KHAN YOUNIS – Setelan jas pengantin itu masih tergantung di sana. Warnanya yang bersih kini tercoreng bercak darah yang mengering, terhampar di antara serpihan kayu, kain tenda yang robek, dan kelopak bunga mawar yang hangus terbakar. Skenario malam itu harusnya menjadi malam paling bahagia bagi Muhannad Farwana. Namun, hanya beberapa jam sebelum ia mengucap janji suci dan menjemput sang kekasih, takdirnya dipaksa berhenti oleh hantaman rudal Israel pada Sabtu dini hari (6/6/2026).

Muhannad, seorang pemuda Palestina di Khan Younis, utara Jalur Gaza bagian selatan, gugur sebagai syahid setelah jet tempur Israel membombardir tenda yang baru saja selesai ia dekorasi untuk malam pertamanya. Ruang yang dirancang untuk merajut masa depan itu seketika berubah menjadi kuburan massal bagi impian-impian sederhananya.

Dalam sebuah laporan lapangan yang menyayat hati oleh koordinator Al Jazeera Mubasher, Ola Abu Moamar, sisa-sisa puing di lokasi ledakan berbicara lebih keras dari kata-kata. Di atas atap rumah keluarganya, tempat tenda pengantin itu didirikan, barang-barang seserahan, dekorasi bunga, dan undangan pernikahan yang belum sempat dibagikan kini berserakan, tertimbun debu mesiu yang pekat.

Senyum Terakhir di Malam Henna

Muhammad Mahmoud Al-Qudra, kerabat dekat sekaligus calon ipar korban, menuturkan dengan mata berkaca-kaca betapa Muhannad sangat bersemangat menyiapkan hari besarnya. Sore hari sebelum serangan, seluruh keluarga besar masih berkumpul, tertawa, dan menyanyi bersama dalam perayaan malam henna, tradisi pranikah melepas masa lajang.

“Muhannad menyelesaikan semua dekorasi tenda ini sendiri. Ia ingin semuanya tampak indah untuk menyambut pengantin perempuannya. Setelah semua rapi, ia pamit tidur di dalam tenda itu sekitar jam tiga subuh. Tak lama setelah ia memejamkan mata, bom itu jatuh tepat di atas kepalanya. Pesta pernikahan kami berubah menjadi iringan jenazah dalam sekejap mata,” tutur Al-Qudra pilu.

Al-Qudra menegaskan, tenda tersebut sudah diisi dengan seluruh perabotan rumah tangga hasil tabungan Muhannad selama bertahun-tahun di tengah impitan ekonomi Gaza. Yang membuat keluarga kian terpukul, tenda pernikahan tersebut sengaja didirikan di atas atap rumah keluarga yang berada di zona yang diklaim oleh militer Israel sendiri sebagai “wilayah aman” (safe zone) dan jauh dari titik kontak senjata.

Bunga Pengantin untuk Menghias Keranda

Kesaksian serupa disampaikan oleh Ahmad Usman Farwana, kakak kandung mendiang. Ahmad menceritakan pemandangan mengerikan saat ia pertama kali berlari ke atas atap setelah mendengar dentuman bom yang memekakkan telinga. Rumah itu sudah diselimuti api dan asap hitam.

“Bunga-bunga mawar yang kami beli kemarin untuk menyambut kedatangan pengantin perempuan, pagi ini terpaksa kami gunakan untuk menghias keranda jenazah adik saya,” ucap Ahmad dengan suara bergetar menahan tangis.

Proses evakuasi jasad Muhannad berjalan sangat dramatis. Tim paramedis dan petugas pemadam kebakaran pertahanan sipil Gaza sempat terhambat menuju lokasi akibat rusaknya akses jalan dan minimnya bahan bakar operasional truk mereka.

Bahkan saat Ola Abu Moamar melaporkan langsung dari lokasi puing-puing tenda, suara rentetan tembakan senapan mesin masih terdengar jelas bergema di langit Khan Younis, meneror psikologis warga yang sedang mengumpulkan sisa-sisa jasad Muhannad.

Keluarga besar Farwana kini hanya bisa menatap nanar jas pengantin yang tak akan pernah dipakai itu. Di hadapan media, mereka mengetuk hati nurani komunitas internasional dan lembaga-lembaga kemanusiaan sejagat untuk menghentikan pembiaran pembantaian warga sipil ini.

Bagi mereka, kisah Muhannad adalah bukti otentik bahwa di Gaza hari ini, mesin perang tidak hanya menghancurkan beton dan aspal, tetapi juga dengan tega merampas hak paling mendasar seorang manusia: hak untuk mencintai, menikah, dan menua bersama di tanah air sendiri.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here