GAZA — Di tengah kepungan gumpalan debu dan deru mesin perang yang merenggut panggung masa kecil mereka, Malak Al-Tilmis menemukan setitik ruang untuk tersenyum. Lewat petikan senar gitar, bocah perempuan di Gaza ini perlahan menuntaskan hasrat lamanya, menguasai alat musik sekaligus meluapkan sesak dada yang bertumpuk selama perang melanda.
Upaya menghadirkan secercah kehangatan itu digerakkan oleh Institut Musik Nasional Edward Said. Di tengah keterbatasan alat dan fasilitas, para pengajar mendatangi pusat-pusat penampungan darurat demi menjangkau anak-anak korban konflik. Ketika bangunan fisik gedung institut tak lagi dapat diakses akibat situasi keamanan, jalanan dan tenda pengungsian disulap menjadi panggung belajar.
Melupakan Duka Lewat Alunan Musik
Malak menceritakan awal mula keterlibatannya. Saat berada di lokasi penampungan yang berlokasi di area sekolahnya, ia secara tidak sengaja melihat ruangan yang digunakan untuk kelas musik.
“Saya masuk, mendaftarkan nama, dan mulai belajar setelah mereka menyambut saya dengan hangat,” ujar Malak.
Bagi Malak, musik dan nyanyian adalah penawar duka. Dua kali seminggu, ia rutin mengikuti sesi latihan gitar. Melalui tiap nada yang ia petik, ia mengaku bisa sejenak menepi dari duka masa lalu dan bayang-bayang trauma akibat perang berlarut.
Rasa bahagia serupa dirasakan Yazan Al-Tilmis. Pembawaan bakat menyanyi dan kecintaannya pada alat musik oud sejak kecil membuat Yazan antusias mengikuti program tersebut.
“Ketika ada yang bersedia membimbing dan mengasah bakat ini, tentu saya akan menyambutnya dengan senang hati,” tutur Yazan.
Diiringi alunan lagu legendaris karya penyanyi Lebanon Fairuz, Nassam Alayna El Hawa (“Hembuskan Angin Sejuk ke Arah Kami”), Yazan menyelipkan asa. Ia membayangkan sang kakak, Muhannad, yang kini terbaring akibat luka-luka, bisa berada di sisinya untuk bermain musik bersama sambil melantunkan bait lirik: “Wahai angin, bawalah aku kembali ke tanah airku…”
Menandingi Gemuruh Bom
Koordinator Kegiatan Institut Musik Edward Said, Fuad Khader, menjelaskan bahwa program edukasi yang dijalankan saat ini mencakup latihan paduan suara, vokal kelompok, hingga instrumen khusus seperti biola, oud, gitar, dan alat musik perkusi.
Sebelum perang pecah, institut ini beroperasi secara terstruktur di dalam ruang kelas permanen. Namun, situasi perang memaksa para instruktur mengubah pendekatan secara total. Mereka kini bergerak mendatangi lokasi-lokasi pengungsian dari utara hingga selatan Gaza untuk memberikan pendampingan psikososial (trauma healing) berbasis seni.
Selain kelas instrumen, tim pengajar merancang permainan interaktif berbasis irama. Lewat aktivitas ini, anak-anak diajak melepas kepenatan psikologis dan menyadari bahwa indahnya alunan lagu serta ketukan irama sanggup bergaung lebih nyaring dibanding gemuruh roket dan ledakan bom.










