KHAN YOUNIS – Selasa pagi yang berdebu di pusat kota Khan Younis kembali memakan korban jiwa. Adel Lafi al-Najjar, seorang bocah berusia sembilan tahun, syahid seketika saat rudal yang dilepaskan dari pesawat nirawak (drone) Israel menghantam area di sekitar Bundaran Abu Hamid. Serangan ini terjadi di wilayah yang secara teknis berada di luar jangkauan operasi darat militer Israel (IDF).
Namun, cerita di Gaza hari ini bukan lagi soal di mana bom jatuh, melainkan bagaimana sistem kehidupan dasar sengaja dimatikan. Organisasi medis internasional, Médecins Sans Frontières (MSF), merilis laporan tajam bertajuk “Air sebagai Senjata”. Laporan itu menuding Israel secara metodis menghancurkan infrastruktur air untuk menciptakan kondisi kehidupan yang tidak manusiawi bagi 2,4 juta jiwa warga Palestina.
Logistik yang Digembok
Data yang dihimpun MSF antara 2024 hingga 2025 menyebutkan bahwa Israel telah menghancurkan atau merusak sekitar 90 persen infrastruktur air dan sanitasi di Gaza. Mulai dari sumur bor, pipa transmisi, hingga pabrik desalinasi sengaja dijadikan target atau dibiarkan membusuk tanpa perawatan.
Ironisnya, saat bantuan internasional mencoba masuk, birokrasi Israel menjadi penghalang utama. Sepertiga permintaan MSF untuk memasukkan kebutuhan vital (seperti pompa air, tangki, kaporit, hingga bahan kimia pemurni air) ditolak atau dibiarkan tanpa jawaban. Tanpa bahan pemurni, air yang tersisa di Gaza kini tak ubahnya medium pertumbuhan penyakit menular di tengah kamp pengungsian yang sesak.
Eksodus Medis di Tengah Kelumpuhan
Di Gaza bagian utara, krisis mencapai level kritis baru. Kementerian Kesehatan memperingatkan bahwa satu-satunya pabrik penghasil oksigen medis di wilayah utara terancam berhenti beroperasi. Tanpa oksigen, pasien penyakit kronis di rumah sakit-rumah sakit yang tersisa praktis hanya menunggu waktu.
Evakuasi medis pun berjalan tersendat. Selasa ini, melalui koordinasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 47 orang (termasuk 24 pasien kritis) berhasil dievakuasi melalui perbatasan Rafah menuju Mesir. Sementara itu, 81 anak lainnya dikirim melalui jalur darat ke Yordania untuk mendapatkan perawatan di bawah inisiatif kemanusiaan Kerajaan Yordania. Sebelum perang, mobilitas di perbatasan ini adalah rutinitas sipil biasa; kini, ia adalah “lotre nyawa” yang sangat terbatas jumlahnya.
Dapur Data: Statistik Dampak “Senjata Air” (April 2026)
| Sektor Infrastruktur | Kondisi Saat Ini | Sumber Data |
| Infrastruktur Air & Sanitasi | 90% Rusak/Hancur | Bank Dunia / PBB |
| Pasokan Air Harian MSF | 5,3 Juta Liter | Melayani 1/5 populasi Gaza. |
| Permintaan Logistik Vital | 33% Ditolak Israel | Laporan “Misteri Izin” MSF. |
| Total Syuhada (Sejak Okt ’23) | 72.594 Jiwa | Kementerian Kesehatan Gaza. |
Gencatan Senjata yang Maya
Meski dokumen gencatan senjata resmi berlaku sejak 10 Oktober 2025, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Hingga Senin pagi, 818 warga Palestina tewas dalam insiden “pelanggaran kecil” pasca-kesepakatan. Israel dituding terus menahan masuknya rumah instan (prefab houses) dan obat-obatan yang telah disepakati dalam poin-poin perdamaian.
Analis lapangan melihat pola ini sebagai “strategi gesekan” (war of attrition). Dengan menghambat bantuan medis dan infrastruktur air, Israel tidak perlu melakukan serangan besar untuk mengusir warga; mereka cukup membuat lingkungan Gaza menjadi mustahil untuk dihuni secara biologis.










