PALESTINA — Perjanjian di atas meja diplomatik tampaknya tak lebih dari dekorasi bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Di tengah bergulirnya negosiasi damai tingkat tinggi di Kairo, pemimpin sayap kanan itu justru melempar maklumat provokatif. Ia mengklaim mesin perang Tel Aviv kini telah menguasai lebih dari setengah wilayah Jalur Gaza dan bersiap mencaplok target yang lebih besar.
“Kami sedang memperketat cengkeraman terhadap Hamas dari segala penjuru,” ujar Netanyahu di hadapan kabinetnya dalam pembukaan rapat mingguan pemerintah, Minggu lalu. Dengan nada tanpa kompromi, ia menegaskan bahwa IDF kini mengontrol penuh 50 persen wilayah kantong tersebut. “Sebentar lagi, angka itu akan menyentuh 70 persen.”
Pidato Netanyahu ini menjadi sinyal kuat bahwa Tel Aviv tidak berniat menghentikan penetrasi militernya. Ia berjanji akan terus melanjutkan operasi pembunuhan tertarget terhadap para petinggi faksi perlawanan.
Di saat yang sama, Netanyahu juga menoleh ke Tepi Barat. Ia mengklaim aparat keamanannya berhasil menggagalkan ratusan operasi perlawanan setiap tahun, meski ia mengakui ada yang lolos—seperti insiden penembakan fatal di kawasan Kokhav Yair yang baru saja terjadi.
Negosiasi Kairo yang Dihujani Bom
Ironisnya, retorika “menelan Gaza” ini meluncur tepat saat delegasi Hamas yang dipimpin Khalil al-Hayya mendarat di Kairo, Mesir. Mereka dijadwalkan duduk bersama para mediator internasional dan faksi-faksi Palestina lainnya untuk merumuskan Fase Kedua dari kesepakatan gencatan senjata.
Fase Pertama perjanjian sebenarnya telah menggariskan aturan main yang jelas: penghentian kontak senjata, pertukaran tahanan, pembukaan gerbang perbatasan Rafah secara total, pemulihan jalur logistik bantuan, serta penarikan mundur sebagian pasukan Israel.
Namun, alih-alih mematuhi cetak biru tersebut, Israel justru melakukan operasi pengabaian yang sistematis. Jalur Gaza terus digempur lewat kombinasi serangan udara, tembakan artileri, dan operasi penetrasi darat baru, sementara keran bantuan kemanusiaan hancur disumbat.
[KENDALI TERITORIAL JALUR GAZA (JUNI 2026)]
Klaim Pidato Netanyahu : [ ████████████████░░░░ ] 50% - 70% Target
Data Riil Lapangan (Anadolu): [ ██████████████████░░ ] >60% Wilayah Diduduki
Dampak dari pengingkaran sepihak ini sangat mengerikan. Berdasarkan catatan berkala, rentetan pelanggaran harian yang dilakoni IDF pasca-perjanjian telah menewaskan sedikitnya 961 warga Palestina dan melukai 3.020 lainnya.
Bahkan, data lapangan yang dirilis Kantor Berita Anadolu menunjukkan fakta yang lebih brutal dari sekadar klaim politik Netanyahu: militer Israel saat ini secara de facto telah mencengkeram lebih dari 60 persen total luas wilayah Jalur Gaza.
Ekspansi ke Utara: Bumi Hangus Lebanon Selatan
Ambis teritorial Tel Aviv ternyata tidak mandek di perbatasan Gaza. Dalam rapat kabinet yang sama, Netanyahu dengan jemawa mengumumkan bahwa pasukannya berhasil merebut Istana Sang Kuno (Gala’at al-Shaqif / Kastel Beaufort), sebuah benteng strategis di dataran tinggi Lebanon Selatan. Seperti biasa, dalih temuan infrastruktur bawah tanah rahasia milik Hizbullah langsung dilemparkan ke hadapan publik.
Netanyahu mengklaim militer Israel telah mengeliminasi sedikitnya 350 milisi Hizbullah dalam kurun waktu sepekan terakhir saja. Melalui pernyataan bersama dengan Menteri Pertahanan Israel yang baru, Israel Katz, Netanyahu menegaskan bahwa Angkatan Udara mereka masih akan rutin mengirimkan jet tempur untuk meratakan kantong-kantong pemukiman di pinggiran selatan Beirut (Dahiyeh).
“Kami tidak akan membiarkan wilayah dan komunitas kami menjadi sasaran. Kami akan bertindak berdasarkan prinsip itu tanpa batas waktu.” — Benjamin Netanyahu & Israel Katz
[KORBAN AGRESI MILITER ISRAEL DI LEBANON]
(Maret 2026 - Pertengahan Juni 2026)
Tewas : [ ██████████ ] 3.593 Jiwa (Data Resmi)
Luka : [ ████████████████████████████ ] 10.990 Orang
Pengungsi: > 1.000.000 Jiwa (Eksodus Massal)
Eskalasi militer di Lebanon ini sebenarnya telah meroket secara masif sejak gelombang agresi baru diluncurkan pada 2 Maret lalu. Data resmi otoritas kesehatan Lebanon mencatat angka kelam: 3.593 orang tewas dan 10.990 lainnya luka-luka, ditambah gelombang pengungsian masif yang memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon angkat kaki dari rumah mereka.
Pendudukan Israel di Lebanon Selatan memiliki akar sejarah yang panjang dan rumit. Sebagian wilayah dicengkeram selama berdekade-dekade, sebagian lagi dicaplok pasca-perang besar periode 2023–2024.
Namun dalam agresi terbaru ini, unit-unit lapis baja IDF telah merangsek masuk hingga radius lebih dari 10 kilometer menembus batas kedaulatan Lebanon. Ini adalah penetrasi darat paling dalam yang dilakukan Tel Aviv dalam kurun waktu 25 tahun terakhir—sejak pasukan mereka dipukul mundur dari wilayah selatan Lebanon pada tahun 2000 silam.
Di pertengahan tahun 2026 ini, potret Timur Tengah kian benderang: dari Gaza hingga Beirut, hukum internasional sedang ditekuk di bawah laras senapan, sementara meja perundingan hanya dijadikan tameng untuk memperluas peta pendudukan.










