YERUSALEM – Di balik tembok kota tua yang kokoh, Al-Quds sedang menghadapi fase paling kritis dalam sejarah pendudukan modernnya. Jika di Gaza militer Israel menggunakan daya hancur total, di Al-Quds mereka menggunakan “politik mikro”, serangkaian tindakan kecil yang repetitif: penggerebekan rutin, pelarangan akses jamaah, hingga intimidasi terhadap penjaga masjid.

Secara terpisah, peristiwa ini tampak seperti insiden keamanan biasa. Namun, secara kolektif, ini adalah upaya terstruktur untuk menciptakan status quo baru: normalisasi kehadiran pemukim di jantung situs tersuci ketiga umat Islam.

Data yang Berbicara: Lonjakan Agresi

Laporan statistik sepanjang tahun 2025 memaparkan tren yang mencemaskan. Sebanyak 73.721 pemukim Yahudi tercatat menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa. Angka ini melonjak tajam sebesar 26,8% dibandingkan tahun 2024 yang mencatatkan 58.149 orang.

Peningkatan ini bukan kebetulan. Pakar urusan Al-Quds, Hassan Khater, menyebutnya sebagai bagian dari “proyek integrasi” yang bertujuan mengubah identitas tempat suci tersebut. Strateginya jelas: mulai dari masuknya kelompok kecil, berkembang menjadi ritual keagamaan publik, hingga akhirnya menuntut pembagian waktu dan ruang antara Muslim dan Yahudi, sebuah pola yang pernah sukses mereka terapkan di Masjid Ibrahimi, Hebron.

Senjata Birowisata: Dari Pengusiran hingga Jeruji Besi

Untuk mengamankan proyek pengambilalihan ini, Israel menggunakan instrumen hukum militer sebagai sapu pembersih. Sepanjang tahun 2025, otoritas pendudukan mengeluarkan 263 perintah pengusiran (deportation orders), di mana 159 di antaranya adalah larangan memasuki kompleks Al-Aqsa bagi warga Palestina.

Tak hanya itu, gelombang penangkapan massal dijadikan alat untuk mematahkan mentalitas perlawanan. Di tahun yang sama, 892 warga Al-Quds ditangkap, termasuk 105 anak-anak dan 51 perempuan. Jika ditarik garis sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023, total warga yang diseret ke penjara telah melampaui 3.149 orang. Ini bukan sekadar penegakan hukum; ini adalah upaya mengosongkan kota dari para penjaganya (Murabitin).

Dapur Data: Statistik Pendudukan Al-Quds (Update 2025)

Indikator AgresiStatistik Tahun 2025Pertumbuhan / Catatan
Jumlah Penyerbu (Pemukim)73.721 OrangNaik 26,8% dari 2024.
Warga yang Ditangkap892 OrangTermasuk 105 anak & 51 wanita.
Perintah Pengusiran263 Kasus159 kasus spesifik dilarang ke Al-Aqsa.
Total Tangkapan (Sejak 2023)3.149 OrangFokus pada aktivis dan pemuda.

Di Luar Tembok: Pengepungan Sosiologis

Perang memperebutkan Yerusalem juga terjadi di jalanan Silwan, Sheikh Jarrah, dan Jabal al-Mukaber. Di sana, Israel menjalankan kebijakan “pengeringan” kehadiran Palestina melalui penghancuran rumah, pencabutan izin tinggal, dan tekanan ekonomi. Tujuannya satu: memperkecil demografi Palestina dan melingkari kota dengan sabuk pemukiman Yahudi yang tak terputus.

Anomali paling nyata terlihat pada perlakuan aparat. Sementara pemukim Yahudi diberikan pengawalan ketat dan fasilitas untuk melakukan ritual, warga Palestina justru dihadang oleh barikade, pemeriksaan identitas yang berlapis, hingga kekerasan fisik di gerbang-gerbang masjid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here