Tentara penjajah Israel melancarkan rangkaian serangan besar-besaran di Tepi Barat, Rabu (4/3/2026). Puluhan kota, desa, dan kamp pengungsi didatangi pasukan bersenjata, disertai gelombang penangkapan terhadap warga Palestina.
Dalam operasi tersebut, militer menutup akses masuk sejumlah wilayah dengan pos pemeriksaan dan gundukan tanah. Sejumlah rumah dikosongkan paksa, bahkan sebagian diubah menjadi pos militer. Di banyak titik, tentara menggeledah rumah-rumah, menangkap puluhan warga dan membawa mereka ke pemeriksaan lapangan. Isi rumah diacak-acak, termasuk kediaman para mantan tahanan Palestina.
Di selatan Tepi Barat, penggerebekan menyasar Kota Hebron beserta sejumlah wilayah sekitarnya seperti As-Samu’, Beit Ummar, dan Idhna. Di wilayah Betlehem, pasukan memasuki Beit Fajjar dan Tuqu’. Sementara di Ramallah dan Al-Bireh, operasi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah desa.
Di utara, tentara mendatangi Biddya dan Mas’ha di Provinsi Salfit, Kota Qalqilya, serta Baqa Ash-Sharqiya di wilayah Tulkarem. Penggerebekan juga berlangsung di Kota Tubas dan desa-desa sekitarnya seperti Aqaba, Tammun, dan Tayasir.
Di Nablus, pasukan memasuki kawasan timur kota serta desa-desa Al-Lubban Ash-Sharqiya, Rujeib, Tell, Asira Ash-Shamaliya, Talouza, Talfit, dan Kafr Qallil. Sementara di Jenin, operasi menyasar Beit Qad, Ya’bad, Barta’a, Anin, Arraba, Al-Araqa, Faqqu’a, Zababdeh, Jalbun, dan wilayah sekitarnya.
Kantor berita Palestina WAFA melaporkan, pada Selasa malam, sejumlah pemukim Israel juga menyerbu rumah warga di Desa Al-Aqaba, timur Tubas. Kepala urusan permukiman di Tubas, Moataz Basharat, mengatakan para pemukim yang mengenakan pakaian militer mengancam warga agar meninggalkan rumah mereka dalam hitungan hari.
Ribuan Pelanggaran dalam Sebulan
Laporan Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman yang dirilis Selasa mencatat, sepanjang Februari lalu terjadi 1.965 pelanggaran di Tepi Barat. Dari jumlah itu, 122 bangunan dihancurkan dan 49 lainnya menerima pemberitahuan pembongkaran.
Kepala lembaga tersebut, Muayyad Shaaban, menyebut 1.454 pelanggaran dilakukan oleh tentara Israel, sementara 511 lainnya oleh pemukim. Bentuknya beragam, mulai dari penyerangan fisik, pencabutan pohon, pembakaran lahan, perampasan properti, hingga penghancuran rumah dan fasilitas pertanian.
Shaaban menilai eskalasi ini menunjukkan fase berbahaya dari peningkatan terorganisasi. Ia menuding adanya “pembagian peran” antara institusi resmi pendudukan dan milisi pemukim dalam menekan desa-desa serta komunitas Badui Palestina.
Tepi Barat sendiri mengalami peningkatan operasi militer sejak pecahnya perang genosida di Gaza pada Oktober 2023. Penangkapan, pembunuhan, pengusiran, hingga ekspansi permukiman terus berlangsung. Namun, intensitasnya disebut meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir, seiring memanasnya situasi kawasan setelah agresi terhadap Iran.
Sumber: Al Jazeera










