNICEF memberikan gambaran yang mengerikan: lebih dari 90 persen air di Gaza tidak layak konsumsi. Kadar salinitas (keasinan) yang tinggi bercampur dengan rembesan limbah mentah akibat hancurnya sistem sanitasi. Kondisi ini diperparah oleh eksploitasi kronis terhadap akuifer (cadangan air tanah) yang kini sudah berada di titik nadir.
Senjata Penghancur Infrastruktur
Kehancuran sistem air Gaza adalah dampak langsung dari perang yang melumat jaringan distribusi, stasiun pompa, hingga pabrik desalinasi. Berdasarkan laporan bersama Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Bank Dunia, infrastruktur air di Gaza mengalami “keruntuhan total”. Kapasitas operasional sektor air telah merosot ke level kritis, mengubah akses air dari layanan dasar menjadi elemen darurat yang sulit didapat.
Statistik Haus: 1,5 Liter untuk Bertahan Hidup
Sebelum perang, rata-rata konsumsi air warga Gaza berkisar antara 80 hingga 85 liter per orang per hari untuk seluruh kebutuhan domestik. Angka itu sudah tergolong rendah, namun kini situasinya berubah menjadi tragedi.
Di banyak wilayah, jatah air harian merosot tajam menjadi hanya 3 hingga 5 liter saja. Di Gaza Utara, situasinya lebih parah; warga seringkali hanya mendapatkan 5,7 liter untuk segala urusan. Bahkan, di titik-titik pengungsian paling padat, konsumsi air jatuh ke angka 1,5 hingga 2 liter per hari—angka yang nyaris mustahil untuk menjaga sanitasi dasar manusia.
Dapur Data: Runtuhnya Kedaulatan Air Gaza (April 2026)
| Indikator | Kondisi Pra-Perang | Realitas Saat Ini |
| Konsumsi Harian per Kapita | 80 – 85 Liter | 1,5 – 5 Liter |
| Kelayakan Air Minum | Terbatas (Mayoritas olahan) | 96% Akuifer Tercemar & Asin |
| Status Infrastruktur | Berfungsi Terbatas | Runtuh Total / Rusak Berat |
| Akses Aman | Relatif tersedia melalui truk/pipa | 90% warga tak punya akses aman |
Bisnis di Atas Penderitaan
Musim panas berarti permintaan naik, namun pasokan justru menghilang. Abu Muhammad (50), seorang pengungsi di kamp darurat, menyebut air yang sampai ke mereka tidak jelas kualitasnya. “Tapi kami tidak punya pilihan lain,” ujarnya.
Kondisi ini menciptakan pasar gelap air. Warga terpaksa membeli air dari tangki keliling atau stasiun desalinasi swasta dengan harga selangit. Bagi keluarga yang sudah kehilangan sumber pendapatan, membeli air bersih berarti memangkas jatah makan. Air kini menjadi beban ekonomi yang mencekik di tengah kemiskinan akut.
Epidemi dalam Gelas
Dampak paling nyata dari krisis ini terlihat di bangsal-bangsal darurat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa kombinasi air tercemar dan suhu tinggi adalah resep sempurna bagi penyakit bawaan air (water-borne diseases).
Para dokter di Gaza melaporkan lonjakan kasus diare akut dan dehidrasi, terutama pada anak-anak. Tanpa air bersih untuk mencuci tangan atau membersihkan makanan, infeksi usus menjadi epidemi harian yang tak terhindarkan. Anak-anak di Gaza tidak hanya berisiko terkena serpihan rudal, tapi juga perlahan-lahan diracuni oleh air yang mereka minum.










