Di tengah puing rumah dan pengungsian berkepanjangan, anak-anak di Gaza tumbuh dalam situasi yang jauh dari normal. Masa kecil mereka diisi oleh kehilangan, ketakutan, dan penantian panjang terhadap ayah yang ditahan di penjara Israel. Kini, wacana hukuman mati bagi tahanan Palestina yang disahkan parlemen Israel (Knesset) menambah tekanan psikologis yang mereka rasakan.

Bagi anak-anak ini, kabar tersebut bukan sekadar isu politik. Ia langsung menyentuh harapan paling dasar: kemungkinan bertemu kembali dengan orang tua mereka.

Abeer Al-Mubaid, misalnya, mengaku sudah satu setengah tahun tidak bertemu ayahnya. “Saya ingin memeluknya lagi,” katanya singkat. Di sampingnya, sang kakak, Hamdan Al-Mubaid, masih mengingat jelas momen penangkapan ayah mereka. “Saya sangat rindu ayah,” ujarnya.

Anak lain, Jouri Sbeih, mencoba mengatasi rindu lewat mimpi. Ia mengaku sering “bertemu” ayahnya saat tidur dan berusaha mengingat setiap pesan yang pernah disampaikan. “Saya ingat semua kata-katanya. Saya menunggu dia kembali,” katanya.

Sementara itu, Abdel Aziz Shaath menyampaikan ketakutannya secara langsung. “Saya tidak ingin ayah saya mati. Saya ingin dia pulang,” ujarnya. Pernyataan sederhana ini mencerminkan kecemasan yang semakin meluas di kalangan anak-anak sejak wacana hukuman mati mencuat.

Kondisi serupa terlihat pada keluarga Jana Hamed. Ia mengatakan adiknya yang masih kecil bahkan belum sempat belajar mengucapkan kata “ayah”. “Kami tumbuh tanpa dia, tapi masih menunggunya,” katanya.

Sejumlah anak mengaku syok saat pertama kali mendengar kabar rencana eksekusi tahanan. Salah satu dari mereka menyebut hari itu sebagai “yang terburuk dalam hidupnya” setelah mengetahui kemungkinan ayah mereka dihukum mati.

Situasi ini menunjukkan bagaimana keputusan politik berdampak langsung pada kehidupan sipil, terutama anak-anak. Di Gaza, wacana kebijakan tidak berhenti di level institusi, tetapi menjelma menjadi beban psikologis harian bagi keluarga yang terpisah.

Di tengah kondisi tersebut, tuntutan anak-anak ini tetap sederhana: ayah mereka pulang, keluarga kembali utuh, dan kehidupan kembali normal. Namun, di Gaza, penantian itu terus berlangsung tanpa kepastian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here