KOTA GAZA – Di Gaza, kata “pengangguran” kini terasa terlalu sopan untuk menggambarkan kehancuran yang terjadi. Yang sedang berlangsung bukan sekadar macetnya roda ekonomi, melainkan penghapusan sistematis atas ruang kerja bagi satu generasi penuh. Di sini, kemiskinan bukan lagi statistik, melainkan identitas kolektif yang dipaksakan.

Laporan terbaru dari Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) memaparkan angka yang di luar nalar: ekonomi Gaza lumat hingga 83 persen sepanjang tahun 2024. Angka pengangguran melonjak ke kisaran 80 persen (salah satu yang tertinggi di dunia) memaksa hampir seluruh penduduknya terjun bebas ke bawah garis kemiskinan.

Sarjana di Balik Reruntuhan

Mohammed (27), lulusan teknik dari Universitas Islam Gaza, adalah potret dari anomali ini. Gelar sarjana yang ia perjuangkan kini hanya seonggok kertas di atas meja yang berdebu. “Perusahaan tempat kami bermimpi untuk bekerja sudah hancur atau digembok karena perang,” ujarnya kepada koresponden lapangan.

Mohammed tidak kehilangan kualifikasi; ia kehilangan tempat untuk menerapkan ilmunya. Ini adalah “pengangguran paksa kolektif”. Perang tidak hanya merampas gaji harian, tetapi merusak struktur ekonomi yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dibangun kembali. Sekitar 70 persen bangunan dan fasilitas produksi, termasuk pabrik-pabrik manufaktur, telah rusak berat atau rata dengan tanah.

Masa Depan yang Terhenti

Bagi mereka yang bekerja di sektor informal, situasinya setali tiga uang. Islam (24), seorang perajin furnitur, kini hanya bisa menatap tangannya yang menganggur. Dulu, ia adalah tulang punggung keluarga. Sekarang, tanpa kayu, paku, dan bengkel yang utuh, ia adalah beban bagi sistem bantuan kemanusiaan yang juga sedang sekarat.

Ketakutan terbesar bukan terletak pada perut yang lapar, melainkan pada psikologi yang hancur. Aya, seorang sarjana matematika, merangkumnya dengan dingin: “Masalahnya bukan lagi mencari kerja, tapi perasaan bahwa masa depan itu sendiri telah berhenti. Itu jauh lebih menyakitkan daripada menganggur.”

Dapur Data: Estimasi Keruntuhan Ekonomi Gaza (Update 2026)

Indikator EkonomiPra-Perang (Estimasi)Realitas Saat Ini
Pertumbuhan EkonomiStagnan (Blokade)Kontraksi 83% (Collapse)
Tingkat Pengangguran± 45%± 80%
Angka Kemiskinan± 64%> 74% (Kemiskinan Total)
Kehilangan Lapangan Kerja> 200.000 Posisi
Kerusakan Fasilitas Produksi70% Bangunan Komersial/Industri

Anatomi “Generasi Tanpa Peluang”

Bank Dunia mencatat bahwa lebih dari 200.000 pekerjaan hilang dalam sekejap di Gaza saja. Program Pembangunan PBB (UNDP) memproyeksikan tingkat kemiskinan di seluruh wilayah Palestina akan menembus angka 74 persen. Namun, angka-angka ini sering kali gagal menangkap realitas sosiologis di lapangan: ketergantungan mutlak pada bantuan kemanusiaan telah mengubah warga dari produsen menjadi penerima pasif.

Pakar ekonomi yang memantau wilayah ini menegaskan bahwa pasar tenaga kerja Gaza tidak akan bisa pulih dalam waktu dekat. Tanpa masuknya material bangunan dan pemulihan energi listrik secara masif, ribuan bengkel dan kantor akan tetap menjadi kuburan bagi ambisi anak muda Gaza.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here