Kesepakatan damai yang diteken Oktober lalu kian kehilangan taringnya. Ahad (10/5), serangan udara dan artileri Israel kembali mencabik Gaza, menyebabkan seorang perwira polisi senior dan warga sipil syahid. Di lapangan, “pelanggaran harian” telah menjadi normalitas baru yang mematikan.
Langit di atas lingkungan Al-Amal, Khan Younis, baru saja mulai terang ketika sebuah ledakan memekakkan telinga menghantam sebuah mobil yang melintas, Ahad pagi. Di dalam rongsokan besi yang terbakar itu, Wisam Faiz Abdel Hadi, Direktur Investigasi Kriminal Kepolisian Khan Younis, dan Sersan Fadi Abdel Maati Heikal, meregang nyawa.
Kematian dua aparat penegak hukum ini adalah potret paling gres dari rapuhnya perjanjian gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak 10 Oktober 2025. Israel tak hanya menyerang dari udara; saksi mata melaporkan dentuman meriam artileri juga mengguncang Kota Al-Qarara, wilayah utara Khan Younis.
Ironisnya, serangan di Khan Younis dan wilayah tengah Gaza ini menyasar zona-zona yang menurut peta kesepakatan berada di luar jangkauan operasi militer Israel. Namun, di lapangan, garis-garis di atas peta itu tampak tak lebih dari sekadar coretan di atas kertas yang mudah diabaikan.
Teror dari Langit dan Laut
Bencana tak berhenti di Khan Younis. Di Kamp Al-Maghazi, Gaza Tengah, sebuah drone pengintai menjatuhkan amunisi ke kerumunan warga. Hasilnya: satu orang tewas dan dua lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, Deir al-Balah.
Beralih ke pesisir Gaza, ceritanya tak kalah getir. Dua nelayan yang sedang mengadu nasib mencari nafkah justru harus berhadapan dengan timah panas. Kapal-kapal perang Israel melepaskan rentetan senapan mesin dan peluru kendali ke arah garis pantai. Alih-alih mendapatkan ikan, kedua nelayan itu pulang dengan luka tembak.
Permainan “Kucing-Kucingan” di Netzarim
Di wilayah Selatan Kota Gaza, tepatnya di koridor Netzarim, militer Israel melakukan taktik yang sudah terbaca namun tetap mencemaskan. Tank dan kendaraan lapis baja mereka merangsek masuk ratusan meter melintasi garis demarkasi, dibarengi dengan bombardir artileri di kawasan Lembah Gaza, dekat Jalan Salah al-Din.
Pola ini berulang: masuk, menggempur selama beberapa jam, lalu mundur kembali ke pos-pos yang ditentukan dalam perjanjian. Sebuah intimidasi fisik yang rutin dilakukan untuk menjaga ketegangan tetap tinggi.
Sementara itu, di wilayah Timur Kota Gaza, suara ledakan raksasa sempat memicu kepanikan. Bukan rudal, melainkan operasi penghancuran terencana. Tentara Israel meledakkan blok-blok pemukiman dan fasilitas sipil di area penempatan mereka, mengubah sisa-sisa peradaban menjadi debu dalam sekejap.
Vonis dalam Angka
Korban sipil yang paling memilukan hari ini adalah seorang bocah perempuan di Beit Lahia, Gaza Utara. Ia tertembak di area Tal al-Dhahab, wilayah yang, lagi-lagi, seharusnya steril dari operasi militer menurut pakta damai.
Sejak gencatan senjata dimulai tujuh bulan lalu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka yang menggigit:
- 850 nyawa melayang akibat pelanggaran tembakan dan pengeboman.
- 2.433 orang luka-luka.
Tragedi ini menjadi lampiran hitam dari perang dua tahun yang dimulai Oktober 2023. Perang yang telah menelan lebih dari 72.000 jiwa, melukai 172.000 orang, dan menyapu bersih 90 persen infrastruktur sipil di Gaza.
Bagi warga Gaza, gencatan senjata 2025 bukanlah akhir dari ketakutan. Ia hanya transformasi perang dari invasi besar-besaran menjadi “kematian lewat seribu sayatan” yang datang setiap hari melalui moncong senjata dan drone yang tak pernah berhenti mengintai di atas kepala.
Sumber: Anadolu Agency










