BRUSSEL – Di sebuah ruang pertemuan di Brussel, Rabu, 22 April 2026, udara terasa lebih berat dari biasanya. Ratusan anggota parlemen, aktivis, dan politikus dari berbagai belahan dunia berkumpul dalam agenda yang tak lazim, Konferensi Parlemen Pertama untuk mendukung Global Sumud Flotilla. Di saat yang sama, ribuan mil dari sana, iring-iringan kapal sipil sedang membelah Mediterania, mengarahkan haluan ke pantai Gaza yang terkunci rapat.

Acara ini bukan sekadar kumpul-kumpul solidaritas bernada haru. Brussel hari ini menjadi palagan tekanan politik. Fokusnya cuma satu: “Deklarasi Brussel”. Isinya menohok, tuntutan pembukaan koridor laut kemanusiaan di bawah mandat PBB dan desakan agar Eropa menghentikan kemitraan dagang serta militer dengan Israel.

Menembus Pintu Belakang Mediterania

Gerakan ini dimulai dari Barcelona pada 12 April lalu. Dua puluh kapal kayu dan besi berangkat dari Marseille, Prancis, lalu kini merapat di Italia sebelum nekat menerobos blokade di Gaza yang sudah berjalan puluhan tahun. Ini adalah misi sipil terbesar dalam sejarah: 100 kapal, 1.000 aktivis, satu tujuan.

Namun, di balik layar, konferensi ini adalah serangan balik terhadap kegagalan diplomasi formal. Omar Fares, pentolan Asosiasi Sosial Budaya Palestina di Polandia, bicara blak-blakan. Bagi Fares, ini adalah upaya mencegah dunia “mencuci tangan” atas tindakan Tel Aviv. Fares bukan pemain baru; tahun lalu ia diculik militer Israel di perairan internasional saat ikut dalam misi serupa.

“Kami ingin dunia tahu bahwa Gaza masih disekap, dan Tepi Barat sedang digerogoti kekerasan pemukim setiap hari,” ujar Fares.

Di antara deretan kursi peserta, tampak Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB, hingga Menteri Pemuda Spanyol Sira Rego. Kehadiran mereka menegaskan bahwa isu Palestina bukan lagi sekadar urusan bantuan kemanusiaan, melainkan pertarungan politik di dalam institusi Barat.

Senjata di Balik Kargo

Dari atas salah satu kapal yang bergoyang dihantam ombak Mediterania, Saif Abu Kishk, juru bicara armada, tersambung melalui sambungan satelit ke ruang konferensi. Suaranya pecah-pecah, namun pesannya tajam. “Tujuannya bukan cuma membawa bantuan, tapi menantang jalur logistik senjata,” katanya.

Abu Kishk mengungkap taktik baru: armadanya membayangi kapal-kapal kargo yang diduga membawa bahan baku senjata menuju Israel. Dalam sebuah rekaman yang diputar di depan para delegasi, Abu Kishk terdengar memperingatkan sebuah kapal kargo: “Setiap mil laut yang Anda tempuh berkontribusi pada kematian anak-anak di Gaza. Atas perintah orang-orang merdeka di dunia: putar balik kapal Anda sekarang!”

Target: Perjanjian Kemitraan

Langkah paling radikal yang digodok di Brussel adalah tuntutan pembatalan Association Agreement antara Uni Eropa dan Israel. Selama ini, perjanjian inilah yang menjadi karpet merah bagi ekonomi Tel Aviv di daratan Eropa. Para peserta konferensi sadar, selama ekonomi Israel tak terganggu, selama itu pula kebijakan pendudukan tak akan berubah.

Sore hari, setelah sidang ditutup, massa bergerak dari aula menuju gedung Parlemen Eropa. Mereka tak lagi hanya membawa poster, tapi membawa draf legislatif untuk menghentikan pengiriman senjata.

Ini adalah eskalasi. Jika pada akhir 2025 misi serupa berhasil dipatahkan oleh angkatan laut Israel di perairan internasional, kali ini alurnya berbeda. Penyelenggara mengklaim momentum kali ini punya “bahan bakar” politik yang lebih besar. Di Brussel, para politikus sedang menyusun jerat hukum, sementara di laut, para aktivis sedang menguji nyali militer Israel.

Gaza mungkin masih terisolasi, namun di jantung Eropa, tembok itu mulai retak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here