AL-BIREH — Otoritas Penjajah Israel merampok lahan seluas 15,3 dunam (sekitar 1,5 hektare) di Kota Al-Bireh, Tepi Barat. Perampasan tanah ini berlangsung beriringan dengan eskalasi militer, penambahan pasukan, serta gelombang penyergapan dan penangkapan di berbagai wilayah Tepi Barat.
Lembaga Ketahanan Tembok dan Permukiman (Wall and Settlement Resistance Commission) mengonfirmasi bahwa penyitaan tersebut diterbitkan melalui perintah militer. Langkah ini diambil untuk membangun jalur pengamanan (security route) sepanjang 3.835 meter yang melingkari permukiman ilegal Psagot di Jabal At-Tawil, sebelah timur Al-Bireh.
Skema ini bakal membentuk zona penyangga (buffer zone) baru di sekeliling permukiman Psagot. Dampaknya, warga Palestina kian terisolasi dan kehilangan akses menuju tanah pertanian milik mereka yang membentang di antara permukiman ilegal tersebut dan jalur militer yang baru ditetapkan.
Penyitaan ini memperpanjang deretan perampasan lahan sistematis di sekitar permukiman yahudi melalui perintah militer, pembangunan jalan khusus, dan penetapan area steril. Kebijakan ini secara bertahap mempersempit ruang gerak warga Palestina sekaligus memutus konektivitas antardesa.
Tambahan 26 Batalyon Militer dan Ambisi Smotrich
Memanasnya situasi di Tepi Barat direspons militer Israel dengan menyiagakan pasukan tambahan. Laporan Channel 12 Israel menyebutkan militer kini melipatgandakan pengerahan pasukannya hingga mencapai 26 batalyon.
Di tengah eskalasi ini, jajaran keamanan Israel sempat merekomendasikan para menteri di kabinet Benjamin Netanyahu untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok pemukim radikal yang kerap memicu kerusuhan di Tepi Barat.
Namun, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich justru secara terbuka menegaskan ambisi ekspansinya. Ia menyebut proyek pembangunan permukiman ilegal yang dipimpinnya di area E1 dirancang untuk memupuskan asa pembentukan negara Palestina.
“Pembangunan yang saya pimpin di kawasan E1 merupakan langkah untuk mengubur mimpi berdirinya negara teroris di dekat Al-Quds. Siapa pun yang menolak pembangunan di kawasan ini pada hakikatnya mendukung pembentukan negara Palestina, meskipun mereka berusaha bersilat lidah,” tegas Smotrich.
Melalui penyitaan tanah, perluasan permukiman, dan pembentukan zona militer steril, Israel terus memaksakan realitas baru di Tepi Barat demi memutus keutuhan wilayah geografis Palestina.
Penyergapan Tulkarm dan Penggerebekan Makam Yusuf di Nablus
Di samping perampasan lahan, pasukan Israel melancarkan penyergapan selama tujuh jam di Anabta, timur Tulkarm. Pasukan menggeledah puluhan rumah warga (termasuk milik mantan tahanan) serta merusak perabotan, menyita emas dan ponsel, hingga melakukan intimidasi fisik.
Dua pemuda, Muhammad Sulaiman Ghanem (31) dan Sohaib Ammar Shehadeh (23), ditangkap dalam penggerebekan tersebut. Pasukan Israel juga menculik seorang pemuda asal Qaffin di dekat persimpangan Bartaa, Jenin.
Sementara itu di Nablus, ratusan pemukim yahudi menerobos masuk ke area Makam Yusuf (Joseph’s Tomb) di wilayah timur kota di bawah kawalan ketat belasan kendaraan militer dan buldozer. Pasukan Israel sempat menembakkan gas air mata ke arah kerumunan wartawan yang meliput dan menutup akses jalan menuju lokasi.
Situs Makam Yusuf yang berada di kawasan kekuasaan Otoritas Palestina memang kerap memicu bentrokan. Meski para pemukim mengklaim lokasi itu sebagai tempat bersemayamnya Nabi Yusuf AS, para ahli arkeologi membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa situs itu merupakan makam seorang ulama muslim setempat bernama Yusuf Dweikat yang dibangun beberapa abad silam.
Secara keseluruhan, data resmi lembaga Palestina mencatat eskalasi militer dan penyerangan kelompok pemukim di Tepi Barat sejak Oktober 2023 telah mengakibatkan 1.183 warga Palestina gugur, lebih dari 13 ribu orang luka-luka, 24 ribu orang ditangkap, serta 33 ribu warga terpaksa mengungsi.










