GAZA – Kelompok perlawanan Palestina dilaporkan berhasil menjebak dan menyergap sekelompok milisi yang menjadi kolaborator atau kaki tangan Israel di pusat Kota Khan Yunis, Senin (20/4/2026).

Laporan dari Palestinian Information Center menyebutkan, ketegangan bermula ketika tiga kendaraan milik geng pengkhianat mencoba menyusup secara diam-diam di dekat Bundaran Abu Hamid, pusat kota Khan Yunis.

Namun, pergerakan mereka tidak berjalan mulus. Unit keamanan perlawanan Gaza berhasil mengendus kehadiran mereka. Baku tembak pun tak terhindarkan. Satu kendaraan milisi dilaporkan hancur total setelah terkena hantaman rudal langsung, menyebabkan seluruh penumpang di dalamnya tewas dan luka-luka.

Dalam sejumlah video amatir yang beredar di media sosial, terlihat kepulan asap hitam membumbung dari kendaraan yang terbakar. Beberapa anggota milisi tampak melarikan diri di tengah suara rentetan senjata yang memekakkan telinga.

Menariknya, militer Israel merespons dengan cepat untuk menyelamatkan sisa-sisa kelompok kolaborator ini. Helikopter dan jet tempur Israel dikerahkan untuk memberikan perlindungan udara dan tembakan artileri guna memuluskan pelarian sisa-sisa milisi tersebut dari kepungan kelompok perlawanan.

Pasukan “Rad’e”(unit khusus di bawah faksi perlawanan) menyatakan akan segera merilis detail operasi penyergapan ini ke publik.

Warga Sipil Jadi Korban di Rafah

Sayangnya, aksi milisi ini juga membawa kabar duka di wilayah lain. Di Rafah, tepatnya di sekitar Masjid Muawiyah, serangan membabi buta dari kelompok bersenjata yang didukung militer Israel menewaskan seorang wanita bernama Rasha Abu Jazar (43) dan melukai lima warga lainnya.

Seorang sumber keamanan mengungkapkan bahwa kelompok milisi ini merangsek masuk dengan kendaraan dan melepaskan tembakan secara acak ke arah warga Palestina.

“Pasukan Israel turun tangan melindungi gerombolan ini. Mereka melepaskan tembakan dan bom dari drone ke arah pejuang faksi dan warga sipil di sana,” ujar sumber tersebut.

Strategi ‘Milisi Lokal’ Benjamin Netanyahu

Kemunculan milisi-milisi ini sebenarnya sudah diprediksi sejak tahun lalu. Pada Juni 2025, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang kini berstatus buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC)—terang-terangan mengakui bahwa pihaknya mempersenjatai milisi lokal di Gaza untuk melawan pengaruh Hamas.

Hamas sendiri berkali-kali melayangkan protes dan menyebut kelompok ini beroperasi di zona-zona yang seharusnya tunduk pada perjanjian gencatan senjata sejak Oktober 2025.

Pada Februari 2026 lalu, sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, bahkan sempat mengeluarkan ultimatum keras. Mereka bersumpah akan memburu dan mengeksekusi setiap kolaborator yang bekerja untuk Israel. “Musuhmu (Israel) tidak akan mampu melindungimu,” tulis pernyataan Al-Qassam saat itu.

Kini, meski kesepakatan damai secara teknis masih berlaku, bara api di Gaza belum benar-benar padam. Perang bayangan melalui milisi kolaborator ini menjadi ancaman baru di tengah upaya warga Gaza memulihkan diri dari kehancuran total akibat perang dua tahun terakhir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here