AL-QUDS – Di panggung diplomasi internasional, frasa “gencatan senjata” di Gaza kerap didengungkan bagai mantra penenang. Namun, di lapangan, narasi itu tak lebih dari sekadar pembungkus sebuah operasi senyap yang mengerikan.

Lewat laporannya di harian Haaretz, jurnalis senior Israel, Amira Hass, membongkar apa yang luput dari sorotan kamera, sebuah strategi sistematis militer Israel untuk menghancurkan sisa-sisa ketertiban sosial dan menyeret masyarakat Gaza ke dalam pusaran anarki total.

Hass tidak sekadar menyodorkan deretan angka korban yang terus bergelimpangan. Ia membedah bagaimana mesin perang Israel secara sengaja membidik aparat sipil dan kepolisian lokal, institusi-institusi terakhir yang mati-matian menjaga tatanan sosial di tengah masyarakat yang sudah kehabisan napas.

Ada paradoks yang telanjang di sini. Di satu sisi, para personel kepolisian di Gaza bekerja dalam kondisi serba terbatas dan ekstrem: menertibkan pasar yang semrawut, memberantas kriminalitas jalanan, hingga menengahi pertikaian antar-keluarga yang meledak akibat gesekan psikologis di dalam barak pengungsian yang padat dan tanpa privasi. Di sisi lain, mereka yang memakai seragam polisi ini justru menjadi sasaran empuk moncong senapan Israel.

Birokrasi yang Bertahan di Bawah Reruntuhan

Laporan Hass memberikan catatan krusial yang kerap dinegasikan oleh propaganda militer: Hamas rupanya masih mampu menjalankan roda birokrasi sipil secara efektif meski infrastruktur fisik mereka lumat. Para pegawai sipil ini masih mengejar pelaku kriminal dan mengawasi kelayakan pangan yang beredar di pasar-pasar darurat.

Namun, efektivitas inilah yang tampaknya hendak diamputasi oleh Israel. Penembakan dan pembunuhan terhadap para polisi sipil dilakukan secara konstan di tengah masyarakat Palestina yang terus berdarah. Kementerian Dalam Negeri di Gaza membaca manuver ini dengan lugas: Israel punya kepentingan besar agar hukum dan ketertiban di Gaza runtuh sama sekali, berganti menjadi hukum rimba.

Dua nama dari daftar panjang itu adalah Hani al-Madhoun dan Rami al-Hinnawi. Keduanya, bersama seorang remaja berusia 15 tahun, gugur pada Sabtu pekan lalu. Mereka melengkapi daftar 42 personel polisi sipil yang dieliminasi secara senyap sejak apa yang disebut-sebut sebagai era “gencatan senjata” dimulai pada 10 Oktober 2025.

Dapur Data: Statistik Berdarah di Masa “Tenang”

Frasa gencatan senjata telah menjelma menjadi tameng bagi operasi pembunuhan tanpa suara. Amira Hass menyodorkan angka-angka yang memedihkan mata, memetakan realitas di Gaza sejak status “gencatan senjata” yang diklaim komunitas internasional berjalan sejak akhir tahun lalu:

“Jumlah korban tewas selama masa gencatan senjata di Gaza telah melonjak menjadi 890 jiwa, dan korban luka-luka mencapai 2.677 orang,” tulis Hass. Kalimat ini menjadi rangkuman paling telak tentang betapa palsunya narasi kedamaian yang dijual ke publik internasional.

Membunuh Tanpa Suara, Menghancurkan Tanpa Alasan

Ada satu pola yang dibaca Hass dari setiap operasi eliminasi ini: bungkamnya juru bicara militer Israel (IDF). Absennya rilis resmi atau klaim keperwiraan dari pihak tentara menunjukkan bahwa eksekusi terhadap para petugas pelayan publik ini dilakukan tanpa dalih keamanan yang kokoh. Mereka dibunuh bukan karena mengokang senjata di garis depan, melainkan karena mereka adalah lem yang menjaga komunitas Gaza tidak pecah berantakan.

Pada akhirnya, kesimpulan Amira Hass bernada getir namun presisi. Target akhir dari operasi ini bukan lagi sekadar melemahkan milisi, melainkan melubangi struktur sosial kemasyarakatan hingga ke akarnya. Dengan melenyapkan para penjaga ketertiban sipil, Gaza sengaja didorong untuk tenggelam dalam lautan kriminalitas, konflik internal, dan keputusasaan kemanusiaan yang akut. Tel Aviv tampaknya tahu betul: masyarakat yang sibuk bertikai memperebutkan sejumput makanan di tengah kekosongan hukum, tidak akan punya waktu untuk memikirkan kemerdekaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here