KHAN YOUNIS — Di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis, Gaza selatan (tempat yang kini identik dengan deretan tenda lusuh, kecemasan, dan gelombang pengungsian tak berkesudahan) sebuah pemandangan tak biasa mengemuka.

Ratusan anak-anak dan remaja berkumpul. Kali ini, mereka tidak sedang mengemas sisa-sisa harta benda untuk melarikan diri dari gempuran militer, melainkan menyatukan suara merayakan keberhasilan menuntaskan hafalan Alquran.Anak-anak Gaza merayakan kelulusan hafalan Alquran di Al-Mawasi, Khan Younis, buatan AI

Di antara deretan wisudawan, ada seorang santriwati yang mengawali perjalanan menghafalnya sejak usia 13 tahun. Ketika perang berkecamuk, ia terpaksa mengungsi dari Rafah menuju Khan Younis. Namun, hantaman bom dan ganasnya kondisi pengungsian tak meluruhkan niatnya hingga seluruh ayat suci berhasil dihafalkannya.

Kisah para penghafal Alquran (hafiz) di tempat ini berkelindan erat dengan perihnya kehidupan medan perang. Salah seorang santri mengisahkan pengalaman pahit saat rudal menghantam tak jauh dari tempatnya berjalan.

Ledakan itu melemparkan tubuhnya hingga harus menjalani perawatan medis selama 45 hari di rumah sakit, termasuk tujuh hari di ruang perawatan intensif (ICU).

Kendati tubuhnya dibebat luka berat, proses menghafal tetap ia jalani. Di sela-sela antrean panjang bantuan pangan, pencarian air bersih, hingga kepindahan dari satu sekolah pengungsian ke sekolah lain, ayat demi ayat terus ia daraskan.

Duka Sebatang Kara dan Wasiat Sang Ayah

Kisah yang tak kalah memilukan datang dari seorang santriwati pengungsi lainnya. Pada 22 Februari 2024, serangan udara menghancurkan rumah keluarganya hingga rata dengan tanah. Kedua orang tua dan seluruh saudaranya gugur seketika, menyisakan dirinya sebagai satu-satunya penyintas dari keluarga tersebut.

Sebelum tragedi itu pecah, sang ayah adalah sosok yang membimbingnya menghafal Alquran dan bercita-cita melihat putrinya menjadi seorang hafizah.

Meski kehilangan seluruh anggota keluarga, ia menolak menyerah. Ia bergabung dengan halaqah pengungsian bertajuk “Generasi Wahyu Alquran” demi menunaikan impian almarhum ayahnya.

“Khataman Alquran ini saya persembahkan untuk almarhum ayah, ibu, dan saudara-saudara saya. Saya juga berterima kasih kepada keluarga paman yang terus mendampingi perjalanan ini,” ungkapnya tegar.

Nyanyian Peluru di Tengah Halaqah

Di tengah gelak bahagia acara wisuda, seorang bocah perempuan berdiri dan membacakan bait puisi yang meringkas seluruh asa mereka: “Aku akan tumbuh besar dan menjadi seperti mereka.”

Namun, atmosfer perang tak pernah benar-benar menjauh. Salah seorang pengajar mengungkapkan, bahkan ketika ayat-ayat suci berkumandang di dalam halaqah, tembakan tank-tank militer Israel kerap terdengar menyasar kawasan sekitar.

Seorang pembimbing halaqah menegaskan bahwa Gaza, meski diapit reruntuhan bangunan, akan terus melahirkan para penghafal Alquran dari balik tenda-tenda pengungsian. Menurutnya, capaian ini lahir dari dedikasi luar biasa para santri di tengah krisis kemanusiaan.

Pengorbanan itu terpancar jelas dari kesaksian seorang ibu santri yang hadir. Ia menceritakan bagaimana keluarganya telah melalui lebih dari 12 kali gelombang pengungsian, kehilangan rumah, dibayangi ketakutan, ancaman kelaparan, dan cidera fisik. Namun, di tengah semua impitan itu, putrinya tak pernah absen mendatangi tenda hafalan hingga berhasil mengkhatamkan 30 juz.

Ibu tersebut menyebut bahwa anak-anak di Gaza memang “dipaksa dewasa sebelum waktunya.” Namun di saat bersamaan, mereka berhasil mengukir prestasi luar biasa di tengah penderitaan.

Bagi warga di Al-Mawasi, prosesi wisuda hari itu bukan sekadar perayaan selesainya hafalan Alquran. Momen tersebut menjadi ikhtiar merawat sisa-sisa kehidupan: anak-anak yang terus mengaji, orang tua yang tak henti memberi dorongan, serta cita-cita sederhana yang tumbuh merambat di antara tenda-tenda pengungsian.

Di Gaza, merawat harapan agar tetap bernapas di atas reruntuhan mungkin adalah bentuk kemenangan yang paling nyata.

(Sumber: Al Jazeera)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here