Kamis pagi ini, Al-Aqsa tak lagi milik jamaah umat Islam. Ratusan pemukim Yahudi merangsek masuk, melakukan ritual di pelataran suci, sementara warga Palestina dipaksa menonton dari balik barikade beton dan pengusiran fisik.


Al-Quds – Suasana di kompleks Masjid Al-Aqsa, Kamis pagi, 14 Mei 2026, tak ubahnya sebuah instalasi militer. Sejak fajar menyingsing, otoritas keamanan Israel telah menyumbat akses bagi warga Palestina. Di saat yang sama, pintu-pintu gerbang dibuka lebar bagi ratusan pemukim Yahudi yang datang dengan pengawalan bersenjata lengkap.

Laporan dari Kantor Kegubernuran Al-Quds menyebutkan aksi ini dipimpin langsung oleh tokoh-tokoh garis keras, termasuk anggota Knesset (Parlemen Israel) Ariel Kellner dan rabi ekstremis Yehuda Glick. Dalam tiga jam pertama saja, tak kurang dari 422 pemukim telah menginjakkan kaki di situs tersuci ketiga umat Islam tersebut.

“Mereka melakukan ritual Talmud di tengah pelataran, sementara kami dilarang masuk,” ujar seorang saksi mata di lokasi.

Al-Aqsa yang “Dikosongkan”

Prosedur pengosongan paksa ini berlangsung sistematis. Polisi Israel menerapkan batasan usia yang ketat: laki-laki di bawah 60 tahun dan perempuan di bawah 50 tahun dilarang keras mendekat sejak subuh. Bagi mereka yang mencoba bertahan, aparat tak segan menggunakan kekerasan fisik—dorongan dan pukulan dilaporkan terjadi di pintu-pintu masuk utama.

Di dalam kompleks, pemandangan lebih getir terlihat. Sekitar 150 Muslim (terdiri dari staf Departemen Wakaf Islam dan siswa sekolah syariah yang sedianya menempuh ujian akhir) dipaksa masuk ke dalam bangunan tertutup. Mereka dilarang berada di area terbuka agar pelataran masjid benar-benar steril bagi para pemukim yang terus berdatangan.

Selebrasi Pendudukan: Balada “Mati untuk Arab”

Aksi hari ini bukan tanpa rencana. Ini adalah puncak dari seruan kelompok sayap kanan untuk memperingati “Hari Yerusalem” versi kalender Ibrani, sebuah perayaan atas pendudukan Yerusalem Timur pada perang 1967.

Kemarin, Rabu, Yitzhak Wasserlauf (Menteri Urusan Negev dan Galilea dari partai ekstrem Otzma Yehudit) telah memulai “pemanasan” dengan melakukan kunjungan provokatif serupa. Puncaknya adalah sore nanti, di mana sekitar 50.000 pemukim diperkirakan akan tumpah ruah dalam “Parade Bendera”.

Parade ini telah lama dikenal sebagai ajang intimidasi. Massa akan melintasi permukiman Palestina di Kota Tua sambil meneriakkan yel-yel rasis, termasuk slogan yang paling menghina kemanusiaan: “Mati untuk Arab.”

Kota Tua yang Mati Suri

Dampak dari pengamanan berlebih ini melumpuhkan denyut ekonomi Kota Tua. Aparat memaksa para pedagang Palestina menutup toko mereka sepanjang hari. Jalanan yang biasanya riuh dengan aktivitas warga kini berubah menjadi koridor steril bagi jalannya parade.

Langkah sepihak Israel yang mengizinkan pemukim masuk ke Al-Aqsa telah berlangsung sejak 2003, mengabaikan protes keras dari Departemen Wakaf Islam Yordania yang secara legal mengelola situs tersebut. Namun, yang terjadi belakangan ini jauh lebih berani: polisi kini tak lagi sekadar membiarkan kunjungan, tapi secara terang-terangan melindungi mereka yang membawa alat sembahyang, bernyanyi, hingga melakukan sujud, sebuah pelanggaran fatal terhadap Status Quo sejarah Yerusalem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here