PALESTINA 48 — Perang yang berkecamuk di Jalur Gaza kini melahirkan dampak tak terduga yang berbalik menyerang wilayah dijajah Israel. Surat kabar harian Israel, Haaretz, melaporkan adanya ledakan populasi dan “invasi tak biasa” dari ribuan hewan pengerat dalam beberapa pekan terakhir. Hewan-hewan ini menggerogoti pos-pos militer tentara Israel dan pemukiman (moshav) yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza.

Tak sekadar merusak fasilitas, serangan hama ini mulai mengancam keselamatan jiwa. Laporan tersebut mencatat setidaknya 10 orang telah menjadi korban gigitan tikus. Bahkan dalam dua tahun terakhir, beberapa kasus anak-anak pemukim Israel yang digigit tikus terverifikasi makin marak.

Para Tentara Israel yang disiagakan di sebelah timur Gaza pun dilaporkan makin kewalahan menghadapi gangguan hama yang kian tak terkendali ini.

Laporan awal ledakan populasi ini mulanya terdeteksi di kawasan Dewan Regional Eshkol, membentang dari Kerem Shalom hingga Kissufim. Namun belakangan, wilayah yang berada lebih jauh di utara seperti Nahal Oz dan Kfar Aza juga mulai melaporkan krisis serupa.

Pertanian Anjlok dan Pemukiman Terpungung

Invasi ini melibatkan berbagai jenis hewan pengerat, mulai dari tikus rumah, gerbil (tikus ladang), hingga tikus got (rat). Dampaknya terhadap sektor pertanian amat memukul; serangan gerbil tercatat merusak ladang kacang tanah di kawasan tersebut hingga memangkas hasil panen sampai 70 persen.

Di dalam pemukiman, keberadaan tikus sudah sampai pada tahap mengkhawatirkan. Seorang warga mengaku telah membunuh dan membuang tak kurang dari 100 ekor tikus dari dalam rumahnya. Warga lain menyatakan belum pernah menyaksikan fenomena mengerikan seperti ini sepanjang hidupnya.

Pihak Dewan Regional Eshkol mengonfirmasi bahwa penyerbuan hama ini telah menyasar fasilitas umum, lembaga pendidikan, hingga area terbuka. Fenomena ini memicu ketakutan luar biasa terkait saniter dan potensi krisis kesehatan publik.

Melihat banjirnya pengaduan warga, para pejabat setempat menyimpulkan bahwa masalah ini bukan lagi sekadar krisis lokal yang sepele. Dewan Regional Eshkol akhirnya mengambil langkah darurat dengan menghubungi Kementerian Pertanian, Kementerian Perlindungan Lingkungan, dan Kementerian Kesehatan, serta menggalang koordinasi bersama militer Israel untuk melakukan tindakan pembasiman massal.

Dampak Perang dan Kerusakan Ekosistem

Sejumlah pakar mengaitkan ledakan populasi hama ini dengan kehancuran lingkungan akibat perang yang dilancarkan Israel ke Jalur Gaza. Sisi perbatasan Gaza yang terlantar akibat pertempuran sengit dan pendudukan militer memberikan ruang aman yang sempurna bagi tikus untuk membuat sarang dan berkembang biak tanpa terganggu.

Faktor iklim turut mempercepat ledakan populasi ini. Tingginya curah hujan pada musim dingin lalu yang disusul cuaca hangat saat musim semi menciptakan kondisi ideal bagi reproduksi tikus. Secara biologis, tikus memiliki daya berkembang biak yang sangat masif, seekor tikus betina mampu melahirkan 7 anak sekaligus dan berproduksi hampir setiap bulan.

Ironisnya, krisis lingkungan di perbatasan ini berakar dari hancurnya infrastruktur di dalam Gaza sendiri. Sejak 7 Oktober 2023, agresi militer Israel yang didukung Amerika Serikat telah meluluhlantakkan sekitar 90 persen infrastruktur dasar Gaza, termasuk sistem pembuangan sampah dan saluran air bersih.

Ketegaran Tel Aviv yang menutup perbatasan serta memblokir masuknya bantuan kemanusiaan, alat berat, dan bahan bangunan untuk perbaikan sanitasi tak hanya menyengsarakannya warga Gaza, tetapi kini berbalik menciptakan bumerang ekologis yang mengancam wilayah perbatasan Israel sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here