Di tengah runtuhnya sistem kesehatan dan lumpuhnya layanan medis di Jalur Gaza, seorang perawat sekaligus bidan bernama Fiza Shreim (65) terus menjalankan tugasnya di kamp-kamp pengungsian. Di mata warga, ia dikenal sebagai “Umm Saleh”.

Di bawah dingin yang menusuk dan gempuran serangan Israel yang tak henti, Umm Saleh bergerak dari tenda ke tenda dengan tas medis yang lusuh dan pengalaman lebih dari 40 tahun. Ia memeriksa ibu hamil dan membantu persalinan di ruang-ruang darurat, mulai dari bangunan setengah hancur, area terbuka, hingga di dalam ambulans yang tak jarang menjadi sasaran serangan.

“Kehidupan harus terus berjalan, meski seluruh Gaza berdarah,” ujar Umm Saleh kepada Al Jazeera Mubasher.

Meski telah memasuki masa pensiun, perempuan Palestina itu tidak pernah berhenti bekerja sejak perang meletus. Di wilayah yang nyaris tanpa rumah sakit dan klinik, perannya meluas, bukan hanya sebagai perawat, tetapi juga bidan dan tenaga medis lapangan.

“Sebelum perang, saya merawat perempuan dan anak-anak. Sekarang, kami membantu persalinan di pusat pengungsian, sekolah, dan tenda-tenda,” katanya.

Perang juga meninggalkan luka mendalam dalam hidup Umm Saleh. Ia kehilangan putrinya yang tengah hamil tujuh bulan bersama dua cucunya dalam satu serangan udara. Dua putranya gugur, begitu pula para menantu laki-lakinya. Bersama keluarga, ia terpaksa mengungsi hingga 13 kali.

Namun, kehilangan itu tidak membuatnya mundur. Bagi Umm Saleh, meninggalkan perempuan sendirian saat melahirkan adalah “kejahatan terhadap kemanusiaan”.

Melahirkan di Bawah Hujan Bom

Umm Saleh mengenang salah satu momen paling berbahaya selama perang, ketika ia harus membantu persalinan di dalam ambulans yang berada di bawah tembakan.

“Ambulans itu diserang, jalanan dipenuhi serpihan besi. Saat saya tahu ibu itu sudah siap melahirkan, saya minta sopir berhenti,” tuturnya.

Intervensinya berhasil menyelamatkan sang ibu dan bayi kembar yang dilahirkannya tanpa komplikasi.

Ia juga menceritakan pengalaman lain saat diminta membantu seorang perempuan yang melahirkan sendirian di rumah. Setelah persalinan, ibu tersebut membutuhkan penanganan medis lanjutan. Umm Saleh harus bolak-balik di bawah serangan untuk mengambil peralatan yang dibutuhkan.

Di tengah risiko yang terus mengintai, satu hal yang membuatnya tetap bertahan adalah “tangisan pertama kehidupan”.

“Ketika saya mendengar tangisan bayi yang baru lahir, saya lupa suara bom, lupa perang,” katanya. Tangisan itu, menurutnya, adalah pengingat bahwa hidup belum berhenti dan bahwa Gaza masih bertahan.

Sumber: Al Jazeera Mubasher

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here