GAZA — Langkah kakinya pelan melintasi pelataran Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza. Dengan napas yang sesak, suara parau yang nyaris habis, dan wajah yang mengisyaratkan kelelahan luar biasa, Taghreed Al-Dalu menyusuri lorong demi lorong.

Dia mendatangi para juru foto satu per satu, menanyakan satu hal yang amat berharga: apakah ada di antara mereka yang sempat merekam wajah anggota keluarganya yang telah syahid atau yang kini ditahan di penjara-penjara Israel.

Bagi Taghreed, pencarian itu bukan sekadar berburu foto. Ini adalah upaya terakhir untuk merawat ingatan tentang sebuah keluarga besar yang dulu berjumlah lebih dari 200 orang, namun kini menyusut drastis dan hanya menyisakan 10 orang yang bertahan hidup akibat agresi militer Israel di Jalur Gaza.

“Semua kenangan kami telah sirna,” tutur Taghreed dengan nada datar yang berat. Bagi dirinya dan warga Gaza lainnya, gundukan puing bangunan kini telah menggantikan kenangan masa lalu; tanah dan batu yang hancur lebih dihafal sebagai penanda lokasi dibanding bentuk rumah itu sendiri.

Taghreed adalah kisah keajaiban yang nyata, seorang ‘burung phoenix’ dari Gaza. Ia telah tujuh kali tertimbun reruntuhan akibat bom udara, dan tujuh kali pula ia merangkak keluar kembali menuju kehidupan, seraya menghitung berapa banyak lagi sanak saudaranya yang menghilang di bawah tanah. Di Distrik Al-Shujaiya, Kota Gaza, ia bahkan pernah tertimbun dua kali hanya dalam kurun waktu 48 jam.

Rekam Jejak 7 Kali Tertimbun Puing

1. Al-Shujaiya (7 Oktober 2023)

Serangan udara masif meratakan kawasan pasar sayur Al-Tawabeen di Al-Shujaiya. Di bawah atap beton yang runtuh, Taghreed berjuang merangkak menyusuri celah sempit sembari menyeret ibunya yang lumpuh dan menderita Alzheimer. Lebih dari 200 orang gugur dalam pembantaian malam itu, termasuk paman, keponakan, dan bibinya.

2. Al-Shujaiya (8 Oktober 2023)

Belum sempat menghirup udara bebas, gelombang pemboman berikutnya kembali mengubur tempat perlindungan sementara mereka. Taghreed kembali merangkak dari balik debu dengan jari-jari berdarah, berteriak memanggil nama ibu dan saudara-saudaranya. Ia kehilangan seorang keponakan dan pamannya yang lain dalam serangan kedua ini.

3. Abu Al-Izam (3 November 2023)

Bertahan hidup di dalam sisa ruangan berukuran 6 meter persegi bersama 12 anggota keluarga, rumah darurat itu kembali dihantam bom di Jalan Mushtaha. Seluruh penghuni rumah terluka dan tertimbun reruntuhan menunggu bantuan Tim Pertahanan Sipil.

4. Jalan Palestina (15 November 2023)

Untuk keempat kalinya, Taghreed harus membersihkan debu semen dari tubuhnya. Pemboman di area ini merenggut nyawa keponakan laki-lakinya dan beberapa kerabat lain, memperpanjang daftar duka keluarga Al-Dalu.

5. Pengepungan RS Al-Shifa (15 November 2023)

Sebagai kepala bagian pemisahan darah di Bank Darah RS Al-Shifa, Taghreed menyaksikan langsung pengepungan militer terhadap rumah sakit tersebut. Di tengah krisis listrik dan air, tentara pendudukan mendobrak fasilitas medis dan menangkap saudara laki-lakinya beserta dua anaknya di depan mata sang ibu yang berusia 84 tahun. Saudaranya itu kemudian gugur di dalam penjara akibat penyiksaan sistematis.

6. Jalan Al-Nafaq (4 Desember 2024)

Ini merupakan tragedi paling berdarah bagi keluarganya. Pemboman di dekat Masjid Al-Yarmouk meruntuhkan bangunan 4 lantai secara sekaligus. Taghreed dan keluarganya tertimbun pasir dan puing beton selama 30 menit dalam kondisi sesak napas sebelum dievakuasi.

Aksi pembantaian ini merenggut nyawa sekitar 20 anggota kerabatnya, termasuk saudara perempuannya. Ibunya yang mengalami luka parah di wajah akhirnya meninggal dunia setelah 40 hari dirawat di ruang ICU.

7. Al-Zaytoun (14 Juli 2025)

Stasiun ketujuh dari reruntuhan terjadi ketika Taghreed dan sisa keluarganya mengungsi ke Distrik Al-Zaytoun. Penghancuran blok permukiman oleh militer Israel merenggut nyawa saudara laki-lakinya yang kedua beserta anak-anaknya. Setelah insiden ini, keluarga besar tersebut kini benar-benar tergerus dan hanya tersisa 10 orang.

Saksi Bisu yang Menolak Padam

Hari ini, Taghreed membawa luka fisik dan trauma mendalam pada tubuhnya: tulang yang patah, gangguan pernapasan kronis, hingga pita suara yang rusak yang membuatnya kesulitan untuk berbicara panjang lebar. Sepanjang rentetan agresi ini, ia tercatat telah berpindah tempat pengungsian sebanyak 31 kali.

Ia kehilangan dua saudara laki-laki, dua saudara perempuan, ibunya, serta puluhan paman, bibi, dan keponakan. Dua anggota keluarganya yang lain hingga kini masih mendekam di penjara pendudukan.

Meski tubuhnya digerus kepedihan, suara Taghreed yang parau menegaskan pesan mendalam tentang ketahanan bangsa Palestina: bahwa seseorang yang telah dikubur di bawah tanah sebanyak tujuh kali dan tetap keluar mencari kehidupan adalah bukti nyata bahwa masyarakat Gaza tidak akan bisa dihapuskan dari tanah air mereka.

(Sumber: Al Jazeera)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here