AL-QUDS — Eskalasi ketegangan kembali memuncak di Kota Tua Al-Quds. Ratusan pemukim Yahudi kembali menerobos masuk ke dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di bawah pengawalan ketat aparat keamanan Israel, Ahad (19/7/2026). Aksi ini beriringan dengan langkah provokatif otoritas pendudukan yang melayangkan surat perintah pengosongan puluhan rumah warga Palestina di pinggiran utara kota.
Kantor Pemerintah Provinsi Al-Quds (Jerusalem Governorate) mengonfirmasi bahwa setidaknya 214 pemukim mendatangi area suci tersebut dalam beberapa kelompok terpisah, yang terbagi dalam dua gelombang kunjungan: pagi dan sore hari.
Meningkatnya gelombang penerobosan ini sejalan dengan temuan Lembaga Informasi Wadi Hilweh. Pusat hak asasi manusia berbasis di Yerusalem tersebut mencatat tak kurang dari 1.639 pemukim Yahudi menerobos masuk ke area Masjid Al-Aqsa sepanjang pekan lalu saja.
Penyekatan Aktivis dan Ancaman Pembongkaran Massal
Bersamaan dengan penerobosan tersebut, militer Israel mengeluarkan dekrit pembatasan akses (deportasi sementara) dari kompleks Al-Aqsa terhadap sejumlah tokoh dan aktivis Palestina. Di antara nama yang menjadi sasaran adalah anggota Komite Aksi Nasional Yerusalem, Ahmed Al-Safadi, serta aktivis kenamaan Nasser Al-Hadmi.
Tak hanya menyasar tokoh masyarakat, tekanan fisik juga menyasar pemukiman warga. Di kawasan Kafr Aqab, sebelah utara Al-Quds, otoritas penjajah Israel membagikan instruksi pengosongan paksa terhadap 22 rumah warga Palestina sebagai persiapan pembongkaran.
“Aparat memberi tenggat waktu paling lambat satu minggu bagi pemilik rumah untuk mengosongkan bangunan. Unit-unit ini merupakan bagian dari target 30 rumah yang telah dijatuhi vonis pembongkaran,” tulis Pemerintah Provinsi Yerusalem dalam keterangan resminya.
Invasi Kamp Qalandia dan Pemasangan Pos Militer
Tak jauh dari Kafr Aqab, pasukan militer Israel juga menggelar penggerebekan ke Kamp Pengungsi Qalandia. Armada lapis baja dikerahkan mengepung pintu masuk utama sebelum merangsek ke pemukiman padat penduduk. Aparat menggeledah rumah-rumah warga secara acak, merusak perabotan, dan menangkap seorang penduduk setempat.
Dalam operasi tersebut, tentara Israel menduduki atap gedung Komite Populer (Popular Committee) serta kantor perwakilan Pemerintah Provinsi Al-Quds untuk dijadikan pos pengamatan. Mereka menembakkan gas air mata dan bom granat suara secara masif ke arah pemukiman warga saat operasi berlangsung hingga pasukan ditarik mundur.
Langkah pencaplokan ruang gerak warga Palestina ini makin dipertegas dengan penempatan blok-blok beton baru di sepanjang jalan yang menghubungkan Beit ‘Anan dan Beit Liqya, sebelah barat laut Yerusalem. Pemasangan barikade beton ini disinyalir kuat sebagai persiapan akhir sebelum dibukanya pos pemeriksaan militer (gerbang besi) baru yang akan memutus konektivitas antarwilayah Palestina.










