GAZA – Skala kehancuran di Jalur Gaza pasca-dua tahun agresi militer Israel kini terbentang dalam angka yang menyesakkan dada. Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama Uni Eropa menaksir Gaza membutuhkan dana sedikitnya 71,4 miliar dolar AS atau setara Rp 1.130 triliun lebih untuk membiayai pemulihan dan rekonstruksi selama satu dekade ke depan.
Angka fantastis ini muncul bukan tanpa alasan. Penilaian cepat terhadap kerusakan dan kebutuhan (Rapid Damage and Needs Assessment) yang disusun bersama Bank Dunia tersebut menyoroti betapa “perang pemusnahan” telah memundurkan pembangunan manusia di Gaza hingga 77 tahun ke belakang. Gaza hari ini seolah terlempar kembali ke masa lalu akibat hancurnya sendi-sendi kehidupan.
Dari total kebutuhan tersebut, sekitar 26,3 miliar dolar AS harus segera dikucurkan dalam 18 bulan pertama. Dana mendesak ini diperlukan untuk memulihkan layanan dasar, membangun kembali infrastruktur vital yang luluh lantak, serta memantik kembali napas ekonomi warga yang sempat mati suri.
Luka Fisik dan Lumpuhnya Ekonomi
Dalam laporan yang dirilis Senin (21/4), kerugian fisik akibat kerusakan infrastruktur diperkirakan mencapai 35,2 miliar dolar AS. Sementara itu, kerugian ekonomi dan sosial menyentuh angka 22,7 miliar dolar AS. Sektor perumahan menjadi yang paling remuk dengan lebih dari 371.888 unit hunian warga yang rusak hingga hancur total.
Kondisi fasilitas publik pun tak kalah tragis. Lebih dari 50 persen rumah sakit tidak lagi berfungsi, hampir seluruh sekolah rusak, dan roda ekonomi menyusut drastis hingga 84 persen. Di tengah puing-puing bangunan, nyawa manusia terus melayang. Data Kementerian Kesehatan di Gaza mencatat angka martir telah menembus 72.551 jiwa sejak Oktober 2023, dengan 1,9 juta orang terpaksa mengungsi di tanah mereka sendiri.
Laporan internasional tersebut menegaskan bahwa beban terberat dari tragedi ini dipikul oleh perempuan, anak-anak, serta penyandang disabilitas yang sebelumnya memang sudah dalam kondisi rentan.
Menuju Kedaulatan Palestina
PBB dan Uni Eropa menggarisbawahi bahwa rekonstruksi Gaza bukan sekadar membangun gedung, melainkan harus dipimpin langsung oleh bangsa Palestina sendiri. Pemulihan ini harus menjadi jembatan menuju transisi pemerintahan di bawah otoritas resmi Palestina, sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803.
Ada dua syarat mati yang ditegaskan dalam laporan tersebut demi keberhasilan pembangunan kembali Gaza:
- Rekonstruksi fisik dan institusi Gaza yang menyeluruh.
- Adanya peta jalan yang jelas bagi berdirinya negara Palestina yang berdaulat di seluruh wilayah pendudukan.
Namun, semua rencana mulia itu mustahil terwujud tanpa adanya gencatan senjata permanen dan jaminan keamanan yang memadai. Akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, kebebasan pergerakan barang dan orang, serta sistem keuangan yang transparan menjadi prasyarat mutlak agar dana internasional tidak menguap sia-sia.
Kini bola panas berada di tangan masyarakat internasional. Mereka memikul tanggung jawab besar untuk memobilisasi sumber daya dan meruntuhkan segala tembok hambatan yang menghalangi pengiriman bantuan serta tenaga ahli ke Gaza. Tanpa komitmen nyata, angka 71,4 miliar dolar AS tersebut hanyalah statistik kering di atas tumpukan puing-puing penderitaan rakyat Palestina.
Sumber: Al Jazeera / Perserikatan Bangsa-Bangsa










