NABLUS — Bagi Ohood Khudair, seorang nenek asal Nablus, Tepi Barat, belasan ekor domba yang dipeliharanya di pelataran rumah bukan cuma hewan ternak. Hewan-hewan itu adalah urat nadi kehidupan, penopang ekonomi keluarga, sekaligus teman hidup yang ia rawat dengan penuh kasih sayang selama bertahun-tahun.

Namun, seluruh jerih payahnya ludes dalam sekejap pada Jumat lalu setelah sekelompok pemukim Yahudi menyerbu peternakan kecilnya dan mencuri seluruh dombanya.

Ohood memulai usahanya dari nol dengan membeli domba-domba itu saat masih kecil. Hari demi hari ia beri makan, ia gembalakan, hingga berkembang biak dari semula hanya delapan ekor menjadi 20 ekor. Nenek Ohood bahkan mengenali karakteristik tiap-tiap dombanya dan memperlakukan mereka bak anggota keluarga sendiri.

“Saya tak hanya kehilangan belasan ekor domba, tapi saya kehilangan proyek hidup yang saya bangun berdarah-darah. Saya kehilangan sumber penghidupan yang terikat dengan tetes keringat, waktu, dan ikatan batin dengan hewan-hewan yang menemani saya bertahun-tahun,” tutur Ohood dengan suara bergetar menahan duka.

Dengan mata berkaca-kaca, ia mengenang kebiasaannya setiap kali datang dari pusat kota menuju kandangnya. “Biasanya begitu melihat saya datang, domba-domba itu langsung berlari menghampiri seperti anak-anak kecil yang menyambut ibunya,” ucapnya.

Kini, tempat yang biasanya riuh oleh suara ternak itu mendadak sunyi. Dalam rekaman video yang beredar, Nenek Ohood tampak berjalan gontai menatap kandangnya yang sudah kosong melompong. Di kejauhan, terlihat para pemukim Yahudi menggiring domba-domba miliknya ke atas truk sebelum memacunya pergi. Peristiwa tersebut membuat Ohood terguncang hebat dan jatuh pingsan berulang kali.

Teror Sistematis di Kota Beita

Aksi perampokan ternak yang menimpa Ohood bukanlah insiden tunggal. Peristiwa ini merupakan bagian dari gelombang teror yang kian meluas di Kotadya Beita, sebelah selatan Nablus. Para warga setempat menyebutkan bahwa serangan-serangan brutal ini kerap bersumber dari para pemukim di pos liar (outpost) Avitar yang didirikan di atas tanah warga Beita, Qabalan, dan Yatma.

Pada hari yang sama, kelompok pemukim Yahudi dengan pengawalan ketat tentara Israel menyerbu pemukiman warga di kawasan Al-Dhahra dan Sahl Al-Harah Al-Tahta di Beita. Selain menjarah ternak, mereka juga melakukan aksi kekerasan fisik.

Lembaga Perlindungan Hak Asasi Manusia “Al-Baydar” melaporkan, kawanan pemukim membobol salah satu rumah warga di Beita dan menganiaya seorang pria beserta anak-anaknya hingga mengalami luka-luka.

Tak berhenti di situ, aparat militer Israel melengkapi tekanan tersebut dengan menerbitkan perintah pengosongan dua unit rumah warga atas nama Basil Ibrahim Abdul Karim Daoud dan Zakariya Daoud di wilayah barat Beita.

Otoritas Penjajah Israel memberi tenggat waktu hanya 72 jam bagi kedua keluarga tersebut untuk mengangkat kaki dari rumah mereka sendiri.

Di tengah rampasan aset, pengusiran, dan penganiayaan yang makin merajalela, warga Nablus kini tak hanya berjuang mempertahankan hak atas tanah mereka, tetapi juga berjuang menyelamatkan sisa-sisa mata pencaharian yang tersisa demi bertahan hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here