GAZA — Kepulangan menuju Jalur Gaza kini menjelma menjadi lorong teror tersendiri bagi para musafir. Otoritas pendudukan Israel yang mencengkeram pos-pos pemeriksaan perbatasan terus memperketat pembatasan, melancarkan interogasi intimidatif, kekerasan fisik, hingga penyitaan barang bawaan.
Di saat bersamaan, puluhan ribu pasien kritis di dalam kantong enklave tersebut harus bertarung dengan waktu, tertahan oleh barikade izin berobat yang tak kunjung terbit.
Dalam laporan khusus jurnalis Al Jazeera, Rami Abu Taimah, seorang pemudi Palestina yang baru saja melintasi Perbatasan Rafah membeberkan kepedihan yang dialami keluarganya. Kakeknya yang sudah renta dipaksa menjalani interogasi intensif selama tiga jam penuh oleh tentara Israel.
Tak hanya itu, ia sendiri dicecar pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal hingga mengalami penganiayaan fisik.
“Mereka menuduh saya sebagai mata-mata. Seorang prajurit wanita Israel bahkan memukul saya menggunakan laras senapannya, sebelum akhirnya menyita seluruh barang pribadi dan menghancurkan ponsel saya,” tutur pemudi tersebut.
Abu Taimah menegaskan, perlakuan brutal terhadap warga yang kembali ini mencerminkan paranoia sekaligus pola persekusi terencana Israel dalam memperketat blokade terhadap Gaza.
Para musafir harus melewati prosedur pemeriksaan bertapis yang sangat menyiksa—bermula di wilayah Mesir, dilanjutkan oleh verifikasi Tim Pemantau Eropa, hingga bermuara pada pemeriksaan ketat oleh militer Israel dan dinas intelijen Shin Bet.
Proses birokrasi yang berbelit-belit ini memakan waktu bertumpuk-tumpuk sebelum warga akhirnya diizinkan melangkah ke area Palestina.
Meninggal dalam Antrean Izin Berobat
Jika para musafir disambut intimidasi, maka kelompok pasien kritis harus membayar mahal dengan nyawa. Tak sedikit dari mereka yang menghembuskan napas terakhir sebelum sempat mengantongi dokumen perjalanan.
Kisah memilukan datang dari Mounira Abu Arqub. Penderita kanker ini menghembuskan napas terakhirnya setelah permohonan izin berobatnya berulang kali diabaikan, tanpa sempat mendapatkan perawatan paling mendasar sekalipun untuk meredakan rasa sakitnya.
Nasib tak jauh berbeda membayangi Dr. Khuloud Samhood. Dokter perempuan yang kini terpaksa mengungsi dan tinggal di ruang sempit bawah tangga sebuah rumah pengungsian di Khan Younis ini terus digerogoti sel kanker tanpa akses medis yang memadai.
“Saya tidak pernah ingin meninggalkan tanah Gaza. Tapi di sini tidak ada obat-obatan. Saya dipaksa menyaksikan diri saya sendiri mati secara perlahan,” ujar Dr. Khuloud pasrah.
Catatan medis lokal menunjukkan lebih dari 20 ribu pasien Palestina di Gaza kini berada dalam daftar tunggu untuk mendapatkan perawatan di luar negeri. Namun, Tel Aviv justru kian memperketat syarat keluar dan menumpuk barikade pembatasan.
Beberapa hari lalu, puluhan korban amputasi menggelar aksi protes di depan Kompleks Medis Nasser, menuntut percepatan izin berobat agar mereka bisa mendapatkan pemasangan prostetik (organ tiruan) demi melanjutkan hidup.
Ingkar Janji Kesepakatan
Penghalangan akses medis ini dilakukan secara sistematis. Pada April lalu, juru bicara Bulan Sabit Merah Palestina di Gaza, Raed Al-Nams, mengonfirmasi bahwa pihaknya diberitahu secara sepihak tentang pembatalan koordinasi evakuasi medis bagi pasien dan korban luka berat, tepat saat tim medis tengah menyiapkan pemberangkatan gelombang kasus kritis.
Koresponden Al Jazeera, Ghazi Al-Aloul, melaporkan bahwa perjalanan keluar maupun masuk Gaza kini memakan waktu antara 16 hingga 24 jam, semata-mata akibat kerumitan prosedur yang disengaja oleh pihak pendudukan.
Kondisi ini bertolak belakang dengan draf kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025 lalu. Dalam poin kesepakatan awal, Israel sedianya diwajibkan membuka kembali Perbatasan Rafah secara penuh untuk kelancaran arus kemanusiaan dan pasien. Namun hingga kini, komitmen tersebut terus diingkari, meninggalkan ribuan nyawa warga Gaza bergantung pada keputusan yang tak kunjung pasti.










