KHAN YOUNIS – Sebuah dentuman keras kembali memecah fajar di Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan, Sabtu (6/6/2026). Selembar tenda plastik yang menjadi tempat bernaung terakhir satu keluarga pengungsi robek menjadi puing setelah dihantam rudal Israel. Laporan dari lapangan mengonfirmasi satu warga Palestina tewas seketika, sementara dua lainnya luka parah.
Serangan fajar ini bukan insiden tunggal. Di saat yang sama, militer Israel melancarkan eskalasi masif di berbagai sudut Gaza. Artileri berat Israel membombardir wilayah timur Khan Younis secara membabi buta. Di langit, suara berdengung dari pesawat tanpa awak (drone) jenis Quadcopter berputar-putar rendah, melepaskan tembakan rentetan ke arah permukiman warga di sisi selatan kota.
Malam sebelumnya, langit di atas Kota Bani Suhaila sempat benderang akibat hujan bom suar (flare) yang dilepaskan jet tempur Israel, disusul dentuman meriam yang tak berkesudahan. Di tengah Gaza, Kamp Al-Bureij juga tak luput dari sasaran tembak. Rentetan serangan ini memperpanjang daftar pelanggaran komitmen gencatan senjata yang terus dilakukan Israel lewat aksi infiltrasi darat dan serangan udara yang tak kunjung surut.
Tragedi saban hari ini mengerek angka korban jiwa ke tingkat yang semakin mengerikan. Sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023 hingga awal Juni 2026, jumlah korban syahid di Gaza telah menyentuh angka 72.956 jiwa, sementara korban luka-luka melesat hingga 173.043 orang.
Hitungan Genosida: Satu Nyawa Melayang Tiap Enam Jam
Merespons brutalnya situasi di lapangan, Pusat Hak Asasi Manusia Gaza mengeluarkan pernyataan resmi yang sangat menohok. Berdasarkan investigasi dan dokumentasi mereka sepanjang lima bulan pertama tahun 2026, apa yang terjadi di Gaza bukan lagi sekadar operasi militer biasa, melainkan sebuah gerakan genosida sistematis yang sengaja mengaburkan batas antara warga sipil dan kombatan.
Angka-angka yang dirilis lembaga tersebut sangat mencengangkan sekaligus menyayat hati. Dalam kurun waktu 155 hari (sejak 1 Januari hingga 5 Juni 2026), tercatat 534 warga Gaza syahid.
Jika dirata-rata secara matematis, artinya ada 7 orang yang gugur setiap 48 jam, atau setara dengan satu nyawa melayang setiap enam jam sekali. Di sisi lain, angka korban luka-luka harian mencapai 12 orang setiap harinya.
Lembaga HAM tersebut menegaskan bahwa genosida ini bekerja dalam banyak rupa: lewat peluru, pengusiran paksa, hingga pembiaran kelaparan. Salah satu bukti teranyar adalah pembongkaran empat apartemen hunian pada Kamis dini hari lalu. Serangan mendadak saat warga terlelap itu menewaskan 10 orang seketika (termasuk empat perempuan dan seorang anak-anak) serta melukai puluhan lainnya.
Nyawa Rakyat sebagai Alat Nilai Tawar
Namun, ada aspek lain yang jauh lebih sinis di balik bau mesiu ini. Lembaga HAM Gaza menggarisbawahi bahwa momentum eskalasi militer ini sengaja dinaikkan tepat sebelum dimulainya putaran negosiasi baru antara faksi-faksi Palestina dan pihak mediator internasional.
Perundingan tersebut sebenarnya dijadwalkan untuk membahas pemulihan kesepakatan gencatan senjata yang terus dirobek Israel sejak pertama kali disepakati pada 10 Oktober tahun lalu.
Melihat polanya, para aktivis kemanusiaan menilai Israel sengaja memanfaatkan mesin pembunuhnya untuk mendongkrak angka korban sipil. Strategi berdarah ini diduga kuat sengaja dipakai sebagai alat pemerasan politik guna menekan para perunding Palestina agar mau memberikan konsesi dan tunduk pada kemauan Tel Aviv di meja runding.
Lembaga HAM Gaza mendesak badan-badan PBB dan komunitas internasional untuk segera menghentikan diplomasi pasif mereka. Mereka menuntut intervensi fisik segera di lapangan guna menghentikan agresi, membentuk tim pengawas independen yang objektif, serta menyeret para arsitek serangan ini ke pengadilan atas pelanggaran nyata terhadap Hukum Humaniter Internasional dan Konvensi Jenewa.
Kini, bagi ratusan ribu warga Gaza yang tersisa, setiap detak jam dinding terasa seperti dadu kematian. Di antara tenda yang bolong dan meja perundingan yang alot di luar negeri, mereka dipaksa bertahan menghadapi kenyataan pahit: bahwa nyawa mereka hari ini tak lebih dari sekadar angka komoditas barter politik.









