RAMALLAH — Sekitar pukul 10.15 pagi, api tiba-tiba membumbung tinggi di sekitar pabrik aluminium Al-Omari di Desa Ain Siniya, utara Ramallah. Si jago merah dengan cepat merembet, melahap setidaknya 50 dunam (sekitar 5 hektare) kebun zaitun purba dan meratakan pelataran pabrik yang menyimpan bahan-bahan mudah terbakar.

Kepala Desa Ain Siniya, Imad Khatir, menegaskan bahwa pembakaran ini bukanlah insiden tunggal, melainkan bagian dari gelombang teror terencana yang membayangi wilayahnya. Rekam jejak kejahatan di Ain Siniya sebelumnya telah mencakup pembakaran pohon, rumah, dan mobil, hingga penjarahan dan penganiayaan fisik terhadap warga serta pekerja pabrik.

Khatir menceritakan bahwa seorang pemukim yahudi yang berprofesi sebagai penggembala dari pos ilegal Atara terlihat berkeliaran di dekat area penyimpanan material dan trafo listrik pabrik persis sebelum api berkobar. Begitu pemukim itu pergi, api langsung membesar dengan cepat. Warga dan pekerja yang berhamburan hendak memadamkan api justru dihalangi oleh militer Israel, sementara kelompok pemukim lain dengan cepat berdatangan ke lokasi.

Aksi pembakaran di Ain Siniya menandai pergeseran taktik yang makin berbahaya. Para ahli ekonomi menilai target kelompok pemukim radikal kini bergeser secara masif: dari sekadar merampas tanah dan merusak rumah, menjadi pengerusakan langsung terhadap fasilitas ekonomi dan manufaktur guna mematikan urat nadi perekonomian Palestina.

Kerugian Ratusan Ribu Dolar di Tempat Penggalian Batu

Di Ain Samiya, utara Ramallah, sebuah kawasan penggalian batu (quarry) seluas 300 dunam menjadi saksi bisu kebrutalan serupa. Fasilitas yang menyerap puluhan tenaga kerja lokal ini diserbu kelompok pemukim pada 27 Juli lalu.

Pemukim melubangi pagar pembatas, menyusup ke area operasional, lalu membakar jajaran buldozer, ekskavator, dan truk angkut. Pemilik penggalian, Abdul Samad Abdul Aziz, menaksir kerugian materiil akibat aksi pembakaran tersebut menembus angka 700 ribu dolar AS.

Abdul Aziz mengungkapkan bahwa kelompok pemukim sebelumnya telah mendirikan pos penggembalaan ilegal (pastoral outpost) di jalur menuju lokasi usai mengusir para penggembala Palestina, padahal kawasan tersebut masuk dalam Wilayah B yang secara administratif berada di bawah kendali Otoritas Palestina sesuai Perjanjian Oslo.

“Sopir truk dan pekerja kami saban hari diintimidasi dan diserang saat menuju lokasi. Kantor dan kendaraan kami sudah berkali-kali dihancurkan agar kami menyerah dan pergi,” tutur Abdul Aziz. “Tapi kami menolak angkat kaki. Kami akan bertahan dan terus berproduksi meski harus menanggung kerugian besar.”

90 Persen Alat Berat Hangus di As-Samu

Skenario serupa terulang di belahan selatan Tepi Barat. Pada 21 Agustus lalu sekitar pukul 03.30 dini hari, sekitar 30 pemukim Yahudi menyerbu area penggalian batu milik Khalid Az-Za’areer di As-Samu, selatan Hebron.

Penjaga malam yang ketakutan terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa. Kelompok pemukim lantas membakar dua ekskavator mekanis, tiga mesin pemotong batu, tiga buldozer, hingga pos penjaga. Akses jalan yang terjal membuat tim pemadam kebakaran terlambat sampai di lokasi, menyebabkan lebih dari 90 persen peralatan berat hangus tak tersisa.

“Kerusakannya total dan tidak bisa diperbaiki lagi. Kami tidak punya kemampuan finansial untuk membeli alat baru, sehingga penggalian ini terpaksa berhenti operasi,” ujar Az-Za’areer. Akibat penutupan ini, sekitar 55 keluarga pekerja kehilangan sumber penghidupan mereka secara mendadak.

Menciptakan Lingkungan yang Mati bagi Investasi

Pakar Ekonomi Muayyad Affana menjelaskan bahwa fasilitas ekonomi Palestina berada di posisi yang sangat rentan, terutama yang beroperasi di Wilayah B dan C. Tingginya kepadatan bangunan di pusat kota memaksa para pelaku usaha menempatkan pabrik, area penggalian, dan industri pengolahan di kawasan terbuka tersebut.

Namun, lokasi terbuka ini justru dijadikan sasaran tembak empuk oleh kelompok pemukim. Affana mencontohkan serangkaian serangan yang menimpa pabrik olahan susu Al-Junaidi di Tulkarm, pabrik aluminium di Ain Siniya, hingga deretan penggalian batu di Tepi Barat.

“Kerugian finansialnya sangat fantastis. Membakar satu unit ekskavator saja menyedot biaya ratusan ribu shekel. Ini sengaja dilakukan untuk menguras modal pengusaha Palestina secara perlahan,” kata Affana.

Ia memperingatkan bahwa aksi pengerusakan ini menciptakan iklim investasi yang sangat toksik. Di tengah angka pengangguran Tepi Barat yang menembus 29 persen (dan total 48,5 persen di seluruh Palestina), kehancuran sektor manufaktur kian menyeret ribuan keluarga ke jurang kemiskinan. Investor yang kehilangan jaminan keamanan bakal memilih gulung tikar, melarikan modalnya ke luar negeri, atau membiarkan dananya membeku di bank.

Teror Ekonomi Berujung Pengusiran Massal

Data Otoritas Ketahanan Tembok dan Permukiman menunjukkan peningkatan drastis atas serangan terhadap aset-aset produksi. Pejabat Dokumentasi Lembaga, Amir Daoud, mencatat sepanjang Juli saja terjadi 798 kasus serangan pemukim, yang mencakup 440 perusakan properti, 67 penjarahan, serta perusakan dan penyetruman atas 5.027 pohon zaitun.

Daoud membeberkan kronologi pola serangan sistematis dalam beberapa bulan terakhir:

  • 25 Maret: Pemukim mendirikan tenda pemukiman di dekat fasilitas pemotongan batu dan pabrik beton di At-Taybeh, utara Ramallah.
  • 26 Juli: Serangan masif menghantam pabrik pemotongan batu di Ain Samiya, diiringi penganiayaan pekerja dan pembakaran alat berat.
  • 16 Agustus: Pemukim merusak mesin pemotong batu di Sinjil, memotong kabel utama, dan mencuri panel kontrol elektronik berharga mahal.

“Ketika sebuah pabrik dibakar atau mesinnya dicuri, dampaknya menjalar dari pemilik modal, pekerja, rantai pasok, hingga pasar lokal,” tegas Daoud.

Menurut Daoud, tujuan akhir dari teror ekonomi ini sangat transparan: pengusiran secara tidak langsung. Ketika warga kehilangan mata pencaharian, dihalangi mengakses tempat kerjanya, dan dibayangi ketakutan modal yang hangus, mereka secara perlahan akan terdesak meninggalkan tanah kelahirannya. Teror ekonomi ini sengaja didesain untuk menciptakan ruang hampa yang memudahkan pemukim Yahudi mencaplok dan memperluas wilayah kekuasaan mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here