Di desa kecil Deir Abu Falah, timur laut Ramallah, malam akhir pekan itu berubah menjadi kepanikan. Bagi Omar Hmaiel, seorang warga desa, inilah kali pertama ia melihat puluhan pemukim Israel datang dalam jumlah sebesar itu.

Serangan dari pemukim bukan hal baru bagi warga desa tersebut. Namun kali ini berbeda. Jumlahnya jauh lebih banyak, dan kekerasannya terasa lebih brutal.

“Jika kami tidak mencoba menahan mereka malam itu, mungkin yang terjadi adalah pembantaian di desa,” kata Hmaiel kepada Al Jazeera.

Seratus Pemukim Datang Bersamaan

Menjelang tengah malam Sabtu, sekelompok pemuda desa melihat pergerakan mencurigakan di pinggiran Deir Abu Falah. Seperti yang sudah sering terjadi sebelumnya, mereka segera mengirim peringatan lewat grup pesan warga, meminta penduduk berkumpul untuk menghadang para pemukim.

Pesan itu sampai ke Hmaiel. Ia bergegas menuju masjid utama desa dan mengumumkan lewat pengeras suara agar warga segera berkumpul.

Tak lama kemudian, puluhan warga bergerak menuju titik yang dimaksud. Namun situasinya tidak seperti biasanya. Sekitar seratus pemukim, yang datang dari beberapa permukiman berbeda, telah berkumpul di sebuah pos permukiman baru yang dibangun di atas tanah desa.

Bentrok pun tak terelakkan. Warga desa mencoba menghalau mereka dengan lemparan batu. Untuk beberapa menit, mereka berhasil menahan laju para pemukim.

Tapi kemudian sebuah kendaraan milik pemukim mendekat. Tak lama setelah itu, suara tembakan terdengar.

Dua warga Palestina tertembak di kepala dan gugur di tempat. Lima orang lainnya terluka. Ketika aparat Israel tiba di lokasi, gas air mata justru ditembakkan ke arah warga desa untuk membubarkan mereka—sebuah tindakan yang, menurut saksi, justru melindungi para pemukim.

Seorang warga Palestina lainnya kemudian syahid akibat sesak napas setelah menghirup gas tersebut.

Gelombang Kekerasan Setelah Serangan ke Iran

Kematian tiga warga desa itu terjadi hanya beberapa jam setelah kabar gugurnya seorang pemuda Palestina lainnya, Amir Mohammad Shnaran (27 tahun).

Ia ditembak pemukim dari permukiman Susiya, yang berdiri di kawasan Masafer Yatta, selatan Tepi Barat.

Menurut laporan, sekitar sepuluh pemukim menyerbu rumah keluarga Shnaran pada Sabtu, 7 Maret 2026. Mereka memukul anggota keluarga yang ada di dalam rumah. Tak lama kemudian sebuah kendaraan jip datang membawa seorang pemukim yang mengenakan seragam militer Israel.

Ia turun dari kendaraan dan langsung melepaskan tembakan. Shnaran terkena peluru di kepala dan gugur di tempat. Saudaranya juga tertembak di perut.

Penembakan oleh pemukim terhadap warga Palestina sebenarnya bukan hal baru. Namun para pengamat mencatat eskalasi tajam sejak dimulainya serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Pada 2 Maret, dua bersaudara Palestina juga syahid dalam serangan pemukim di desa Qaryut, selatan Nablus.

Dalam sepekan pertama konflik itu saja, sedikitnya delapan warga Palestina telah gugur akibat serangan pemukim, angka yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam waktu sesingkat itu.

Ketika Senjata Menjadi Bahasa Kekuasaan

Aktivis yang memantau kekerasan pemukim, Aed Ghafri, menilai eskalasi tersebut bukan kebetulan.

Sejak perang di Jalur Gaza pecah pada Oktober 2023, para pemukim, kata dia, semakin agresif menjalankan rencana mereka di lapangan.

“Selama ini mereka sudah menjalankan teror sistematis terhadap warga Palestina. Tapi dalam beberapa hari terakhir, biayanya dibayar dengan darah,” ujarnya.

Menurut Ghafri, situasi perang membuat perhatian dunia tersedot ke tempat lain. Di tengah kondisi itu, para pemukim seolah mendapat ruang lebih luas untuk memperluas kendali mereka di Tepi Barat.

Ia menunjuk perubahan besar yang terjadi selama dua tahun terakhir. Banyak komunitas Badui di wilayah yang diklasifikasikan sebagai Area C (zona yang berada di bawah kendali penuh Israel menurut Perjanjian Oslo) telah dipaksa meninggalkan tanah mereka.

Data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menunjukkan sejak awal 2026 hingga 18 Februari lalu, sekitar 700 warga Palestina dari sembilan komunitas telah mengungsi akibat serangan pemukim. Sebagian besar berasal dari komunitas Badui Ras Ain al-Auja di wilayah Jericho.

Menurut Ghafri, angka itu menjadi tingkat pengusiran tertinggi sejak perang di Gaza dimulai lebih dari dua tahun lalu.

86 Serangan dalam Sepekan

Laporan Jerusalem Legal Aid and Human Rights Center juga menggambarkan eskalasi serupa. Antara 16 hingga 23 Februari, lembaga itu mencatat 86 serangan pemukim yang menargetkan 60 komunitas Palestina.

Serangan-serangan tersebut memaksa 186 orang meninggalkan rumah mereka. Sebanyak 64 warga terluka—beberapa di antaranya akibat tembakan. Selain itu, 39 kendaraan dibakar dan sekitar 800 pohon zaitun dicabut.

Menurut Amir Dawood, pejabat di Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina, angka-angka itu meningkat sekitar 25 persen hanya dalam beberapa hari sejak perang dengan Iran dimulai.

“Bukan hanya jumlah serangannya yang meningkat,” katanya. “Jenis serangannya juga berubah. Baru kali ini kita melihat begitu banyak korban jiwa dalam waktu yang begitu singkat.”

Para pemukim saat ini telah menguasai sebagian besar wilayah Area C, yang mencakup sekitar 61 persen wilayah Tepi Barat. Setelah itu, kata Ghafri, target berikutnya adalah wilayah permukiman Palestina di Area B, zona yang secara administratif berada di bawah Otoritas Palestina.

Dari sana, mereka perlahan bergerak menuju pusat desa-desa Palestina.

Ketika Warga Desa Menjaga Diri Sendiri

Di Deir Abu Falah, warga desa mengatakan serangan terbaru itu berawal dari pos permukiman baru yang dibangun di tanah yang diklasifikasikan sebagai Area C di sekitar desa.

Menghadapi ancaman semacam itu, warga Palestina di banyak tempat membentuk kelompok penjagaan malam. Kelompok ini biasanya terdiri dari relawan desa yang berpatroli untuk memantau pergerakan pemukim.

Jika ada tanda-tanda serangan, mereka segera memberi peringatan kepada warga lain. Pertahanan yang mereka miliki pun sangat terbatas—batu, tongkat, dan kerumunan warga yang mencoba menghadang.

Meski sering diburu aparat Israel dan hampir tanpa dukungan resmi, bagi banyak desa cara ini menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa.

“Ancaman yang kami hadapi sekarang jauh lebih besar,” kata Ghafri. “Komite penjagaan ini tidak bisa hanya bersifat reaktif. Tanpa organisasi yang lebih baik, kerugian yang kita tanggung (terutama nyawa) akan terus bertambah.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here