LONDON — Gelombang teror dan kekerasan yang dilancarkan pemukim ekstremis Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki kini menyita perhatian luas media-media ternama Inggris. Rentetan serangan fisik, perusakan properti, hingga pengusiran paksa tersebut tidak hanya memicu kecaman internasional, tetapi juga mulai meretakkan dukungan di tingkat global serta mencoreng reputasi Israel di mata sekutu terdekatnya.

Laporan mendalam dari The Guardian, The Times, dan The Telegraph membedah fenomena teror ini dari berbagai sudut pandang, mulai dari pengepungan keluarga Palestina di Desa Qusra, kecaman yang tak biasa dari pejabat Amerika Serikat, hingga kejahatan yang menyasar komunitas Kristen kuno di Desa Taybeh.

Ngepung Qusra: Pengusiran Berkedok Operasi Militer

Harian The Guardian melaporkan bahwa pasukan pendudukan Israel memaksa dua keluarga Palestina meninggalkan rumah mereka di Desa Qusra, sebelah selatan Nablus. Pengusiran ini terjadi di tengah aksi intimidasi pemukim ilegal Yahudi yang mendirikan tenda pemblokir di pintu masuk pemukiman warga serta memutus pasokan air dan listrik sejak pertengahan minggu.

Kendati Komandan Komando Pusat Militer Israel Avi Bluth sempat berjanji akan merelokasi para pemukim ilegal tersebut akibat tekanan internasional, kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Pasukan militer Penjajah Israel justru memaksa keluarga Palestina mengosongkan rumah mereka dan menduduki delapan hunian warga dengan dalih “operasi keamanan”, sebelum akhirnya membiarkan para pemukim bersenjata tetap bebas berkeliaran di area desa.

Harian The Times mengonfirmasi bahwa tentara pendudukan tidak memberikan perlindungan berarti bagi warga lokal saat belasan pemukim melancarkan intimidasi. Wali Kota Qusra, Abdul Azim Wadi, membantah klaim evakuasi pemukim Yahudi dan menegaskan bahwa militer Israel justru memperketat keberadaan mereka di sekitar bukit-bukit desa.

Badan PBB melaporkan sedikitnya 15 warga Palestina, termasuk dua anak-anak, sempat terperangkap di dalam rumah mereka dalam kondisi teror tanpa akses air bersih maupun aliran listrik.

Kecaman dari AS hingga Mantan PM Israel

Garis keras aksi para pemukim kali ini memicu tanggapan tajam dari luar dan dalam Israel sendiri. Harian The Times menyoroti pernyataan Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, yang melontarkan kecaman terbuka atas tindakan pemukim ilegal di Qusra.

Melalui unggahan di platform X, Huckabee menyatakan bahwa Kedutaan Besar AS di Yerusalem telah meminta otoritas militer dan kepolisian Israel untuk mengambil tindakan tegas membubarkan kamp-kamp pemukim ilegal tersebut. Ia melabeli aksi pengepungan terhadap keluarga Palestina sebagai “kejahatan murni dan tindakan terorisme mengerikan yang sangat menjijikkan.”

Tak hanya dari Washington, suara kritis juga muncul dari internal kelompok pemukim sendiri. Shay Alon, kepala dewan pemukiman Beit El, mengakui bahwa insiden di Qusra telah menimbulkan “kerusakan yang tidak dapat diperbaiki” terhadap citra pergerakan mereka dan menyebut para pelakunya sebagai “kriminal yang melampiaskan amarah pada warga tak berdosa.”

Dari dalam Israel, mantan Perdana Menteri Ehud Olmert memberikan penilaian paling menohok. Dalam wawancaranya dengan The Guardian, Olmert menyebut pengepungan Desa Qusra sebagai “upaya pembersihan etnis yang terencana dan sistematis,” seraya mengaku merasa malu dan jijik atas tindakan tersebut.

Ancaman Terhadap Komunitas Kuno dan Citra Internasional

Dalam kolomnya di The Telegraph, jurnalis Stephen Pollard menilai bahwa kekerasan pemukim telah lama menjadi noda hitam bagi reputasi Israel. Ia mencontohkan aksi pembakaran yang dilakukan pemukim di dekat reruntuhan Gereja St. George dari abad ke-5 di Desa Taybeh, desa yang seluruh penduduknya beragama Kristen di Tepi Barat.

Para pemukim tidak hanya menghalangi warga yang mencoba memadamkan api, tetapi juga menerobos masuk ke rumah warga gereja, membawa hewan ternak, memotong pagar, dan mendirikan tenda-tenda liar di lahan pribadi tersebut. Pollard menyebut aksi ini sebagai kejahatan terang-terangan yang mencoreng nama baik Israel di mata dunia.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa tingkat kekerasan pemukim Yahudi kini telah mencapai “titik tertinggi dalam sejarah”. The Guardian menambahkan bahwa para pemukim beroperasi dengan impunitas (kebal hukum) yang hampir sempurna, yang dimanfaatkan sebagai alat untuk pengusiran sistematis.

Lembaga hak asasi manusia Israel, B’Tselem, mencatat sedikitnya 64 komunitas Palestina telah terdepak secara paksa dari tanah mereka dalam tiga tahun terakhir akibat teror pemukim, sebuah realitas yang kian mengisolasi Israel di panggung diplomasi internasional.

(Sumber: The Guardian / The Times / The Telegraph)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here