KAMP AL-MAGHAZI — Di atas kasur tipis di Kamp Pengungsian Al-Maghazi, Gaza tengah, Sila Abu Karim (6 tahun) berusaha tetap duduk. Namun, cara duduk Sila tak lagi seperti anak-anak seusianya. Tulang belakangnya tak sanggup lagi menopang tubuh ringkih itu. Punggungnya melengkung tajam hingga kepalanya nyaris menyentuh perut.
Sila Abu Karim menahan sakit akibat cedera tulang belakang. Sumber: Facebook
Kondisi fisik bocah ini menggambarkan betapa parahnya dampak luka serangan militer. Sila, yang tadinya dikenal lincah dengan bobot tubuh sekitar 25 kilogram, kini tampak begitu kurus. Berat badannya merosot drastis hingga tersisa 13 kilogram saja dalam beberapa bulan terakhir.
Mala petaka ini bermula pada 29 Januari 2026. Saat itu, Sila sedang asyik bermain di depan rumah keluarganya di Kamp Al-Maghazi. Tanpa diduga, rudal yang dilepaskan jet tempur Israel menghantam area pemukiman tersebut.
Serpihan ledakan menghantam tepat di bagian punggungnya, merusak tiga ruas tulang belakang sekaligus menggores saraf tulang belakang (spinal cord).
Seketika itu pula, sinyal saraf ke bagian bawah tubuhnya terputus. Sila kehilangan kemampuan bergerak pada kedua kakinya, sekaligus kehilangan kontrol atas fungsi pembuangan tubuhnya.
Sistem Kesehatan Gaza Lumpuh, Operasi Tertunda
Ibu Sila mengungkapkan, sejak jam-jam pertama pascakejadian, tim medis sebenarnya sudah menegaskan bahwa Sila butuh operasi darurat dan sangat presisi. Operasi tersebut diperlukan untuk membersihkan sisa serpihan rudal sekaligus menstabilkan posisi tulang belakangnya.
Namun, harapan itu membentur dinding tebal. Lumpuhnya fasilitas kesehatan di Jalur Gaza serta ketiadaan alat bedah spesialis membuat penanganan medis tak bisa dilakukan. Kasus Sila akhirnya dimasukkan ke dalam daftar rujukan “pengobatan di luar negeri”, sebuah proses panjang yang bergantung pada izin keluar yang tak kunjung terbit dan tanpa kepastian waktu.
Penundaan tindakan medis akibat penantian panjang ini berujung komplikasi serius. Ruas tulang belakangnya mengalami pergeseran yang disusul kelemahan ekstrem pada otot batang tubuh. Punggung Sila pun makin miring ke sudut yang tajam, membuatnya mustahil bisa bersandar secara normal.
Rasa sakit yang hebat terus membayangi keseharian Sila. Rasa nyeri itu baru bisa berkurang jika ia mengonsumsi dosis obat penahan rasa sakit kuat dan penenang, jenis obat yang umumnya diberikan untuk pasien dewasa pascaoperasi besar atau amputasi.
Kepolosan di Tengah Krisis Kemanusiaan

Meski harus menanggung vonis medis yang berat dan rasa sakit yang tak kunjung reda setiap malam, benak bocah berusia enam tahun itu belum sepenuhnya memahami keterbatasan fisiknya. Harapan dan mimpinya masih terangkum dalam ungkapan kepolosan khas anak-anak.
“Aku cuma ingin main lagi sama teman-temanku. Aku juga mau bantu Mama kalau disuruh beli roti atau makanan,” tutur Sila polos.
Kini, nasib Sila menggantung di antara berkas medis yang tertahan akibat perbatasan yang tertutup rapat, antrean rujukan yang mengular, dan kondisi fisik yang makin menyusut dari hari ke hari. Tanpa akses pengobatan yang cepat, ia berada dalam ancaman kerusakan saraf dan struktur tubuh permanen yang tak lagi bisa disembuhkan.
(Sumber: Al Jazeera)










