Wakil Ketua Knesset, Limor Son Har-Melech, menegaskan kembali ambisi sayap kanan ekstrem, tak ada keamanan bagi Israel tanpa pendudukan total dan pengusiran warga Palestina. Sebuah retorika yang kian memanaskan tensi di tengah rapuhnya gencatan senjata.

Limor Son Har-Melech tidak sedang berbasa-basi. Di tengah embusan angin di perbatasan Jalur Gaza, Wakil Ketua Parlemen Israel (Knesset) itu berdiri dengan keyakinan tunggal. Baginya, rasa aman bagi pemukim Israel hanya bisa ditebus dengan tiga hal: pendudukan, pengusiran, dan pembangunan pemukiman Yahudi.

Melalui sebuah video yang diunggah di akun X miliknya, politikus dari faksi sayap kanan ekstrem ini melempar narasi provokatif saat melakukan inspeksi lapangan. “Israel masih terjebak dalam konsep yang keliru,” ujarnya ketus. Menurut Limor, okupasi dan pemukiman ulang adalah harga mati. “Solusi lain hanya akan berujung pada pembantaian berikutnya.”

Pernyataan ini meluncur di tengah laporan medis yang menyesakkan dari dalam kantong Gaza. Di hari yang sama, serangan sporadis militer Israel kembali merenggut nyawa dua warga Palestina, salah satunya seorang anak-anak. Insiden ini menambah panjang daftar pelanggaran atas kesepakatan gencatan senjata yang sejatinya telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.

Mencaplok Koridor Netzarim

Ambisi Limor bukan sekadar retorika di media sosial. Ia secara spesifik menunjuk Koridor Netzarim (jalur strategis yang membelah Kota Gaza dengan kamp-kamp di wilayah tengah) sebagai target utama. Di sana, ia mengusulkan pembangunan pemukiman yang saling terhubung secara geografis.

“Kita harus menguasainya secara penuh. Membangun pemukiman di sepanjang jalur ini adalah satu-satunya cara untuk menjamin keamanan penduduk di sekitar Gaza,” tuturnya kepada rombongan pemukim Yahudi yang menyertainya dalam tur tersebut.

Bagi Limor, proses ini memang bakal panjang dan berliku. Namun, ia mendesak agar pemerintah tak ragu untuk mengusir penduduk Palestina yang ia tuduh “berniat kembali angkat senjata.” Pandangan ini sejalan dengan rekam jejak politiknya yang keras menolak berdirinya negara Palestina berdaulat.

Algojo dari Sayap Kanan

Sosok Limor Son Har-Melech memang dikenal sebagai salah satu wajah paling garang di barisan nasionalis religius Israel. Ia bukan hanya sekadar bicara soal pengusiran, tapi juga memperkuat cengkeraman hukum yang diskriminatif.

Salah satu “prestasinya” yang paling kontroversial adalah inisiasi undang-undang hukuman mati bagi warga Palestina yang terbukti membunuh warga Israel. Lewat lobi-lobi politiknya yang intens, Knesset akhirnya mengesahkan aturan hukuman gantung tersebut pada 30 Maret 2026 lalu.

Kunjungan lapangan Limor di perbatasan Gaza ini seolah memberi sinyal terang: di saat dunia internasional sibuk membicarakan bantuan kemanusiaan dan perdamaian permanen, sebagian elite di Tel Aviv justru sedang merancang peta baru di atas tanah yang masih basah oleh darah. Bagi mereka, keamanan bukan dibangun lewat dialog, melainkan lewat beton-beton pemukiman dan pengusiran paksa.


Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here