RAMALLAH — Pusat Studi Tahanan Palestina (Palestine Center for Prisoner Studies) memperingatkan situasi yang makin memprihatinkan dan membahayakan keselamatan para tawanan Palestina di dalam penjara-penjara Israel.

Otoritas penjajah Israel sengaja memanfaatkan gelombang panas ekstrem dan cuaca terik untuk melancarkan aksi balas dendam serta melipatgandakan penderitaan para tahanan.

Dalam pernyataan resminya pada Kamis (23/7/2026), pusat studi tersebut mengungkapkan bahwa pihak manajemen penjara Israel secara terencana memperketat kondisi penyiksaan iklim dengan merampas hak-hak dasar atas ventilasi udara yang dapat meredakan sengatan panas.

Pengelola penjara bahkan sengaja menutup lubang-lubang ventilasi di sejumlah blok dan sel isolasi menggunakan lembaran plat besi tebal, membatasi sirkulasi udara alami yang masuk ke dalam ruangan.

Langkah punitif ini merupakan bagian dari eskalasi penindasan bertubi-tubi sejak 7 Oktober 2023. Pihak penjara sebelumnya telah menyita seluruh kipas angin dari sel-sel tawanan (satu-satunya sarana bagi para tahanan untuk bertahan dari terik matahari) hingga mengubah ruang-ruang sempit tersebut menjadi bilik pengap yang mengancam nyawa.

Kepadatan Ekstrem dan Fasilitas Seadanya

Pusat Studi Tahanan Palestina menyoroti bahwa kompleks penjara Israel kini mengalami penumpukan kapasitas (overcrowding) yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini dipicu oleh gelombang penangkapan massal yang terus dilancarkan militer Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Terbakar.

Akibatnya, jumlah tahanan yang dimasukkan ke dalam satu ruangan melampaui ambang batas rasional:

  • Tidur di Lantai: Banyak tahanan terpaksa tidur berhimpitan di atas lantai tanpa alas yang layak di tengah tingginya suhu dan kelembapan udara.
  • Pembatasan Waktu Luang: Waktu keluar sel (fura) dipangkas drastis, bahkan dilarang sepenuhnya di beberapa penjara.
  • Keterbatasan Air: Para tahanan terpaksa menggunakan air seadanya dengan membasahi pakaian dan selimut mereka secara berulang kali demi mengurangi rasa gerah dan kelelahan fisik.

Kondisi tidak manusiawi ini memicu komplikasi kesehatan serius, terutama bagi kelompok tahanan yang menderita penyakit kronis, warga lansia, serta anak-anak bawah umur.

Abaikan Tuntutan dan Abaikan Hukum Internasional

Pihak manajemen penjara secara konsisten menolak seluruh permintaan dan tuntutan tahanan untuk mengembalikan kipas angin, menyediakan sarana pendingin, atau sekadar membuka kembali jendela-jendela yang dilas besi.

“Tindakan ini merupakan bagian dari pendekatan terencana untuk memperketat kondisi penahanan dan memaksakan lingkungan yang brutal guna merusak kesehatan fisik maupun mental para tahanan,” tegas Pusat Studi Tahanan Palestina.

Lembaga tersebut memperingatkan bahwa pembiaran ini merupakan bentuk hukuman kolektif (collective punishment) yang melanggar hukum humaniter internasional, terlebih di tengah krisis perawatan medis yang memprihatinkan di dalam penjara.

Pusat Studi Tahanan Palestina mendesak lembaga-lembaga hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional untuk segera turun tangan menekan otoritas pendudukan Israel agar menghentikan pelanggaran ini dan menyediakan kondisi penahanan yang sesuai dengan standar internasional.

Saat ini, lebih dari 9.400 tawanan Palestina harus bertarung saban hari melawan sengatan musim panas yang membakar di dalam sel-sel penjara Israel yang kian tidak manusiawi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here