KOTA GAZA – Di Gaza, surat wasiat tidak hanya ditulis untuk ahli waris yang bernyawa. Ketika kehilangan menjadi menu harian, orang-orang mulai menulis pesan terakhir untuk harta yang paling mereka takuti kelenyapannya: buku.

Selasa, 21 April 2026, sebuah pemandangan aneh muncul di tengah lansekap kota yang compang-camping. Di sebuah sudut yang tersisa, rak-rak kayu yang dirakit seadanya berdiri menantang debu reruntuhan. Inilah Perpustakaan “Al-Anqa” (Sang Phoenix). Namanya bukan sekadar hiasan; ia adalah metafora bagi 6.000 buku yang berhasil “bangkit” setelah diseret mengungsi sebanyak 13 kali oleh pemiliknya, Omar Hamad.

“Buku-buku ini adalah fragmen identitas saya. Akhirnya, saya bisa memberi mereka tempat yang layak,” ujar Omar sambil menyentuh deretan sampul yang sebagian koyak di ujungnya. Bagi Omar, perjalanan menyelamatkan buku-buku ini sama menegangkannya dengan menghindari serangan udara.

Buku yang Menjadi Kayu Bakar

Selama kampanye penghancuran Gaza setahun terakhir, hubungan antara manusia dan literasi berubah menjadi sangat brutal. Di bawah blokade yang mencekik dan ketiadaan bahan bakar, kertas-kertas penuh ilmu berubah fungsi menjadi sarana penyambung nyawa, kayu bakar untuk memasak.

Buku-buku bermutu turun ke trotoar, dijual kiloan bukan untuk dibaca, melainkan untuk ditukar dengan sekerat roti atau beberapa liter air. Ini adalah indikator sosiologis yang pedih; betapa kesadaran intelektual dipaksa tunduk oleh insting purba bertahan hidup di tengah rasa lapar dan dingin.

Namun, bagi Hussam Hamad, salah satu pendiri Al-Anqa, mendirikan perpustakaan di tengah anarki adalah sebuah “gerakan intelijen”. Ia menyebutnya sebagai upaya menjaga akal sehat agar tetap berfungsi di tengah gempuran realitas yang menguras kewarasan.

“Kami ingin menjadi martil pembangunan, meski kecil. Memberikan akses gratis bagi mereka yang haus pengetahuan tapi tak punya daya beli,” tutur Hussam. Di perpustakaan ini, buku tidak hanya dibaca, tapi dipinjamkan cuma-cuma, sebuah antitesis dari ekonomi perang yang serba mahal.

[Tabel: Inventaris Perlawanan Literasi di Perpustakaan Al-Anqa]

KategoriKoleksi UnggulanStatus Sumber
Sejarah GazaIthaf al-A’izza fi Tarikh GhazzaLangka, diselamatkan dari reruntuhan.
Sastra GlobalRusia, Jepang, Prancis, dan ArabHibah atas nama para syuhada.
Sains & MedisKedokteran, Matematika, HukumDibeli dengan biaya tinggi dari luar.
ReligiTafsir, Hadits, FikihKoleksi pribadi yang selamat dari 13 kali pengungsian.

Ingatan yang Diselamatkan dari Puing

Koleksi Al-Anqa adalah mozaik dari sisa-sisa kehancuran. Ada buku-buku yang secara fisik ditarik dari bawah beton rumah yang hancur. Yang paling berharga adalah koleksi langka tentang sejarah Gaza, pemberian keluarga seorang korban perang, sebagai upaya menjaga narasi kota agar tidak terhapus dari sejarah.

Bagi Nibal Abu Ras, seorang insinyur sistem komputer berusia 21 tahun yang menjadi pengunjung setia, tempat ini adalah “gerbang pelarian”. Di Gaza, perang mungkin merampas properti dan nyawa, tapi tidak bisa menyita isi kepala. “Membaca adalah senjata tanpa batas. Begitu kita mulai menulis dan membaca, kita sedang mendekati kemerdekaan,” kata Nibal.

Nibal dan rekannya, Nilufer Abu Ras (25), melihat Al-Anqa lebih sebagai ruang terapi psikologis. Di tengah hiruk-pikuk artileri, keheningan di balik rak buku menawarkan kenyamanan sensorik yang mahal: aroma kertas dan tekstur halaman yang tak bisa digantikan oleh gawai.

Peluru Versus Pena

Kisah Al-Anqa adalah bukti bahwa di Gaza, perang bukan hanya soal perebutan wilayah, tapi soal perebutan narasi. Saat identitas budaya Palestina dihujani serangan sistematis, kehadiran sebuah perpustakaan sains dan sastra menjadi barikade budaya yang nyata.

Omar Hamad membuktikan bahwa dinding mungkin bisa runtuh, tapi ideologi yang tertuang dalam tinta punya cara sendiri untuk tetap hidup. Dari wasiat yang ditulis dengan tangan gemetar karena takut, hingga rak-rak yang kembali penuh hari ini, Al-Anqa mengirim pesan ke luar tembok Gaza: satu halaman buku terkadang cukup untuk membuat seseorang tetap merasa hidup di tengah kematian yang mengepung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here