JAKARTA — Ruang kelas dan selasar sekolah hari ini tidak lagi steril dari ancaman intoleransi. Di tengah kepungan era digital yang acap kali menyemburkan stereotip, prasangka, hingga ujaran kebencian, kemampuan generasi muda untuk menghargai perbedaan kini diuji di titik nadir.
Merespons urgensi nyata tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) bergerak ke lapangan. Mereka menggelar program penguatan karakter bertajuk “Edukasi Nilai Hak Asasi Manusia tentang Toleransi dalam Menumbuhkan Sikap Saling Menghargai di Lingkungan Sekolah” di SMP Negeri 26 Jakarta.
Langkah ini merupakan ikhtiar mendesak untuk memperkokoh pemahaman siswa mengenai nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM). Melalui program ini, para siswa ditempa agar mampu membentengi diri dan mencetak lingkungan sekolah yang inklusif, aman, serta bersih dari praktik diskriminasi.
Sekolah sejatinya adalah miniatur masyarakat. Di dalamnya, ratusan kepala berkumpul membawa latar belakang, karakter, dan cara pandang yang berbeda. Jika perbedaan ini tidak dikelola dengan matang sejak dini, potensi gesekan sosial di tingkat remaja sangat besar.
Dalam kacamata HAM, setiap anak yang menginjakkan kaki di sekolah memiliki hak yang sama untuk dihormati dan diperlakukan adil. Edukasi ini mencoba mendobrak pola pikir lama, menegaskan kepada para siswa bahwa menghargai perbedaan bukan sekadar kewajiban moral yang normatif, melainkan bentuk penghormatan mutlak terhadap hak hidup orang lain.
“Lingkungan sekolah yang harmonis itu baru bisa tegak kalau tiap individu mau menerima perbedaan dan menjunjung tinggi rasa saling menghargai. Toleransi itu bukan berarti kita harus seragam atau menghilangkan perbedaan, tapi bagaimana kita belajar hidup berdampingan secara damai,” ujar salah satu perwakilan tim pengabdi Universitas BS, Yusra Aras.
Membedah ‘Bullying’ Melalui Ruang Interaktif
Penyampaian materi tidak berjalan searah alias menjemukan. Tim pengabdi justru mengajak siswa membedah berbagai kasus riil yang kerap terjadi di lingkaran remaja. Diskusi kelompok dan sesi tanya jawab berlangsung hidup saat para siswa diajak merefleksikan perilaku intoleran yang tanpa sadar sering mereka lakukan di sekolah.
Kasus-kasus seperti perundungan (bullying), ejekan yang berbau SARA, hingga aksi pengucilan dalam pergaulan sehari-hari dikuliti satu per satu. Pendekatan partisipatif ini memaksa ego siswa luruh dan merangsang empati sosial mereka secara langsung.
Jika meminjam teori pembelajaran sosial Albert Bandura, perilaku manusia itu sebetulnya tumbuh dari proses pengamatan dan pembiasaan di lingkungannya. Di sinilah sekolah memegang peran krusial. Karakter toleran tidak bisa lahir instan, ia harus dibentuk lewat interaksi sosial yang sehat dan positif setiap harinya di sekolah.
Benteng Kritis Melawan Provokasi Digital
Tantangan terbesar merawat toleransi hari ini justru datang dari gawai di tangan para siswa. Arus informasi tanpa saring di media sosial kerap kali memuntahkan narasi diskriminatif yang mampu meracuni alam bawah sadar remaja dalam sekejap.
Bukan itu saja, perbedaan karakter dan ketimpangan pengalaman sosial dari masing-masing siswa membuat proses penanaman sikap toleran ini tidak selalu mulus. Tidak semua anak berangkat dari latar belakang keluarga yang terbiasa menghadapi keberagaman.
Oleh karena itu, pendidikan HAM di sekolah tidak boleh kaku. Ia harus hadir sebagai pemantik kesadaran kritis siswa, sekaligus instrumen untuk memperkuat pertahanan moral mereka saat berselancar di dunia maya. Beruntung, komitmen penuh dari pihak SMPN 26 Jakarta menjadi modal kuat agar kultur toleransi ini bisa mengakar secara berkelanjutan.
Mencetak Generasi yang Manusiawi
Universitas BSI memandang program ini sebagai bukti sahih bahwa perguruan tinggi harus terlibat aktif dalam urusan sosial-kemanusiaan di tingkat akar rumput. Pendidikan yang sejati tidak boleh hanya sibuk mencerdaskan otak dan mengejar nilai akademik, tapi abai dalam membentuk manusia yang memanusiakan sesamanya.
Keberhasilan program edukasi ini nantinya tidak diukur dari seberapa hafal siswa terhadap pasal-pasal HAM, melainkan dari tindakan konkret mereka di lapangan. Berani menolak aksi diskriminasi, merangkul teman tanpa memandang sekat latar belakang, serta aktif bekerja sama adalah indikator utamanya.
Toleransi bukanlah hafalan mati di dalam buku teks yang diujikan saat semesteran. Ia adalah pilihan sikap hidup yang harus dipraktikkan setiap detik. Dari ruang-ruang kelas di SMPN 26 Jakarta ini, benih kemanusiaan itu disemai, menjadi modal berharga bagi masa depan bangsa yang lebih inklusif dan damai.










