Pasukan Israel memaksa puluhan keluarga Palestina meninggalkan rumah mereka di kawasan Al-Jaladah dan Ain Deir Baha, Kota Hebron, Tepi Barat, pada Sabtu. Warga harus melewati pemeriksaan dan interogasi sebelum keluar melalui tiga jalur yang ditentukan militer. Operasi yang disebut akan berlangsung selama beberapa hari itu digelar sehari setelah serangan bersenjata di pos militer Israel di sebelah barat kota.
Rekaman yang beredar di sejumlah platform Palestina memperlihatkan keluarga-keluarga meninggalkan rumah pada malam hari dengan berjalan kaki. Sebagian warga membawa barang-barang yang masih bisa mereka selamatkan. Pasukan Israel memasuki kawasan tersebut dengan puluhan kendaraan militer, disertai buldoser.
Rekaman lain memperlihatkan tentara Israel menyampaikan perintah melalui pengeras suara kepada warga di Ain Deir Baha agar mengumpulkan barang-barang mereka dan segera mengosongkan rumah.
Sumber Al Jazeera menyebut sekitar 300 keluarga Palestina di kawasan Al-Jaladah sedang menunggu giliran untuk dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.
Koresponden Al Jazeera, Muhammad al-Atrash, juga melaporkan bahwa pasukan Israel memasang tanda pada rumah-rumah yang telah dikosongkan di Ain Deir Baha. Dalam rekaman yang disiarkan saat peliputan, sejumlah rumah terlihat memiliki tanda berbentuk huruf X pada dindingnya. Sebuah rumah bahkan dipasangi beberapa bendera Israel.
Menurut sumber-sumber lokal, pasukan Israel mengosongkan puluhan rumah di sekitar kediaman kedua pelaku serangan di Hebron. Mereka mengepung rumah salah seorang pelaku di kawasan Al-Jaladah dan mulai melakukan pembongkaran. Ratusan keluarga di Ain Deir Baha dan sekitarnya juga diperintahkan meninggalkan rumah.
Pasukan Israel turut mengambil posisi di depan kantor polisi Palestina di kota itu. Mereka kemudian menyerbu sejumlah kawasan lain, termasuk Bundaran Al-Jaladah dan Nimra, serta menggeledah rumah-rumah warga.
Wali Kota: Hukuman Kolektif untuk Kepentingan Pemilu
Wali Kota Hebron mengatakan pasukan Israel telah mengosongkan kawasan Al-Jaladah dan Deir Baha sehari sebelumnya. Sekitar 2.200 warga Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka.
Dalam keterangannya kepada Al Jazeera, ia menilai kebijakan Israel semakin jelas mengarah pada penerapan hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina. Menurut dia, langkah Netanyahu untuk mengusir warga dari Hebron juga dimanfaatkan demi kepentingan politik menjelang pemilu Israel.
Wali kota itu mengatakan Israel telah menutup seluruh akses masuk dan keluar kota. Akibatnya, warga tidak dapat bergerak dengan leluasa, sementara ratusan pabrik terpaksa menghentikan kegiatan akibat penutupan tersebut.
Pasukan Israel juga mengusir seluruh pegawai Masjid Ibrahimi dan menutup pintu-pintu kompleks masjid. Kebijakan itu membuat jemaah tidak dapat melaksanakan salat di sana.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah kota menyatakan kondisi kemanusiaan di Hebron semakin sulit. Berbagai instansi setempat bekerja sepanjang waktu untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
Operasi Militer Berlangsung Beberapa Hari
Militer Israel mengumumkan dimulainya operasi di Hebron pada Jumat malam. Operasi itu melibatkan badan keamanan dalam negeri Shin Bet, pasukan penjaga perbatasan, dan administrasi sipil Israel.
Menurut militer, operasi difokuskan pada kawasan asal kedua pelaku serangan. Pasukan melakukan penggeledahan besar-besaran untuk mencari senjata dan apa yang mereka sebut sebagai infrastruktur terorisme. Puluhan orang yang dicurigai juga akan diperiksa.
Militer Israel menyatakan operasi tersebut bertujuan mengubah kondisi keamanan di kawasan itu dengan menghancurkan apa yang mereka sebut sebagai bangunan dan infrastruktur ilegal di sekitar lokasi baku tembak.
Langkah tersebut merupakan kelanjutan dari operasi yang dimulai pada Jumat, ketika pasukan Israel mengepung Kota Hebron dan Halhul. Militer juga melakukan pemetaan teknis terhadap rumah kedua pelaku sebagai persiapan untuk menghancurkannya.
Pada saat bersamaan, buldoser Israel merobohkan sebuah bangunan tempat tinggal yang terdiri atas tiga unit apartemen di kawasan Farsh al-Hawa, sebelah barat Hebron. Sejumlah toko dan fasilitas industri turut dihancurkan, termasuk pabrik ubin dan keramik serta toko suku cadang mobil. Pasukan Israel juga meratakan sekitar tujuh dunam lahan, setara 7.000 meter persegi.
Operasi tersebut berlangsung beberapa jam setelah Netanyahu, saat mengunjungi Hebron, mengancam akan mengosongkan kawasan tempat kedua pelaku berasal dan memasuki seluruh rumah di sana. Ia mengatakan Israel akan menerapkan langkah-langkah serupa dengan operasi yang sebelumnya dilakukan di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat bagian utara.
Pengepungan Melumpuhkan Aktivitas di Hebron
Pasukan Israel memberlakukan penutupan menyeluruh di Provinsi Hebron. Pintu-pintu masuk dan gerbang besi yang menjadi akses menuju wilayah itu ditutup, sehingga pergerakan warga dan kendaraan lumpuh.
