GAZA — Serangan Israel di sejumlah wilayah Jalur Gaza menyebabkan delapan warga Palestina syahid dan melukai sejumlah lainnya. Universitas Islam di Kota Gaza turut menjadi sasaran dua serangan udara, tiga orang syahid dan sejumlah mahasiswa jadi korban serta warga yang mengungsi di kompleks kampus tersebut.

Serangan terbaru itu terjadi ketika Gaza masih menghadapi bencana kemanusiaan akibat perang genosida Israel yang memasuki tahun keempat. Meski gencatan senjata telah diberlakukan, serangan udara, tembakan, dan penghancuran bangunan masih berlangsung di berbagai wilayah.

Sumber medis melaporkan Hamdan Salman Abu Amra, 33 tahun, syahid akibat serangan yang menyasar wilayah timur Deir al-Balah, Gaza tengah. Menurut sumber setempat, sebuah pesawat nirawak Israel menyerangnya ketika berada di kawasan Al-Mazraah.

Di Gaza selatan, Kompleks Medis Nasser melaporkan dua warga Palestina syahid dan lima lainnya terluka akibat serangan Israel di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis.

Serangan juga menyasar Universitas Islam di Kota Gaza. Dua serangan udara Israel menghantam kompleks kampus tersebut dalam waktu yang berbeda. Tiga warga Palestina syahid, sementara sejumlah lainnya terluka. Sebagian besar korban luka dilaporkan merupakan mahasiswa, termasuk beberapa orang dalam kondisi kritis.

Sumber setempat menyebut sebuah pesawat nirawak Israel menyerang kerumunan mahasiswa di dalam kompleks universitas. Serangan itu menimbulkan kepanikan, tidak hanya di kalangan mahasiswa, tetapi juga warga Palestina yang mengungsi di kampus tersebut setelah rumah mereka hancur akibat perang.

Pihak universitas kemudian mengumumkan penghentian kegiatan akademik dan administrasi di kampus Kota Gaza pada Ahad menyusul serangan tersebut.

Seorang warga Palestina lainnya juga dilaporkan syahid akibat serangan di Kota Gaza.

Di Gaza utara, tim medis membawa seorang warga yang mengalami luka tembak di kaki ke Rumah Sakit Lapangan Al-Shamal. Korban terluka setelah pasukan Israel melepaskan tembakan di kawasan Al-Faluja, sebelah barat Kamp Jabalia.

Menurut sumber setempat, militer Israel juga melakukan dua operasi peledakan terhadap rumah dan bangunan pada dini hari di kawasan yang berada dalam jangkauan pengerahan pasukannya, tepatnya di lingkungan Al-Tuffah, Gaza timur.

Sementara itu, di Khan Younis, Gaza selatan, seorang perempuan mengalami luka sedang akibat tembakan Israel. Artileri Israel juga menembaki sejumlah kawasan di bagian timur dan selatan kota tersebut. Kapal-kapal perang Israel turut melepaskan tembakan dan meluncurkan proyektil ke arah pesisir Khan Younis.

Gencatan Senjata yang Terus Dilanggar

Serangan terhadap Universitas Islam dan sejumlah wilayah lain di Gaza berlangsung di tengah laporan berlanjutnya korban dari kalangan pelajar.

Pada Sabtu, Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Gaza menyatakan bahwa militer Israel telah membunuh 10 pelajar sekolah dan seorang guru dalam kurun beberapa hari. Kementerian itu mendesak masyarakat internasional menghentikan pelanggaran terhadap anak-anak dan pelajar Palestina serta menjamin perlindungan mereka.

Dalam pernyataannya, kementerian menyebut 10 pelajar dan seorang guru tersebut tewas akibat serangan Israel selama periode 18–24 Oktober.

Salah satu korban adalah Fatima al-Bayouk, anak perempuan berusia delapan tahun. Ia meninggal dalam beberapa jam terakhir setelah mengalami luka akibat tembakan Israel di sebelah timur Deir al-Balah beberapa hari sebelumnya.

Rangkaian serangan itu menunjukkan bahwa kekerasan masih berlangsung di berbagai bagian Jalur Gaza. Kawasan permukiman dan sekitar tempat penampungan pengungsi tetap terancam, sementara serangan artileri, penghancuran bangunan, dan tembakan pasukan Israel terus dilaporkan.

Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata telah menyebabkan 1.547 warga Palestina syahid dan 5.559 lainnya terluka.

Angka tersebut menambah panjang daftar korban sejak Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada Oktober 2023. Lebih dari 74 ribu warga Palestina dilaporkan tewas dalam perang tersebut, sementara lebih dari 175 ribu lainnya terluka.

Dampak perang juga terlihat dari kehancuran infrastruktur sipil. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza mengalami kerusakan. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa memperkirakan biaya pemulihan serta rekonstruksi wilayah itu mencapai US$71,4 miliar.

Sumber: Al Jazeera dan kantor berita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here