TEL AVIV – Malam perayaan hari jadi Israel ke-78 diwarnai riuh yang tak biasa. Di tengah seremoni menyalakan obor yang sakral, sosok Avraham Zarviv berdiri gagah. Namun, bagi organisasi hak asasi manusia B’Tselem, kehadiran sang rabi di panggung utama itu bukan sekadar seremoni. Itu adalah sinyal bahwa narasi genosida kini telah resmi diadopsi sebagai ideologi negara.
Keputusan Menteri Transportasi Miri Regev memilih Zarviv untuk menyalakan satu dari 12 obor suci memicu kecaman keras. Masalahnya, sumbangsih Zarviv yang dianggap “luar biasa” oleh pemerintah adalah perannya sebagai sopir buldoser cadangan militer yang bertugas meratakan permukiman di Jalur Gaza sejak Oktober 2023.
“Memberikan penghormatan tertinggi kepada pelaku kejahatan perang yang bangga telah meratakan Gaza membuktikan satu hal, dehumanisasi terhadap warga Palestina sudah berakar di jantung arus utama Israel,” tulis B’Tselem dalam pernyataan resminya, Rabu.
Liturgi di Atas Buldoser
Zarviv bukan tentara biasa. Di kehidupan sipil, ia adalah hakim di pengadilan rabi di pemukiman Ariel, Tepi Barat, sekaligus direktur sekolah persiapan militer di pemukiman Beit El. Ia mendidik ratusan pemuda Israel dengan ideologi radikal yang kini ia praktikkan di lapangan.
Selama ratusan hari penugasannya di Gaza, Zarviv kerap mengunggah video dirinya sedang menghancurkan bangunan sipil. Alih-alih terlihat seperti operasi militer standar, aksi Zarviv lebih menyerupai ritual keagamaan.
Dalam beberapa cuplikan, ia terekam menghancurkan rumah warga sambil meniup shofar (terompet tanduk domba), berdoa, dan membacakan ayat-ayat Taurat saat alat beratnya merobek dinding beton.
“Warga Palestina tidak punya tempat untuk kembali di Rafah atau Jabalia,” ujar Zarviv dengan nada jemawa dalam sebuah wawancara televisi yang dikutip B’Tselem. “Puluhan ribu keluarga tidak lagi punya dokumen, tidak ada foto masa kecil, tidak ada kartu identitas, tidak ada rumah. Mereka tidak punya apa-apa lagi.”
Pemilihan Zarviv sebagai “warga teladan” yang mewakili “semangat bangsa” dianggap sebagai titik balik yang mengerikan. B’Tselem menilai “pemerintah” Israel sengaja mengirim pesan kepada warganya dan dunia bahwa kejahatan perang kini adalah identitas nasional yang patut dirayakan.
Namanya kini identik dengan “penghancuran sistematis”. Di saat hukum internasional memburu para pelaku genosida, di Tel Aviv, sosok seperti Zarviv justru diberi panggung kehormatan. Penghancuran rumah-rumah warga Palestina yang dilakukan Zarviv bukan lagi dianggap sebagai ekses perang, melainkan sebuah “prestasi” yang layak diabadikan dengan api obor kemerdekaan.
Dengan mengangkat Zarviv ke panggung nasional, Israel seolah sedang melegitimasi bahwa genosida kini telah menjadi bagian resmi dari narasi kebangsaan mereka.










