GAZA – Di bawah tekanan blokade yang mencekik, sebuah perang senyap sedang berkecamuk di dalam jaringan saraf masyarakat Gaza. Studi terbaru dari Al-Zaytouna Centre for Studies and Consultations yang disusun oleh peneliti Diya Naeem al-Safadi, menyingkap sebuah fenomena mengerikan: “Industri Informan”.
Al-Safadi tidak melihat aktivitas mata-mata (intelligence collaboration) sebagai sekadar tindak kriminalitas hukum. Ia membedahnya sebagai sebuah proses sistemik di mana individu, karena syarat-syarat tertentu, bermutasi menjadi alat musuh.
Spionase di Gaza masa kini bukan lagi sekadar membisikkan informasi, melainkan keterlibatan lapangan yang vertikal, menentukan target, memantau pergerakan, hingga mengarahkan serangan udara secara tidak langsung.
Pasar Transaksional di Tengah Kemelaratan
Pertanyaan besarnya bukan lagi “apa yang mereka lakukan”, melainkan “bagaimana mereka sampai ke titik itu”. Ekonomi tetap menjadi pintu masuk paling lebar. Di lingkungan di mana pilihan hidup menyempit, tawaran uang dari intelijen Israel sering kali muncul sebagai satu-satunya jalan keluar.
Namun, studi ini memperingatkan kita untuk tidak terjebak dalam simplifikasi. Uang sering kali hanya menjadi pemantik awal. Al-Safadi menemukan adanya pergeseran dari “karena terpaksa” menjadi “transaksional”. Individu-individu ini mulai berhitung secara rasional: apa yang saya dapatkan vs apa yang saya berikan. Di sini, pengkhianatan berubah menjadi sebuah “kesepakatan bisnis”. Ini jauh lebih berbahaya karena pelakunya tidak lagi merasa bersalah, melainkan merasa sebagai aktor yang sedang bernegosiasi demi kepentingan pribadi.
Selain ekonomi, kerapuhan psikologis—rasa terasing, dendam, atau keinginan untuk merasa berkuasa di tengah penindasan—menjadi lahan subur bagi rekrutmen. Intelijen musuh bekerja dengan presisi bedah: menemukan mereka yang merasa “dibuang” oleh komunitasnya, lalu memberi mereka peran dan perasaan penting sebagai agen.
Peta Kelompok: Dari Rafah hingga Jabalia
Bagian paling sensitif dari studi ini adalah pemetaan kelompok informan di lapangan. Spionase di Gaza telah berubah dari perilaku individual menjadi struktur kerja yang terorganisir.
- Sel Rafah (Grup K.S): Terdeteksi sebagai salah satu formasi terbesar dengan anggota mencapai 300 orang. Mereka mendirikan titik komunikasi lapangan di dekat perbatasan untuk memantau setiap jengkal pergerakan harian warga dan pejuang.
- Sel Khan Younis Selatan (Grup J.A): Terdiri dari sekitar 40 orang bersenjata di wilayah Khuza’a dan Abasan. Kekuatan mereka terletak pada “penyamaran sosiologis”, mereka mengumpulkan informasi dari dalam jaringan sosial mereka sendiri, memberikan data presisi tinggi kepada militer Israel karena mereka adalah bagian dari tetangga korban.
- Sel Gaza Timur (Grup R.J): Beroperasi di garis demarkasi yang sangat sensitif. Informasi yang mereka berikan memiliki nilai intelijen tinggi karena berhubungan langsung dengan titik-titik infiltrasi yang sulit dijangkau alat sadap konvensional.
- Sel Gaza Utara (Grup A.M): Memanfaatkan kepadatan populasi di wilayah urban. Di sini, informan bekerja dengan cara membaur, memantau struktur organisasi lokal di tengah kerumunan, sekaligus menghancurkan kepercayaan antar-warga.
Dapur Data: Tipologi Motivasi Informan Gaza (Studi Al-Safadi 2026)
| Faktor Pendorong | Mekanisme Kerja | Dampak Sosial |
| Ekonomi | Transaksional / Kesepakatan Dagang | Normalisasi pengkhianatan demi bertahan hidup. |
| Psikologis | Kompensasi atas rasa terasing/marjinal | Individu merasa “berkuasa” di atas komunitasnya. |
| Sosial | Disintegrasi keluarga / Isolasi | Melemahnya imunitas sosial terhadap infiltrasi. |
| Politik/Ideologi | Lemahnya kesadaran politik/nasional | Narasi musuh mengisi kekosongan ideologis. |
Target Akhir: Penghancuran Kepercayaan
Efek paling mematikan dari industri mata-mata ini bukan hanya rudal yang mengenai sasaran, melainkan hancurnya modal sosial: Kepercayaan.
Ketika semua orang dicurigai sebagai informan, ikatan sosial menjadi rapuh. Masyarakat yang saling curiga adalah masyarakat yang mudah pecah dan tidak mampu memproduksi perlawanan yang terorganisir. Inilah kemenangan strategis yang melampaui serangan militer manapun.










