Israel menuntut syarat tak masuk akal bagi belasan anak Gaza yang baru saja menjalani operasi implan koklea di Yordania. Mereka boleh pulang ke rumah, tapi harus meninggalkan perangkat elektronik pendengaran di perbatasan. Tanpa alat itu, operasi bedah rumit yang mereka jalani tak lebih dari sekadar torehan luka tanpa makna.


AMMAN – Di ujung Jembatan Raja Hussein (Allenby) yang membelah Yordania dan wilayah pendudukan Palestina, sebuah bus berhenti. Di dalamnya, sebelas keluarga asal Gaza menahan napas. Anak-anak mereka, yang baru saja mencicipi dunia bunyi setelah operasi implan koklea di Amman, menyentuh perangkat kecil yang menempel di belakang telinga mereka.

Namun, kegembiraan itu layu tepat di garis batas. Petugas perbatasan Israel memberikan ultimatum: anak-anak itu boleh menyeberang pulang ke Gaza, asalkan semua aksesori dan perangkat elektronik luar pendengaran ditinggalkan.

Pilihan yang ditawarkan adalah sebuah tragedi: pulang ke pelukan keluarga di Gaza dalam kondisi “tuli kembali”, atau tetap di Yordania sebagai pengungsi demi mempertahankan hak untuk mendengar. Sebelas keluarga itu memilih putar balik ke Amman. Mereka menolak membiarkan anak-anak mereka kembali ke dalam sunyi.

Penyanderaan di Balik “Ketidakpastian”

Perjalanan panjang ini dimulai pada 30 Oktober 2025. Dengan fasilitasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak-anak ini dibawa ke Yordania untuk menjalani operasi implan koklea—sebuah prosedur bedah untuk menanamkan perangkat elektronik yang merangsang saraf pendengaran.

Operasi berjalan mulus di awal November. Harapannya, mereka hanya butuh waktu pemulihan singkat sebelum pulang. Namun, “tembok” birokrasi dan syarat keamanan Israel yang berubah-ubah mengubah satu minggu menjadi berbulan-bulan penantian yang melelahkan.

Ibu dari Muhammad (bukan nama sebenarnya), remaja 13 tahun asal Gaza Selatan, menggambarkan situasi mereka sebagai “hidup yang tergantung di antara harapan dan luka”. Kepada Al Jazeera, ia bercerita bagaimana mereka sudah sangat dekat dengan gerbang perbatasan sebelum seorang perwira Israel menghentikan langkah mereka di menit-menit terakhir.

Anomali Bus Ketiga

Di tengah ketidakpastian itu, sebuah anomali terjadi. Sementara dua bus pertama dipaksa putar balik karena menolak melepas perangkat medis, bus ketiga yang berisi lima keluarga justru diizinkan lewat.

Namun, izin itu tidak gratis. Israel memberikan syarat barter yang aneh: perangkat pendengaran boleh masuk Gaza, tapi para orang tua harus menyerahkan ponsel, obat-obatan pribadi, hingga makanan yang mereka bawa untuk perjalanan.

“Keputusannya sulit, tapi kami setuju menyerahkan ponsel dan barang-barang kami. Yang terpenting adalah alat pendengaran anak-anak kami bisa ikut masuk,” ujar ibu dari Shams Badawi, bocah perempuan berusia 4 tahun yang termasuk dalam rombongan bus ketiga.

Sesampainya di Gaza, perjuangan Shams belum usai. Tanpa ponsel untuk berkomunikasi dengan dokter di Yordania dan tanpa ketersediaan suku cadang di Gaza yang lumat akibat perang, keberfungsian alat itu kini dihantui kecemasan. “Jika baterainya habis atau ada bagian yang rusak, Shams akan kehilangan pendengarannya lagi,” tambahnya.

Kehidupan yang Tertahan di Perbatasan

Bagi sebelas keluarga yang kini tertahan di Amman, hari-hari diisi dengan rindu yang menyesak. Mereka kini menginap di hotel yang difasilitasi oleh Kementerian Pengembangan Sosial Yordania. Meski kebutuhan dasar terpenuhi, hati mereka tertinggal di Gaza.

“Anak saya setiap hari bertanya kapan kami pulang. Mereka tidak mengerti mengapa setelah bisa mendengar, mereka justru tidak bisa kembali ke rumah,” tutur seorang ibu lainnya.

Pihak otoritas Yordania menyatakan bahwa koordinasi sudah dilakukan sejak awal dengan organisasi internasional, namun pihak Israel kerap menarik kembali kesepakatan yang telah dibuat terkait pemulangan pasien.

Gaza: Labirin Tanpa Suku Cadang

Kisah anak-anak tunarungu ini membuka tabir betapa rapuhnya sistem pendukung bagi kelompok difabel di Gaza. Tanpa listrik yang stabil, tanpa akses ke teknisi medis, dan tanpa suku cadang, implan koklea yang canggih itu terancam menjadi benda mati.

Para orang tua ini kini hanya punya satu tuntutan: hak anak-anak mereka untuk mendengar dan hak untuk pulang tanpa syarat yang merendahkan martabat. Mereka mengetuk pintu organisasi internasional agar tidak membiarkan masa depan anak-anak ini terkunci dalam hening permanen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here