Gencatan senjata di Gaza sedang berada di ujung tanduk. Sementara dunia mendesak pembukaan akses bantuan kemanusiaan, Israel justru menyiapkan draf untuk kembali memicu mesin perangnya. Alih-alih damai, “Garis Kuning” kini meluas, menggerus sisa-sisa tanah Palestina yang kian menyempit.

DI tengah krisis kesehatan yang mencekik dan tumpukan puing yang menyelimuti Gaza, aroma mesiu kembali tercium dari Tel Aviv. Malam ini, Minggu waktu setempat, Dewan Keamanan Israel yang dikenal sebagai “Kabinet” dijadwalkan berkumpul. Agenda tunggal mereka: membahas kemungkinan memulai kembali perang di Jalur Gaza.

Langkah ini ironis. Padahal, kesepakatan gencatan senjata baru berjalan sejak 10 Oktober tahun lalu. Israel sendiri sudah berulang kali dituding melanggar komitmen tersebut. Namun, dalih baru telah disiapkan: Hamas dianggap tak kooperatif soal urusan pelucutan senjata.

Dua jurnalis Israel, Moria Asraf dan Doron Kadosh, membocorkan isi pertemuan tertutup para petinggi militer. Di sana, jargon “misi yang belum tuntas” kembali menggema. Militer merasa terdesak untuk kembali menyerang karena Hamas emoh menyerahkan gudang senjatanya. Meski begitu, tak semua jenderal sepakat. Sebagian mengkhawatirkan beban pasukan cadangan yang sudah kepayahan, mereka yang di tahun 2026 ini rata-rata harus mengabdi 80 hari per tahun.

Strategi “Mencaplok” Pelan-Pelan

Bukan sekadar gertakan di meja perundingan, fakta di lapangan menunjukkan pergeseran yang sistematis. Dalam beberapa pekan terakhir, militer Israel menjalankan dua operasi senyap namun mematikan: meningkatkan intensitas serangan udara terhadap target terpilih dan (yang paling krusial) menggeser peta wilayah pendudukan.

Ingat soal “Garis Kuning”? Itu adalah batas wilayah yang dikuasai tentara Israel sejak gencatan senjata. Jika dulu mereka mencengkeram 53 persen luas Gaza, kini angka itu merangkak naik menjadi 59 persen.

Modusnya adalah apa yang disebut PBB sebagai “Garis Oranye”. Garis baru ini ditarik masuk ke wilayah yang seharusnya diizinkan bagi warga Palestina. Efeknya? Puluhan keluarga harus kembali menggulung tenda, mengungsi lebih jauh ke Barat. Siapa pun yang mencoba mendekati garis ini, peluru tajam sudah menunggu. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, membenarkan keberadaan peta baru dengan garis berwarna oranye ini sebagai realitas pahit yang harus dihadapi para petugas kemanusiaan di lapangan.

Netanyahu dan Panggung Kompensasi

Mengapa Gaza kembali dibidik? Pengamat urusan Israel, Mohammad Helsha, punya jawabannya: Gaza telah menjadi “lapangan kompensasi” bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

“Setiap kali Netanyahu gagal meraih ‘kemenangan mutlak’ di Lebanon atau Iran, ia akan kembali menyalakan mesin pembantai di Gaza,” ujar Helsha. Ini adalah resep instan untuk memuaskan sekutu sayap kanannya, seperti Itamar Ben-Gvir atau Bezalel Smotrich, sekaligus meredam kritik publik domestik.

Senada dengan itu, Amjad Shihab, pakar politik dari Universitas Al-Quds, menyebut Gaza sebagai “lingkaran terlemah”. Baginya, niat Israel bukan sekadar melumpuhkan Hamas, melainkan melaksanakan proyek historis: pengusiran massal. Survei internal di Israel menunjukkan angka yang mengerikan: lebih dari 80 persen warga mendukung pemindahan penduduk Gaza keluar dari wilayah tersebut. Penghancuran sistematis infrastruktur sipil—yang kini sudah mencapai 90 persen—adalah pesan jelas agar warga tak punya lagi alasan untuk kembali.

Hamas dan Syarat yang Buntu

Di sisi lain, Hamas menuding langkah Israel sebagai pengkhianatan terang-terangan terhadap upaya para mediator di Kairo. “Pelanggaran harian, pembunuhan warga sipil, dan pergeseran garis wilayah adalah bukti rezim penjahat perang Netanyahu ingin membatalkan kesepakatan,” demikian pernyataan resmi gerakan tersebut.

Negosiasi yang dimediasi Amerika Serikat di Kairo pun menemui jalan buntu. Israel bersikeras pada pelucutan senjata total sebagai syarat masuk ke fase kedua. Sebaliknya, Hamas menuntut pemenuhan komitmen fase pertama, seperti pembukaan blokade dan penarikan pasukan—sebelum bicara soal arsenal mereka.

Perang yang meletus sejak Oktober 2023 ini telah meninggalkan luka yang teramat dalam: 72 ribu nyawa melayang dan 172 ribu lainnya luka-luka. Namun, bagi penguasa di Tel Aviv, angka-angka itu sepertinya hanya statistik di sela-sela ambisi politik menjelang pemilihan umum Oktober mendatang. Di Gaza, damai ternyata hanyalah jeda singkat untuk menarik napas sebelum badai berikutnya datang.


Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari Al Jazeera dan Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here