GAZA — Selasa dini hari (7 Safar 1448 H – 21/7/2026 M)) tak pernah berganti terang bagi keluarga Al-Masri. Tepat pukul tiga dini hari, heningnya malam pecah seketika oleh ledakan dahsyat yang mengubah apartemen mereka menjadi lautan api yang membara. Di tempat di mana mimpi anak-anak hangus saat mereka tertidur lelap, Muhammad Ahmad Al-Masri mendapati dirinya terjebak dalam tragedi kemanusiaan yang teramat kelam.

“Satu keluarga utuh musnah terbakar…” Dengan kalimat sarat nestapa dan kepedihan mendalam, Muhammad merangkum kepedihan atas gugurnya sang kakak, ipar, serta empat keponakannya. Ia membeberkan detik-detik mencekam yang memaksanya mengambil keputusan paling pahit dalam hidup, melempar anak-anak dan istrinya keluar dari jendela rumah demi menyelamatkan mereka dari jilatan api yang melahap apa saja.

Jeritan di Tengah Kobaran Api

Tragedi ini bermula dari serangan udara mendadak yang meremukkan apartemen yang dihuni Muhammad bersama keluarga kakaknya dan sang ibu yang sudah lansia. Lokasi kediaman mereka sejatinya berada cukup jauh dari garis kontak senjata militer Israel di Kota Gaza. Namun, begitu para penghuni tersadar dari guncangan hebat, api sudah telanjur mengepung seluruh dinding rumah.

Dengan suara bergetar, Muhammad menceritakan kepada wartawan betapa tidak berdayanya ia saat berusaha menolong keluarga kakaknya. Pasokan air di dalam rumah yang sangat terbatas langsung ludes tak tersisa, sementara asap hitam pekat makin merintangi jalan napas. Dari kamar sebelah, jeritan anak-anak terdengar memanggilnya: “Tolong kami, Paman!”

Jendela Jadi Tumpuan Keselamatan

Di titik nadir antara hidup dan mati (setelah ledakan hebat menghancurkan jeruji besi pengaman jendela) Muhammad mengambil keputusan nekat.

“Aku pegang anak-anakku satu per satu, lalu kulemparkan mereka lewat jendela. Aku tidak sanggup melihat mereka hangus terbakar di depan mataku sendiri,” tutur sang ayah dengan mata berkaca-kaca.

Tanpa ragu, Muhammad melempar anak-anak dan istrinya yang sedang hamil keluar dari jendela, tak peduli benturan apa yang menunggu mereka di bawah. Fokus utamanya saat itu hanya satu: menjauhkan mereka dari amukan api. Segera setelah itu, ia nekat melompat menyusul mereka, lalu bergerak cepat menyelamatkan ibunya yang renta lewat jendela lain dengan bantuan tetangga sekitar.

Dua Jam yang Terlambat

Gempuran udara brutal tersebut merenggut enam nyawa dari keluarga Al-Masri, terdiri dari ayah, ibu, serta empat anak mereka yang masih berusia antara 6 hingga 13 tahun. Petugas pemadam kebakaran dan tim medis Pertahanan Sipil butuh waktu hingga dua jam untuk menjinakkan api sebelum akhirnya berhasil mengevakuasi jasad para korban yang sudah hangus sepenuhnya dari balik reruntuhan.

Empat bocah tersebut pergi meninggalkan buku-buku mewarnai dan kegembiraan yang terenggut untuk kembali ke sekolah. Turut syahid di antaranya adalah Naim, bocah 13 tahun yang dikenal telah menghafal Al-Qur’an. Jeritan dan rintihan terakhir mereka kini tertanam abadi di ingatan sang paman yang selamat, menjadi saksi bisu atas pembantaian yang menghapus satu garis keturunan keluarga dari catatan sipil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here