Al-Quds — Sebuah fakta demografi yang menarik perhatian menjelang Tahun Baru Yahudi 5787 yang bertepatan secara Hijriah dengan Rabiul Awwal; Muhammad menjadi nama bayi laki-laki yang paling banyak tercatat di Israel sepanjang satu tahun sebelumnya.

Menurut daftar yang diterbitkan Population and Immigration Authority Israel, sebanyak 1.670 bayi laki-laki diberi nama Muhammad. Di bawahnya terdapat Ariel dengan 1.283 bayi, Yosef/Yousef 1.278, dan Adam 1.197. Secara keseluruhan, terdapat 179.398 kelahiran selama periode tersebut.

Bagi Israel, demografi bukan sekadar statistik penduduk. Identitas negara sebagai negara Yahudi membuat keseimbangan demografis antara Yahudi dan Arab menjadi persoalan strategis. Lembaga riset keamanan Israel, Institute for National Security Studies (INSS), secara eksplisit menyebut mayoritas Yahudi sebagai komponen penting bagi masa depan Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis.

Kajian INSS lainnya bahkan mendokumentasikan bagaimana kekhawatiran mengenai keseimbangan Yahudi-Arab pernah mendorong berbagai gagasan dan kebijakan demografis untuk memperbesar populasi Yahudi atau mengurangi proporsi Arab.

Lalu, dari mana datangnya 1,8 juta Muslim di Israel?

Jawabannya terkait langsung dengan sejarah 1948. Ketika penjajahan dimulai, Israel menyebabkan lebih dari 750.000 warga Palestina terusir atau mengungsi, sebagian masyarakat Palestina tetap berada di wilayah yang kemudian dijajah Israel. Sekitar 160.000 warga Arab tercatat tetap berada di tanah jajahan Israel pada akhir 1949 dan kemudian dicatat menjadi warga.

Mereka dan keturunannya inilah yang kemudian menjadi bagian dari populasi Arab yang kini mencapai lebih dari dua juta jiwa, dengan komunitas Muslim sebagai kelompok terbesar.

Menurut data terbaru Biro Pusat Statistik Israel, pada akhir 2025 terdapat sekitar 1,849 juta Muslim, atau 18,6 persen dari penduduk Israel. Populasi Muslim bertambah sekitar 34.000 orang dalam setahun.

Dengan kata lain, komunitas Muslim bukan sekadar sisa kecil dari masa lalu. Ia telah menjadi bagian permanen dari struktur demografis yang ternyata mengancam Israel.

Yang lebih menarik dari proporsi kelahirannya; Data kelahiran Israel untuk Januari-November 2025 mencatat 36.848 kelahiran dari ibu Muslim, dibandingkan 123.209 dari ibu Yahudi, dari total 166.987 kelahiran yang tercatat dalam periode tersebut. Itu berarti kelahiran dari ibu Muslim mencapai sekitar 22 persen, lebih tinggi daripada proporsi Muslim dalam total penduduk yang sekitar 18,6 persen.

Inilah kombinasi dari populasi Muslim yang besar, struktur usia yang relatif muda, kelahiran yang secara proporsional cukup tinggi, serta paling penting kuatnya pewarisan identitas Islam & arab.

Dalam fenomena ini, nama Muhammad sangat terkonsentrasi di komunitas Muslim. Sementara masyarakat Yahudi menggunakan pilihan nama yang jauh lebih tersebar. Terjadilah ‘Muhammad’ berada di posisi pertama dengan 1.670 bayi, yang ikut menunjukkan bahwa identitas Arab-Muslim tetap sangat kuat dalam komunitas yang mewariskannya.

Populasi Muslim di catatan Israel kini mencapai sekitar 1,85 juta jiwa. Anak-anak terus lahir. Nama, agama, keluarga dan identitas terus diwariskan. Hingga lembaga-lembaga Israel sendiri memperlakukan demografi sebagai persoalan strategis.

Maka, Muhammad menjadi nama bayi laki-laki nomor satu adalah potret kecil dari Identitas yang bertahan akan terus muncul dalam generasi baru. Dan ironinya, kali ini gambaran itu muncul bukan dari statistik Palestina, melainkan dari catatan kependudukan Israel sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here