YOGYAKARTA — Pagi baru saja merambat di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Ahad, (25/10). Angin segar menyapa ribuan pasang kaki yang bersiap di garis start. Di balik riuh langkah, seruan kemanusiaan bergema mengitari benteng bersejarah Kraton Yogyakarta melalui ajang Run For Palestine.

Sekitar 1.000 peserta dari berbagai kalangan (mulai dari remaja dengan stiker bendera di pipi, orang tua berbusana putih lengkap dengan syal keffiyeh, hingga keluarga muda) menyemut memadati jalanan. Mereka bergerak bersama dari Titik Nol, mengitari kawasan Kraton, dan kembali melintasi garis finish di bawah gerbang balon raksasa Run For Palestine.

Usai peluh mengucur di garis akhir, suasana olahraga berubah menjadi panggung orasi kemanusiaan.

Forum Ukhuwah Islamiyyah (FUI) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar aksi kepedulian bertajuk “Orasi Palestina: Palestine Will Be Free” yang berlangsung hingga pukul 09.00 WIB.

Kritik Kemanusiaan dan Isu Lingkungan
Di tengah kerumunan, beragam poster dibentangkan. Salah seorang remaja memegang poster hitam bertuliskan “DICARI RASA EMPATI YANG HILANG”, sementara peserta lain membawa poster protes berbahasa Inggris bertuliskan “I HATE YOU ISRAEL”.


Ibu-ibu berbusana putih dan hitam mengacungkan tinju ke udara seraya memekikkan takbir.

Tokoh nasional, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), tampil di panggung utama sebagai orator kunci. Dengan kacamata dan syal bermotif Palestina serta batik di pundaknya, UBN menunjuk ke arah massa dengan nada tegas.

Dalam orasinya, ia menyerukan agar umat Islam dan masyarakat luas tidak berhenti menyuarakan kemerdekaan rakyat Palestina dari penjajahan zionis Israel.

Tidak hanya soal Palestina, panggung orasi juga dimanfaatkan para tokoh untuk menyuarakan isu-isu lokal yang mendesak, salah satunya ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang masih membayangi sejumlah wilayah di Indonesia.

Isu lingkungan ini diangkat sebagai pengingat bahwa kepedulian terhadap bumi dan sesama manusia adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.











