NEGEV – Di balik tembok kokoh Penjara Janot yang terisolasi di tengah gersangnya Gurun Negev, ratusan tahanan Palestina sedang menghadapi jenis siksaan lain yang sunyi namun mematikan. Bukan hanya soal jeruji besi yang dingin, hari ini musuh terbesar mereka adalah rasa sakit yang menusuk dari dalam rongga mulut mereka sendiri, berpadu dengan kebijakan pembiaran dan kelalaian medis (medical negligence) yang sengaja dipelihara otoritas sipir Israel.

Kantor Informasi Tawanan Palestina (Palestinian Prisoners Media Office Association) merilis laporan resmi yang memilukan mengenai kondisi para tahanan di penjara gurun tersebut. Banyak dari mereka yang kini mengalami infeksi akut dan rasa nyeri yang tak tertahankan pada gigi serta geraham mereka.

Alih-alih mendapatkan penanganan medis yang layak layaknya seorang manusia, keluhan para tahanan ini hanya membentur dinding pengabaian. Birokrasi penjara sengaja menunda-nunda, bahkan memutus akses mereka ke dokter gigi, membiarkan infeksi tersebut menjalar dan memperparah kondisi kesehatan para tahanan dari hari ke hari.

Gizi Buruk yang Merusak Imun

Penderitaan para tawanan ini berlapis-lapis. Rasa sakit gigi yang menyiksa itu bukan terjadi di ruang hampa. Ia berkelindan dengan lingkungan penjara yang didesain sangat kejam: pasokan makanan yang jauh dari kata layak, minimnya nutrisi, serta kelangkaan kebutuhan sanitasi yang paling mendasar.

Kombinasi antara gizi buruk dan stres ekstrem ini seketika meruntuhkan sistem kekebalan tubuh para tahanan. Akibatnya, masalah medis kecil seperti gigi berlubang atau radang gusi bisa dengan cepat berubah menjadi infeksi parah yang memicu komplikasi penyakit lainnya.

“Mengabaikan kebutuhan medis dasar, terutama perawatan gigi yang akut, adalah bentuk pelanggaran berat terhadap hak asasi paling mendasar dari seorang tahanan,” tegas Kantor Informasi Tawanan dalam pernyataan resminya.

Mereka menambahkan bahwa membiarkan para tahanan menahan rasa sakit tanpa obat adalah tindakan tidak manusiawi yang memicu komplikasi kesehatan jangka panjang yang sebenarnya sangat bisa dicegah.

Lembaga tersebut mendesak organisasi kemanusiaan internasional, Palang Merah Internasional (ICRC), serta badan-badan hak asasi manusia sejagat untuk segera turun tangan. Mereka meminta dunia menekan pemerintah Israel agar menghentikan taktik pembiaran medis ini, memberikan pengobatan darurat tanpa syarat, serta menjamin hak kesehatan para tahanan tanpa penundaan birokrasi.

Rekor Penahanan Masif Sejak Perang Pecah

Tragedi kesehatan di Penjara Janot ini merupakan puncak gunung es dari krisis kemanusiaan yang lebih besar di dalam sistem peradilan militer Israel. Sejak pecahnya perang pada Oktober 2023 hingga Juni 2026, gelombang penangkapan massal terjadi secara ugal-ugalan. Otoritas Israel tercatat telah melakukan lebih dari 23 ribu penangkapan sepihak di wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Berdasarkan data terbaru dari lembaga-lembaga yang fokus pada urusan tawanan, Israel saat ini menyekap lebih dari 9.400 warga Palestina di dalam berbagai jaringan penjara militernya.

Lanskap penahanan ini dipenuhi angka-angka yang mencemaskan:

  • 86 orang di antaranya adalah perempuan.
  • 3.376 orang statusnya adalah tahanan administratif (administrative detainees), mereka dijebloskan ke sel tanpa dakwaan resmi dan tanpa proses pengadilan yang jelas.
  • 1.283 orang ditahan di bawah label sepihak dari Tel Aviv sebagai “Unlawful Combatants” atau pejuang ilegal, sebuah status hukum abu-abu yang membuat mereka terisolasi dari bantuan hukum luar.

Kini, bagi ribuan jiwa yang terperangkap di bawah terik Gurun Negev, setiap detik berlalu dengan denyutan rasa sakit yang menyiksa di dalam mulut mereka. Di tengah makanan penjara yang basi dan ruang isolasi yang dingin, setetes obat dan pemeriksaan medis kini menjadi kemewahan yang mahal, sebuah bukti otentik bagaimana hak hidup manusia dikikis perlahan di balik jeruji besi yang buntu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here