GAZA – Di tengah bangunan yang tinggal rangka dan kehidupan yang belum sepenuhnya pulih, Ramadhan tetap datang menyapa Jalur Gaza. Pada hari pertama bulan suci tahun ini, Spirit of Aqsa (SoA) menghadirkan program berbagi bertajuk “Iftar Gaza” yang dilaksanakan langsung di tengah warga terdampak genosida.
Program ini menyalurkan hidangan berbuka puasa bagi keluarga-keluarga yang kehilangan rumah, harta, bahkan anggota keluarga. Di kota yang lebih dari 70 ribu warganya telah syahid dan ratusan ribu lainnya terusir ke tenda-tenda pengungsian, Ramadhan kali ini tidak lagi datang dengan meja-meja penuh. Ia hadir di atas tanah yang rata oleh bom.
Sebelum genosida merenggut segalanya, Ramadhan di Gaza selalu disambut dengan cahaya hangat. Dapur-dapur menyala sejak sore, meja iftar ditata dengan penuh cinta. Pada hari pertama, fatteh khas Gaza tersaji sebagai menu utama, disusul kabsa dan maftoul di hari-hari berikutnya. Salad segar, olahan susu, kharoub yang menyegarkan, hingga qatayef yang manis menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan dari tahun ke tahun.
Kini, banyak dari dapur itu telah hancur. Banyak kursi di meja makan yang kosong.
Di tengah situasi itulah Spirit of Aqsa hadir. Relawan dan warga berkumpul di titik distribusi yang sederhana. Nasi dan lauk disiapkan dalam wadah siap santap. Anak-anak berbaris dengan tempat makanan di tangan, sementara para orang tua menunggu dengan sabar, menahan lelah dan kenangan.
Satu per satu paket iftar dibagikan di antara tenda-tenda pengungsian dan bangunan yang retak. Menjelang magrib, suasana berubah hening dan haru. Bagi sebagian anak, itulah santapan berbuka pertama mereka di Ramadhan setelah kehilangan rumah dan orang-orang tercinta.


