Sejumlah sekolah dan perguruan tinggi menghentikan kegiatan. Serikat pekerja transportasi juga menyerukan penghentian pergerakan kendaraan demi menjaga keselamatan warga di pos-pos pemeriksaan militer.
Masjid Ibrahimi ditutup bagi jemaah. Pada Jumat, warga tidak dapat melaksanakan salat Jumat di kompleks tersebut. Pasukan Israel juga mengusir pegawai dan penjaga masjid yang berada di bawah Kementerian Wakaf Palestina.
Sebagai respons terhadap krisis, Pemerintah Kota Hebron mengaktifkan rencana darurat menyeluruh. Pemerintah setempat menyiapkan pusat-pusat penampungan bagi keluarga yang terpaksa mengungsi, mengoperasikan pusat komando selama 24 jam, serta meningkatkan kesiapan petugas layanan air, listrik, dan fasilitas umum.
Pemerintah kota menyatakan akan terus bersiaga hingga keadaan darurat teratasi.

Penggerebekan dan Penculikan Meluas ke Tepi Barat
Di luar Hebron, pasukan Israel juga memperluas operasi ke sejumlah wilayah Tepi Barat.
Koresponden Al Jazeera melaporkan pasukan Israel menyerbu 15 kota dan desa serta menculik sejumlah warga Palestina. Sementara itu, militer Israel menyatakan sedang melakukan operasi di puluhan lokasi di berbagai wilayah Tepi Barat.
Penggerebekan antara lain berlangsung di Desa Arraba, barat daya Jenin, tempat sejumlah pemuda Palestina diculik. Pasukan Israel juga menyerbu Desa Jalud dan Qaryut, di selatan Nablus, serta menggeledah sejumlah rumah.
Operasi serupa dilaporkan terjadi di Kota Jericho dan Kamp Pengungsi Aqabat Jabr, di bagian timur Tepi Barat.
Gelombang operasi ini menyusul serangan bersenjata di pintu masuk barat Hebron pada Jumat pagi. Serangan terhadap pos militer Israel itu memicu baku tembak selama lebih dari 20 menit. Kedua pelaku Palestina gugur, sementara dua tentara Israel tewas dan sejumlah lainnya terluka.
Pemerintah Palestina Kecam Hukuman Kolektif
Pemerintah Palestina memperingatkan bahwa eskalasi Israel di Tepi Barat semakin berbahaya. Dalam pernyataannya melalui Pusat Komunikasi Pemerintah, pemerintah menyebut Hebron tengah menghadapi serangkaian tindakan hukuman kolektif, mulai dari pengusiran penduduk dari kawasan permukiman, penghancuran rumah dan fasilitas usaha, hingga penutupan kota serta pengepungan wilayah.
Pemerintah Palestina menilai tindakan tersebut merupakan bagian dari kebijakan sistematis Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Pernyataan itu juga menyoroti dampak operasi militer sebelumnya di kota-kota dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat bagian utara. Sejak awal 2025, lebih dari 40 ribu warga Palestina dilaporkan terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengusiran dan penghancuran bangunan.
Pemerintah Palestina menyatakan Israel bertanggung jawab penuh atas eskalasi yang telah meluas ke seluruh provinsi. Menurut pemerintah, tindakan tersebut tidak akan membawa keamanan bagi siapa pun.
Mereka mendesak masyarakat internasional segera turun tangan untuk menghentikan serangan. Pemerintah Palestina juga menyatakan terus memantau situasi di Hebron, mengerahkan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan warga, dan menjalin komunikasi dengan berbagai pihak guna menghentikan tindakan Israel.
Wakil Presiden Palestina Hussein al-Sheikh turut mengecam kebijakan hukuman kolektif tersebut. Ia menegaskan bahwa tindakan Israel terhadap warga Palestina harus mendapat kecaman internasional yang jelas, disertai langkah serius untuk menghentikannya dan meminta pertanggungjawaban para pelaku sesuai hukum internasional.
“Tidak boleh satu bangsa secara keseluruhan terus menjadi sandera kebijakan hukuman kolektif,” ujarnya.
Netanyahu Ancam Otoritas Palestina
Di tengah operasi militer di Hebron, Netanyahu kembali mengeluarkan ancaman terhadap Otoritas Palestina. Ia mengatakan sebuah “kejutan yang sangat besar” tengah menanti otoritas tersebut setelah dirinya memerintahkan operasi militer di kota itu.
Dalam wawancara dengan saluran televisi i24NEWS pada Jumat malam, Netanyahu tidak menjawab secara langsung ketika ditanya apakah ia berniat membubarkan Otoritas Palestina. Ia hanya mengatakan lebih menyukai pendekatan yang mengandalkan unsur kejutan.
“Kami telah mengubah Timur Tengah. Saya mengatakan bahwa kami akan membawa perubahan, dan itulah yang telah kami lakukan,” kata Netanyahu.
Pernyataan tersebut muncul beberapa hari sebelum pemilihan parlemen Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 27 Oktober 2026. Netanyahu tetap menolak gagasan pembentukan negara Palestina, sikap yang juga dipegang pesaing utamanya, Gadi Eisenkot.
Pengusiran keluarga-keluarga Palestina dari Hebron, penghancuran bangunan, dan penutupan wilayah kini berlangsung bersamaan dengan ancaman Netanyahu terhadap Otoritas Palestina. Bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan akses terhadap layanan dasar, operasi militer itu bukan hanya membatasi pergerakan, tetapi juga memperdalam krisis kemanusiaan di salah satu kota utama Tepi Barat.
Sumber: Al Jazeera









