GAZA – Di pasar-pasar dadakan yang sunyi di Jalur Gaza, menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, tak ada lagi suara lenguhan lembu yang bersahutan atau aroma khas kotoran ternak yang pekat. Lapak-lapak kayu berdiri melompong. Untuk tahun ketiga berturut-turut, Idul Adha menyapa dua juta lebih warga Gaza bukan dengan sukacita ibadah, melainkan dengan kenyataan getir: ritual kurban telah resmi menjadi barang mewah yang mustahil dijangkau.
Perang panjang yang berkecamuk sejak Oktober 2023, ditambah blokade total yang mencekik perbatasan, telah menghancurkan populasi ternak lokal. Dampaknya adalah lonjakan harga yang tak masuk akal sehat. Di beberapa sudut pasar yang tersisa, para pedagang melabeli seekor domba kurus dengan harga US$ 7.000 (sekitar Rp 112 juta). Angka yang setara dengan pendapatan tahunan utuh satu keluarga di Gaza pra-perang, atau harga sebuah rumah sederhana di masa lalu.
Sebelum perang melumat kantong-kantong peternakan, Gaza terbiasa mendatangkan 10 ribu hingga 20 ribu ekor sapi dan sekitar 30 ribu sampai 40 ribu ekor domba setiap musim haji untuk memenuhi hajat kurban. “Sekarang? Angka impor ternak hidup kami tegak di angka nol,” ujar salah seorang pejabat lokal. Pintu-pintu perbatasan digembok, sementara pasokan pakan dan obat-obatan veteriner (hewan) ditahan di pos pemeriksaan Israel.
Komedi Getir di Media Sosial: “Lebaran Ayam Potong”
Gelombang frustrasi ini tumpah ruah di jagat maya Palestina. Di platform media sosial, beredar tangkapan layar dan video pendek yang menampilkan harga-harga hewan kurban yang di luar nalar. Beberapa warganet melaporkan harga domba jantan menembus 23 ribu syikal (sekitar US$ 7.000) hingga 26 ribu syikal (hampir US$ 8.750 atau sekitar Rp 140 juta).
“Ini resmi menjadi domba termahal di dunia,” tulis seorang aktivis lokal dalam unggahannya. Yang ironis, hewan-hewan berharga selangit itu dipajang dengan kondisi fisik yang memprihatinkan. Akibat kelangkaan pakan berbulan-bulan, domba-domba yang dijual tampak kurus dan sempat melewati fase “kelaparan” sebelum dipaksa masuk pasar dengan harga yang tak masuk akal.
Rasa frustrasi itu belakangan bermutasi menjadi satir yang getir. Sejumlah warga di pengungsian mulai mengunggah gurauan tentang mengganti domba kurban dengan ayam beku potong—satu-satunya sumber protein yang sesekali muncul di pos bantuan hukum kemanusiaan. Candaan ini sebetulnya adalah tamparan bagi komunitas internasional, potret betapa runtuhnya daya beli dan martabat sebuah bangsa yang dipaksa miskin oleh mesin perang.
Dapur Data: Amputasi Total Populasi Ternak Gaza
Krisis ini bukan fenomena ekonomi biasa, melainkan hasil dari apa yang disebut para peternak sebagai penghancuran sistematis terhadap ketahanan pangan. Blokade total membuat ekosistem peternakan di Gaza mati pucut.
Berikut komparasi drastis pasokan hewan kurban di Gaza sebelum dan sesudah perang:
| Jenis Ternak | Pasokan Per Tahun (Pra-Perang) | Pasokan Realistis (Musim Kurban 2026) |
| Sapi / Lembu | 10.000 – 20.000 ekor | 0 ekor (Impor distop total) |
| Domba / Kambing | 30.000 – 40.000 ekor | Hanya sisa pasokan lokal yang kurus |
| Harga Per Ekor (Domba) | ± 1.500 syikal (US$ 400) | 20.000 – 25.000 syikal (US$ 7.000) |
Seorang peternak yang bertahan di dekat Deir al-Balah meratapi nasibnya dalam sebuah video yang viral. “Dulu, domba terbaik saya jual 1.500 syikal (US$ 400). Hari ini, saya harus melepasnya di angka 25 ribu syikal bukan karena saya serakah, tapi karena biaya mempertahankan mereka hidup dengan membeli pakan selundupan sudah mencekik leher saya,” katanya dengan suara bergetar.
Gencatan Senjata yang Macet
Kementerian Pertanian Palestina di Gaza mengeluarkan pernyataan resmi yang bernada putus asa: lebih dari dua juta jiwa di wilayah kantong itu dipastikan merayakan Idul Adha tanpa daging kurban. Sejak operasi militer besar-besaran menghantam kawasan pertanian dan menggulung kandang-kandang komersial, struktur agraris Gaza runtuh tak tersisa. Peternak yang gulung tikar terancam keluar selamanya dari sektor ini, memicu ancaman kelaparan jangka panjang yang lebih mengerikan.
Kondisi ini kian diperparah oleh macetnya implementasi politik di tingkat atas. Kendati kesepakatan gencatan senjata formal telah ditandatangani dan berlaku sejak 10 Oktober 2025, Israel dinilai terus mengulur waktu dan enggan memenuhi kewajibannya. Janji untuk membuka pintu perbatasan secara bertahap bagi komoditas non-kemanusiaan—termasuk pakan ternak, solar, dan hewan ternak hidup—hanya berakhir di atas meja perundingan.
Pada akhirnya, absennya ritual kurban di Gaza tahun ini bukan sekadar hilangnya satu momentum ibadah tahunan. Ia adalah indikator paling telanjang dari sebuah wilayah yang sedang dikondisikan untuk mengalami kelaparan struktural. Ketika ibadah yang melambangkan keikhlasan dan berbagi itu kini berubah menjadi “komoditas elite” yang hanya bisa ditonton lewat layar ponsel, Gaza sedang mengirim pesan kuat kepada dunia: mereka tidak sedang kekurangan daging, mereka sedang kehabisan waktu untuk bertahan hidup.










