GAZA – Sebuah jeritan pilu datang dari Ilyas, putra Dr. Hossam Abu Safiya—direktur sekaligus dokter pejuang yang selama ini menjadi benteng pertahanan terakhir di Rumah Sakit Kamal Adwan, Gaza Utara. Ilyas mengungkap perkembangan terbaru yang sangat mencemaskan mengenai sang ayah yang kini mendekam di penjara Israel.

Bukannya dibebaskan, Dr. Hossam baru-baru ini justru dipindahkan secara paksa ke sel isolasi mandiri (solitary confinement) di Penjara Nafha, sebuah penjara militer di tengah gurun yang terkenal kejam. Langkah ini diambil otoritas sipir Israel tak lama setelah tim hukum Dr. Hossam mencoba melakukan perlawanan dengan mengajukan banding atas penahanan sewenang-wenang terhadap dirinya.

“Keputusan mengisolasi ayah saya di sel sendirian adalah bentuk hukuman langsung karena pengacara kami mencoba menggugat penahanannya,” ujar Ilyas dengan nada penuh kecemasan saat berbicara di layar Al Jazeera Mubasher, Sabtu (6/6/2026).

Langkah balas dendam dari otoritas penjara ini seketika mempertebal kabut ketakutan yang menggelayuti pihak keluarga. Mereka kini buta sama sekali mengenai kondisi fisik maupun psikologis dokter penyintas tersebut.

“Waktu berjalan lambat sekali bagi kami. Setiap hari kami cuma bisa menunggu, cemas, dan mengira-ngira apakah ayah masih sehat di dalam sana,” tutur Ilyas pilu.

Nasser Odeh, pengacara Dr. Hossam, mengonfirmasi hal senada. Pemindahan kliennya ke sel isolasi Penjara Nafha adalah tindakan disipliner yang murni bersifat menghukum (punitive measure), sebuah gertakan dari otoritas Israel agar tim hukum mencabut upaya banding mereka.

Surat untuk Sahabat yang Telah Tiada: Bukti Isolasi Informasi yang Brutal

Di tengah narasinya, Ilyas membagikan sebuah kisah humanis yang menyayat hati sekaligus menjadi bukti betapa kejamnya karantina informasi di dalam penjara Israel. Sekitar dua bulan lalu, sebuah pesan singkat dari Dr. Hossam berhasil bocor dan sampai ke tangan keluarga.

Dalam surat itu, Dr. Hossam meminta tolong kepada anaknya: “Jika memungkinkan, hubungi Anas Al-Sharif. Minta dia untuk terus menyuarakan nasib dan penderitaan kami para tawanan kepada dunia.”

Membaca surat itu, tangis keluarga pecah. Dr. Hossam tidak pernah tahu bahwa Anas Al-Sharif—jurnalis berani sekaligus sahabatnya yang selalu melaporkan genosida dari Gaza Utara—telah gugur sebagai syahid dihantam bom Israel sejak Agustus 2025 lalu.

Bagi Ilyas, surat tersebut adalah tamparan keras yang memperlihatkan betapa gelap gulitanya dinding penjara yang dihuni ayahnya. Dr. Hossam hidup dalam ruang hampa udara dan hampa informasi, namun di kepala dan hatinya, ia tetap memikirkan cara agar dunia tidak melupakan nasib ribuan tahanan Palestina lainnya. Ia mencari jendela mana saja, suara siapa saja, yang bisa memecah keheningan komunitas internasional.

‘Ini Bukan Suara Politik, Ini Suara Anak yang Rindu Ayahnya’

Di akhir pesannya, Ilyas kembali mengetuk pintu hati lembaga-lembaga hak asasi manusia, organisasi kemanusiaan global, serta jaringan media internasional untuk tidak membiarkan kasus ayahnya menguap begitu saja. Menolak diam adalah satu-satunya cara untuk menjaga para tahanan tetap hidup di balik jeruji besi.

“Pesan yang kami suarakan hari ini sama sekali bukan pesan politik. Ini murni pesan kemanusiaan,” tegas Ilyas.

“Kami adalah anak-anak yang merindukan ayahnya. Ada cucu-cucu yang rindu pelukan kakeknya. Harapan kami cuma satu: melihat dia pulang dengan selamat, berdiri merdeka di tengah-tengah keluarga.”

Dr. Hossam Abu Safiya sendiri diculik oleh militer Israel pada 27 Desember 2024, ketika pasukan darat Israel mengepung dan menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan. Sejak saat itu, masa penahanannya terus diperpanjang secara sewenang-wenang tanpa pengadilan yang jelas sepanjang tahun 2025. Terakhir, pada 16 Oktober 2025, otoritas hukum Israel nekat memperpanjang masa tahanannya selama enam bulan tambahan.

Kini, sang dokter yang dulu mempertaruhkan nyawanya demi merawat bayi-bayi dan korban luka di Gaza Utara, harus bertaruh nyawanya sendiri di dalam sel isolasi yang gelap gulita di tengah gurun Nafha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here