JAKARTA — Rencana konser penyanyi asal Amerika Serikat, Israel Houghton, bersama grup musik Israel & New Breed di Jakarta menghadapi seruan boikot. Konser bertajuk “Til The Whole World Knows Tour 2026” itu dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026.

Informasi penyelenggara yang tercantum di platform penjualan tiket menyebut konser tersebut akan menghadirkan Israel & New Breed dalam pertunjukan musik gospel dan worship. Grup itu dikenal memadukan gospel, soul, worship, dan contemporary Christian music. Sejumlah lagu mereka, antara lain Friend of God, You Are Good, Alpha and Omega, dan Reckless Love, disebut telah dikenal luas di kalangan umat Kristen.

Tur tersebut dipromosikan dengan membawa pesan tentang iman, persatuan, dan pengharapan. Penyelenggara juga mengajak penonton menghadiri malam penyembahan bersama Israel & New Breed.

Namun, di tengah promosi konser tersebut, sejumlah figur publik Indonesia menyerukan boikot. Mereka antara lain Chiki Fawzi, Annisa Theresia Maqdisia, Wanda Hamidah, dan seniman pantomim Wanggi Hoed.

Seruan itu disampaikan melalui media sosial. Para pengusung aksi boikot mempersoalkan sikap Israel Houghton terhadap Israel, terutama pernyataan yang pernah ia unggah di Instagram pada Oktober 2023.

Dalam unggahan yang dikutip dalam seruan boikot tersebut, Houghton menulis bahwa dirinya mendoakan perdamaian bagi Al-Quds dan menyatakan berdiri bersama Israel, disertai emoji bendera Israel.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar kritik terhadap rencana konsernya di Jakarta. Penelusuran pihak yang menyerukan boikot juga mengaitkan pandangan keagamaan Houghton dengan Christian Zionism, meski hubungan tersebut merupakan penilaian para pengkritiknya, bukan pernyataan yang secara eksplisit ia sampaikan dalam materi konser tersebut.

Christian Zionism merupakan arus teologi tertentu dalam kekristenan yang mengaitkan keberadaan negara Israel dengan pemenuhan nubuat Alkitab. Pandangan ini tidak tunggal di kalangan umat Kristen dan menjadi salah satu titik perdebatan dalam isu hubungan agama, Israel, dan Palestina.

Pernyataan Houghton Jadi Sorotan

Seruan boikot juga menyoroti penggunaan simbol-simbol yang memiliki akar dalam tradisi Yahudi dalam aktivitas musik dan pelayanan Israel Houghton serta grupnya.

Para pengkritik menilai penggunaan simbol seperti Magen David atau Bintang Daud dalam konteks tersebut dapat berkontribusi pada normalisasi narasi budaya dan legitimasi keagamaan terhadap Israel. Penilaian itu kemudian menjadi bagian dari alasan yang mereka gunakan untuk meminta konser di Jakarta dibatalkan.

“Unggahan media sosial lama dari tahun 2023 inilah yang kemudian memicu gelombang aksi protes serta desakan pembatalan dari berbagai organisasi,” demikian pernyataan yang beredar dalam unggahan seruan boikot.

Di sisi lain, konser tersebut tetap dipromosikan sebagai pertunjukan musik dan ibadah. Platform penjualan tiket menggambarkan Israel & New Breed sebagai grup worship global yang membawa pertunjukan dengan perpaduan berbagai genre musik serta pesan iman, persatuan, dan pengharapan.

Perbedaan cara pandang itulah yang kemudian mempertemukan dua isu dalam satu panggung: konser musik Kristen di Jakarta dan sikap seorang musisi terhadap konflik Israel-Palestina.

Seruan Boikot di Tengah Perang Gaza

Seruan boikot tersebut muncul ketika perang di Gaza masih menjadi salah satu isu kemanusiaan dan politik paling sensitif di dunia.

Pihak yang menyerukan boikot mengaitkan sikap Houghton terhadap Israel dengan kondisi warga Palestina di Gaza. Mereka menyoroti jumlah korban, kehancuran infrastruktur, pembatasan bantuan, serta dampak berkepanjangan perang terhadap penduduk sipil.

Amnesty International dalam sejumlah laporan menyatakan bahwa Israel telah melakukan tindakan yang menurut organisasi tersebut memenuhi unsur-unsur genosida terhadap warga Palestina di Gaza. Dalam laporan Desember 2024, Amnesty mengatakan menemukan dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Israel melakukan dan terus melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza. Organisasi itu juga menyoroti pembunuhan, kerusakan infrastruktur vital, pemindahan paksa, serta pembatasan bantuan dan kebutuhan dasar.

Dalam pembaruan pada 2026, Amnesty kembali menyatakan bahwa tindakan yang disebutnya sebagai genosida masih berlangsung, termasuk melalui pembatasan masuknya makanan, obat-obatan, perlengkapan medis, bahan tempat tinggal, serta peralatan untuk memperbaiki infrastruktur sipil.

Karena itu, bagi para pengusung boikot, persoalannya bukan semata-mata soal sebuah konser. Mereka menempatkan kehadiran Houghton di Jakarta dalam konteks sikap politik dan kemanusiaan yang lebih luas terkait Palestina.

Di sisi lain, alasan dan keputusan untuk menghadiri atau tidak menghadiri konser tetap berada pada publik dan penyelenggara. Yang menjadi sorotan saat ini adalah bagaimana sebuah pernyataan politik seorang musisi dari 2023 kembali muncul dan memengaruhi respons publik terhadap agenda konsernya di Jakarta pada 2026.

Sementara itu, konser Israel & New Breed – “Til The Whole World Knows Tour 2026” tetap tercantum dalam agenda pertunjukan Jakarta pada 24 Oktober 2026.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here