Di tengah krisis berkepanjangan di Jalur Gaza, ancaman tidak hanya datang dari serangan militer, tetapi juga dari tempat tinggal yang tak lagi layak huni. Ratusan keluarga kini terpaksa tinggal di rumah-rumah yang nyaris runtuh, tanpa jaminan keselamatan, setelah sebagian besar bangunan rusak akibat serangan Israel selama dua tahun terakhir.

Di wilayah barat Kota Gaza, banyak keluarga memilih bertahan di bangunan retak dan rapuh karena tidak memiliki alternatif lain. Ketiadaan tenda, minimnya pusat pengungsian, dan keterbatasan ekonomi membuat mereka tidak punya pilihan selain tinggal di rumah yang bisa ambruk kapan saja.

Salah satu warga mengatakan kondisi itu bukan pilihan, melainkan keterpaksaan. “Kami tahu ini berbahaya, tapi tidak ada tempat lain,” ujarnya.

Rekaman di lapangan memperlihatkan deretan bangunan hancur di tengah puing-puing, akibat serangan artileri, tembakan kapal perang, dan serangan udara. Kerusakan ini terjadi bahkan ketika gencatan senjata disebut masih berlaku.

Hidup Tanpa Kebutuhan Dasar

Masalah tidak berhenti pada ancaman bangunan runtuh. Warga yang tinggal di rumah rusak juga menghadapi kekurangan air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan dalam situasi ini.

Seorang warga yang juga menjadi korban luka dalam perang mengaku kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Setiap pagi, ia harus keluar lebih awal hanya untuk mencari roti, air minum, dan kayu bakar untuk bertahan hidup.

“Tidak ada layanan di sini. Semua harus kami cari sendiri, dengan kondisi yang serba terbatas,” katanya.

Ancaman Kesehatan dan Lingkungan

Kondisi tempat tinggal yang rusak juga memicu masalah baru. Seorang perempuan mengatakan keluarganya harus hidup berdampingan dengan serangga dan tikus yang masuk ke dalam rumah dan merusak persediaan makanan.

Selain itu, puing-puing bangunan kerap jatuh sewaktu-waktu, menambah risiko bagi penghuni. Debu dan reruntuhan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, memperburuk kondisi kesehatan warga.

Ia meminta bantuan dari negara-negara Arab dan lembaga internasional untuk menyediakan tempat tinggal yang layak, air bersih, serta kebutuhan pangan. “Harga makanan mahal, pekerjaan tidak ada, bantuan pun sangat terbatas,” ujarnya.

Desakan Bantuan dan Rekonstruksi

Keluarga-keluarga di Gaza mendesak agar kebutuhan dasar segera dipenuhi, termasuk akses bantuan kemanusiaan yang lebih luas. Mereka juga meminta gencatan senjata ditegakkan secara penuh serta percepatan proses rekonstruksi.

Data Kementerian Kesehatan Palestina mencatat lebih dari 72 ribu warga telah syahid sejak perang pecah pada Oktober 2023, dengan lebih dari 172 ribu lainnya terluka. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.

Kerusakan yang ditimbulkan juga sangat besar. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza dilaporkan hancur, dengan estimasi biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Di tengah kondisi itu, pernyataan pejabat Israel yang menyebut ribuan bangunan dihancurkan sejak gencatan senjata diberlakukan menambah kekhawatiran warga. Bagi mereka yang kini tinggal di rumah nyaris roboh, ancaman tidak lagi sekadar kemungkinan—tetapi sesuatu yang bisa terjadi kapan saja.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here